
Haiii selamat pagi guyss❤️❤️
Masih part sedih
Selamat baca ya
💔💔💔💔
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terlihat sudah berkumpul keluarga besar Hadnan dan keluarga Artanegara. Mereka semua meramaikan ruang tunggu ICU. Dari kecelakaan tersebut mengakibatkan luka terbuka dikepala Gifali.
Setelah luka dijahit di IGD. Gifali harus tetap masuk ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan lebih intensif. Gifali harus tetap menunggu kedatangan Dr. Spesialis Bedah Saraf untuk memeriksanya lebih dalam.
Papa Bilmar terlihat sedang menenangkan Papa Galih yang baru saja menghajar sopir truk yang sudah menabrak buah hatinya. Ia pun sudah mengadukan ke pihak berwajib.
"Sabar Mas, tahan emosi mu..."
Mama Alika masih mendekap Mama Difa yang sedari tadi sudah pingsan beberapa kali.
"Mba, bagaimana nasib anakku, Gifa??"
Ammar masih menggenggam tangan Ganaya yang terus menangis. Gelfa dan Gemma pun juga menangis. Semua menangis, semua sakit dan semua hancur melihat salah satu bagian dari keluarga mereka sedang tergolek tidak berdaya didalam ruang ICU.
Lalu bagaimana dengan Maura dan Gadis saat ini?
Air mata terus menetes dari kedua ekor mata Maura. Ia masih duduk lemah menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit. Matanya terpejam terus mengucap nama Gifali dan memohon kepada Allah untuk kesembuhan calon suaminya. Seluruh baju Maura di bagian depan sudah berwarna merah karena darah Gifali. Maura menjadi saksi bagaiamana ia membawa Gifali menuju Rumah Sakit dan darah yang begitu banyak.
"Ra....?" Ada suara parau dari Gifa disaat ia masih setengah sadar sebelum kedua matanya terpejam kembali.
Suara rintihan sakit dan minta tolong terus menyerbak di kepalanya.
Gadis pun sama, ia tak kalah hebat dalam menangis. Wanita ini masih saja berdiri di pintu ICU untuk menunggu kapan mereka diijinkan masuk kedalam.
Mama Alika masih melihati Gadis dan Maura secara bergantian. Awalnya ia masih shock mendengar penuturan tentang awal kejadian ini semua dari Ammar.
Ya Allah kenapa bisa begini? Kenapa mereka bisa mencintai lelaki yang sama?
Mama Alika pun menoleh ke arah Maura yang masih melamun lemas tidak berdaya, terlihat cucuran air mata beserta keringat bersatu padu dalam wajahnya.
__ADS_1
Bagaimana nasib kamu setelah ini, Nak?
Batin Mama Alika begitu lirih dan terenyuh. Baru saja anaknya merasakan cinta yang indah ternyata sudah harus berakhir dalam kenestapaan.
Ayo sadarlah Gifa ! Aku menunggumu
Gadis terus berdiri dalam kecemasan dan kekhawatirannya. Berkali-kali ia menoleh ke arah Maura yang masih tertunduk lemas.
Maafkan aku Kak..
Lalu
Tiba-tiba
Maura terlihat histeris, ia memukul-mukul kepalanya dan menghentak-hentakkan kedua kakinya ke atas lantai. Ia tidak sekuat itu! Ia merasa bersalah dengan sikapnya yang keras tidak mau menuruti apa perkataan Gifali. Sehingga kecelakaan itu pun terjadi begitu saja
Papa Bilmar berlari dengan cepat mendekap Maura sebelum Mama Alika dan Ammar mau melakukan hal yang sama.
Papa Bilmar menghentikan kedua tangan Maura yang terus mau menyiksa dirinya sendiri.
"Lepasin Pah, lepasin! Ini semua salahku Pah, SALAH KU!!"
Maura terus berteriak dan mengerang. Emosinya kembali naik, Maura sangat terguncang sekarang.
"Sabar Nak, sabar. Doakan Gifa, ia pasti akan sembuh!" Papa Bilmar mencoba menenangkan Maura, menguatkan anak perempuannya yang merasa sangat menyesal.
"Kakak sayang Gifa, Pah---!" Desah Maura membuat semua hati yang hadir begitu terenyuh dan sakit.
Ganaya dan Gelfani semakin menangis tak kala ia tahu bahwa Gadis dan Maura adalah saudara sepupu.
"...Kakakku, Ammar!"
Gadis yang melihat Maura histeris, ia pun berlari untuk menghampiri sang Kakak. Ia berjongkok tepat dibawah kaki Maura.
Kedua tangannya menggenggam tangan Maura.
"Maafkan aku, Kak---" Ujar Gadis dengan linangan air mata, ia terus melihati Maura yang masih menangis diceruk leher sang ayah.
"....Bukan sama sekali keinginanku seperti ini! Tapi aku juga sayang sama Gifa, Kak! Aku mencintainya, dia tetap kekasihku Kak, Pacarku!"
Ucapan Gadis sontak membuat Mama Difa, Papa Galih terlihat tambah shock.
"Maksudnya apa Mba, mengapa anak itu berbicara seperti itu kepada Maura?"
Mama Difa menghentikan tangisannya dan melepaskan tubuhnya dari dekapan Mama Alika. Ia menatap Mama Alika dengan penuh pertanyaan.
Sebelum Mama Alika menjawab, ada suara selakan dari arah lain.
"STOP KAK!"
Ganaya mengangkat suara untuk membela Gifali yang saat ini sedang tidak berdaya didalam. Ia menghampiri dan menatap tajam ke arah Gadis. Membuat Gadis bangkit berdiri dan menatap sejajar kedua bola mata Ganaya.
"Kakaku sudah memutuskan hubungannya dengan kamu! Dia lebih mencintai Kak Maura, kenapa kamu masih tidak menerima itu!!"
"Ya Allah, Gifa! Kenapa kamu seperti itu, Nak, menyakiti dua perempuan sekaligus dalam waktu bersamaan!!"
__ADS_1
Mama Difa terlihat semakin menangis dan kembali memeluk Mama Alika.
"Gadis...."
"....Gana!"
Papa Bilmar dan Papa Galih menarik mereka dan membawanya jauh agar tidak berkelahi.
Maura mencari puing-puing kekuatan untuk menguatkan dirinya sendiri.
"AKU tidak akan pernah, MEMBAGI GIFALI kepada siapapun!! Sekalipun kamu...SAUDARAKU!" Ucap Maura dengan sangat lantang dan tegas, ia pun bangkit terus menatap Gadis dengan kilatan mata yang berkobar-kobar.
"Bisa-bisanya KAMU! Berkata seperti tadi, disaat hatiku sedang hancur karena memikirkan keselamatan GIFA!"
"Tapi aku sayang sama Gifa Kak, aku cinta sama dia----"
Ucapan Gadis begitu saja terhenti ketika Maura mendaratkan tamparan begitu saja di pipi adik sepupunya.
Pakk.
"DIAM kataku! Jangan pernah lagi mengeluarkan suara sampai aku bisa bertemu dengan Gifali dalam keadaan sehat!"
"Hanya keselamatannya yang aku fikirkan, bukan hanya sekedar CINTA! Kamu egois Gadis!"
Maura mendelikan matanya dengan tajam, wajahnya memerah. Semua yang menatap tidak menyangka jika Maura bisa marah seperti ini.
Mama Alika beringsut untuk meraih tubuh putrinya agar menjauh dari Gadis.
"Pah..." Mama Alika mengedipkan mata kepada Papa Bilmar seraya kode untuk membawa Gadis pergi dulu dari sini.
"Mah---" Maura kembali menangis dengan kencang, ia memeluk sang Mama untuk menumpahkan segala penyesalan dan kekecewaannya.
"Sabar Nak, sabar. Hanya doa dan semangat yang Gifa butuhkan saat ini!"
Mama Difa terlihat semakin terjerembab, Papa Galih pun segera datang untuk memeluknya. Kedua orang tua itu menangis bersamaan. Saling berucap parau yang tidak jelas. Mereka terus memanggil-manggil putra sulungnya.
"Kenapa jadi begini anak kita Pah?" tanya Mama Difa sambil meremas-remas baju yang tengah dipakai oleh suaminya.
Gana, Gelfa dan Gemma semakin memangis tak kala ia melihat kedua orang tuanya semakin lirih dalam kehancuran.
Orang tua mana yang tega melihat anak tengah terbaring untuk bertahan hidup. Kalau bisa mereka akan bilang untuk mengganti posisi mereka dengan sang anak.
"Biar Mama yang menderita...."
"....Biar kami yang merasakan, jangan kamu Nak!"
Gumaman itu terus mencuat dari bibir mereka, sangat mengiris hati dan merusak kalbu.
"Pah, anak kita Pah!"
"...Iya Mah."
****
Aduh pecah air mata aku guys💔
__ADS_1
Like dan Komen ya
🖤🖤🖤