
Selamat pagi guyss
Selamat baca
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maura masih menatap lesu sudut atap kamarnya. Sepertinya tulang-tulang penyangga tubuhnya ikut melemah manakala ultimatum dari sang Mama telah di tegakkan. Maura mengakui ini memang salahnya, tidak bisa menjaga kepercayaan Mama Alika.
Untung saja Maura masih dihukum dengan hal, ia tidak boleh bertemu dulu dengan Gifali sampai kelulusan bukan menghukum untuk tidak boleh menikah dengan pemuda itu.
Mungkin inilah suatu pengorbanan yang harus Maura dan Gifali lakukan. Merindu tentu hal yang sangat memberatkan.
Bunga-bunga terus bermekaran, dedaunan terus menghijau tapi tidak dengan Gifali dan Maura.
Lima hari sudah terlewati tanpa bertatap muka, cium dan peluk. Semua mereka lakukan hanya dengan video call, telepon dan whatsapp.
Satu bulan, bagi yang sudah menikah tentu menjadi waktu yang tidak terlalu lama. Tapi bagi yang masih memadu kasih, sungguh lah amat berat dan menyiksa.
Sampai hari dimana kepulangan Gifali dari Rumah Sakit saja, Maura tidak boleh menjemput atau melihatnya. Gifali pun sudah mengerti dengan keadaan Maura, ia pun menerima semua ini dengan lapang dada.
Malam ini.
"Aku kangen!"
"Aku juga, Gifa...."
"Kamu lagi mikirin aku, nggak?
"Hem..iya dong pasti Gifa...."
"Kamu udah tidur, Ra?
"..Zzztt !!"
Lalu tak lama suara dengkuran terdengar dari sebrang sana. Begitulah tiap malam Gifali akan ditinggal tidur oleh Maura.
"Kakak, belum tidur Nak?" Suara Mama dari balik pintu kamarnya membuat Gifali mendongak dari baringan tidurnya. Ia bangkit duduk diatas kasur menanti sang Mama untuk masuk dan menghampiri dirinya.
Mama pun masuk dengan segelas susu ditangannya. "Telepon Maura, Kak?"
"Iya Mah..."
"Sabar ya Kak, sebulan kan nggak lama!" Mama tetap menenangkan hati anaknya yang sedang merindu.
__ADS_1
"Tapi selama satu bulan nggak ketemu Maura, Kakak nggak kuat Mah--" Gifali mengeluh.
"Tahan sebulan untuk hidup selamanya, pilih yang mana? Kamu juga sih, pakai adegan peluk-pelukkan segala. Tante Alika kan jadi marah, Nak!"
Gifali menghela nafasnya pelan. Ia memang salah dan harus tetap menjalankan konsekuensinya.
"Mah? Papa kok aneh si sama Kakak sekarang?Apa perasaan Kakak aja ya?"
"Aneh gimana?" Tanya Mama menyelidik, seketika wajah cantik Mama Difa menegang. Ia takut suaminya mulai kalut karena memikirkan karena hasil tes DNA yang akan keluar besok.
"Papa bilang, jangan terlalu intim dengan Gelfa dan Ganaya. Karena mereka sudah besar. Takut terjadi hal apa-apa katanya, ya nggak mungkin dong, Mah. Mereka kan adik-adiku..." Jawab Gifali polos. Ia belum bisa menebak apa maksud dari sang Papa.
Jagg.
Dentuman timah panas seketika menusuk jantung dan hati Mama Difa. Begitu sakit jiwanya ketika anak kesayangannya diperlakukan seperti ini.
"Galih, mulai bermain-main denganku!" Batin Mama Difa garang.
"Mah?" Gifa menghentak bahu sang Mama yang sedang melamun.
"Oh mungkin maksud Papa tuh baik, Nak. Biar adik-adikmu nggak manja lagi sama Kakaknya--"
Gifali mengangguk percaya.
"Ya udah sekarang Kakak tidur ya, besok kan masuk sekolah lagi. Kakak harus fokus, sudah beberapa hari kan tertinggal pelajaran?"
"Iya, Mah..."
Mama Difa menarik selimut untuk menutupi tubuh anaknya. Serta mencium dahi Gifali.
"Berdoa dulu ya Nak, lalu tidur!"
Mama Difa pun memutar langkahnya untuk berlalu dari sana.
Lalu
"Jangan tinggalin Kakak ya, Mah--" Senyuman Gifa sangat menyentuh hati sang Mama.
"Iya Nak, kemanapun Gifa melangkah. Mama pasti akan ikut!" Jawab Mama Difa menyembunyikan air matanya yang ingin tumpah ruah.
"Ya udah tidur ya!"
Gifali mengangguk dan memejamkan kedua matanya kembali.
*****
"Apa sih maksud kamu?" Ucap Mama Difa menatap tajam ke arah suaminya yang masih santai memainkan layar ponselnya di tepi ranjang.
"Kamu bicara sama aku?" Papa Galih menjawab dengan nada mengejek.
Mama Difa menoleh dan melempar bantal ke arah suaminya.
"Kurang ajar kamu, Mah! Begini perlakuan kamu sama suami?"
Papa Galih melemparkan ponselnya ke lantai. Lalu menoleh ke arah istrinya.
"Lalu gimana perlakuan kamu sama aku?"
"Aku biasa aja! Malah aku selalu sabar, walau selama seminggu ini, kamu tetap gak mau berbicara denganku! Ck..hanya karena lelaki sampah itu!"
Kedua mata dan wajah Mama Difa menegang dan mengeras. Urat disekitar pelipisnya pun terlihat.
"Iya tapi kamu balas aku lewat Gifali!"
__ADS_1
Papa Galih terdiam. Ia merasa diketahui, entah mengapa semakin hari hati Papa Galih semakin kosong tentang anak lelakinya itu. Ia semakin percaya kalau Gifali memang bukanlah anak kandungnya, walau hasil tes DNA memang belum keluar. Ia jadi teringat dengan kebohongan Gita yang sudah menghancurkan nama baiknya dulu.
"Anak itu mengadu ke kamu?" Tanya Papa Galih tanpa rasa bersalah.
"Kenapa kamu sakitin dia? Kalau kamu mau marah, marah aja ke aku!"
"Dia bukan anakku, Mah----!"
"Tutup mulut kamu, GALIH! Gifali tetap anak kita!"
Papa Galih menundukkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya sebentar untuk mencari energi agar bisa berbicara tegas dengan istrinya.
"Jika hasil tes itu menyatakan aku bukanlah Papanya. Maka Gifa akan ku kembalikan kepada Malik!"
Tanpa fikir panjang lebih dalam, Papa Galih terus saja menyiksa Mama Difa dengan perkataannya yang menyakitkan hati.
Sepertinya petir saling beradu di atas kepala Mama Difa akan perkataan suaminya. Seketika wanita ini melenguh, melemah dan lunglai. Sekelibat cahaya putih tiba-tiba berubah gelap, Mama Difa memejamkan kedua matanya mendadak. Papa Galih langsung beringsut untuk mendekap sang Istri yang akan terjatuh ke bawah. Mama Difa pingsan, tidak sadarkan diri.
"Mah..Mamah?" Panggilnya.
Selamat, Papa Galih telah berhasil menghancurkan hati anak dan istrinya. Badai siap datang menerpa keluarga mereka kembali setelah besok mendapatkan berita yang mengejutkan.
****
"Aku masuk kelas dulu ya, Gifa. Kamu jangan lupa makan dan minum obat ya. I love you."
"Kamu juga ya sayang, I love you too."
Gifali mengakhiri video call dengan Maura disela-sela jam istirahat sekolah. Maura meminta jangan melakukan video call dirumah, ia takut Mama nya akan marah kembali.
Walaupun saat ini Papa Bilmar tetap bersikeras untuk mengirim Maura ke London setelah kelulusan nanti, namun sepertinya Papa Bilmar masih bisa diajak negosiasi.
Tenang, Ra. Soal Papa biar menjadi urusan Mama.
Ucapan ini lah yang menjadi patokan untuk Maura agar berani melangkah untuk meneruskan hubungan ini.
Gifali terlihat tersenyum di daun pintu kelasnya. Melihat ke akraban antara Gadis dan Elang di bangku taman. Jika dulu dirinya yang bersama Gadis, sekarang posisi itu diambil oleh Elang.
"Bagus, Lang! Sayangin Gadis ya---" Gumamnya memberi semangat jauh kepada Elang.
Mereka terlihat sedang pedekate. Walaupun mungkin Gadis belum bisa melupakan Gifali, namun ia belajar untuk mencoba menerima Elang dengan segala kebaikannya. Membuka ruang dan membiarkan Elang masuk untuk menjelajah hatinya.
****
Hubungan Mama Difa dan Papa Galih kian merenggang. Hilang sudah kehangatan diantara mereka. Masalah Gifali tentu menjadi tuan rumah yang utama. Mama Difa hanya diam tidak mau berbicara dengan suaminya. Ia hanya menjawab sepatah kata atau yang penting saja.
Sungguh memilih diam saja dihadapan suami sangatlah menyakitkan. Tapi sepertinya siang ini Mama Dif mengakhiri kebisuannya, ia terus merengek dan meminta belas kasih kepada suaminya.
Siang ini Mama Difa dan Papa Galih bergegas kembali ke rumah. Mereka sudah berhasil mengambil hasil tes DNA yang selama tujuh hari ini ditunggu dari Rumah Sakit. Semenjak pagi, Mama Difa sudah memohon kalau mereka tidak usah mengambil hasilnya.
"Pah, ayo buka..." Ucap Mama Difa kepada suaminya ketika melihat hasil DNA yang masih ada di map bersegel..
"Aku ingin membuka dan membacanya dirumah!" Jawab Papa Galih tegas, lugas dan padat.
Ia pun mulai menginjak pedal gas, untuk melesatkan lajuan mobilnya untuk pulang.
Dada Mama Difa seketika terasa sesak. Ia terlihat begitu cemas. Ia takut suaminya tambah marah jika mengetahui hasil sebenarnya. Mama Difa pun selalu berdoa jika hasilnya seratus persen sama.
Tapi mengingat ucapan suaminya tadi malam, Mama Difa takut jika Papa Galih akan melakukan hal yang ia ucap.
"Semoga hal ini tidak akan menjadi tragedi untuk putraku, Gifa...." Rintih Mama Difa.
*****
__ADS_1