GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Lelaki Pejantan Tangguh


__ADS_3

Selamat pagi guyss


Selamat baca


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Rasa kecewa yang masih memborbardirkan hatinya karena ulah sang Papa kemarin, membuat Maura menjadi murung berkepanjangan. Ia terus mengurung dirinya dari sejak kemarin sore sampai pagi ini. Ia bungkam tidak mau menjawab panggilan dari semua orang ketika terus mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.


Mama Alika semalaman terjaga diluar pintu kamar anaknya, ia merasa khawatir dengan sikap Maura yang terlihat frustasi dan takut akan melukai dirinya sendiri.


Papa Bilmar pun merasa semakin bersalah karena sikap kerasnya lah yang membuat Maura menjadi patah hati seperti ini. Semalaman suntuk ia bertengkar kembali dengan istrinya. Membuat ruang mereka menjadi hambar karena perseteruan panas.


Pagi ini Maura sudah berpakaian seragam dengan rapih, ia terus termenung didepan cermin. Menatap wajahnya yang terlihat sangat lesu dan pucat. Semalam tidurnya tidak nyenyak, ia terus mencoba menghubungi Gifa namun Gifa sulit untuk dihubungi. Hatinya semakin gundah, ia merasa salah karena sudah menutupi masalah ini dari Gifa.


"Aku salah, Gifa!" Meja rias terlihat bergoyang ketika Maura menggetarkan kepalan tangannya disana. Membuat deretan make up-nya jadi saling bergerak jatuh.


Drrt drrt drrt


Maura memutar bola matanya cepat untuk melihat ponselnya yang terus bergetar di meja. Ia pun meraih dan menatap siapa yang tengah menelponnya pagi-pagi.


"GIFA? Alhamdulillah...." Serunya bahagia.


Nafas kelegaan begitu saja mencuat dari bibirnya. Wajah yang sedari malam terasa gelap kini kembali terang. Memang sosok Gifa lah yang menjadi tolak ukur semangat untuk Maura.


Dengan cepat ia mengusap layar ponselnya dan seketika terdengar suara lelaki yang ia fikirkan sejak semalam sedang berbicara.


"Hallo, sayang.."


Tambah gempita hatinya ketika mendengar seruan itu kembali diucapkan. Ia tahu bahwa Gifali tidak marah kepadanya.

__ADS_1


"Hallo Gifa, semalam kamu kemana aja?"


"Aku ada kok di rumah,"


"Bukan, maksud ku. Kenapa kamu nggak bisa dihubungi?


"Oh itu, pertama kuota ku habis. Kedua aku ketiduran sampai ponsel ku lowbat..Maaf ya sayang..."


"Hemm----" Maura menghela nafasnya.


Ketika mendengar Maura hanya mendesah dengan nada sedih dengan cepat ia mengalihkan perasaan sendu itu dengan topik pembicaraan yang lain.


"Kamu udah berangkat ?"


Padahal hati Gifali saat ini masih belum baik, hatinya masih sakit karena tertusuk ucapan menyakitkan dari Papa Bilmar. Namun karena semangat dari keluarga besarnya, membuat ia tetap berani dalam melangkah untuk terus mendapatkan cintanya. Ia harus tetap bangkit.


Tentu saja dalam masalah ini bukan hanya dia yang sakit. Maura pun sama, ada wanitanya yang harus ia berikan semangat. Tentu ia adalah lelaki pejantan tangguh yang tidak boleh cengeng dan patah hati ketika semangatnya dihancurkan begitu saja. Ini merupakan pengorbanan yang harus ia lalui.


"Belum, aku masih di kamar. Aku malas ke sekolah, aku ingin ketemu kamu!"


"Nanti ya kita ketemu, jangan sekarang. Nanti Papamu marah !"


Maura bangkit dari meja rias untuk kembali berbaring di atas kasur. Ia terus menggenggam ponsel itu tepat ditelinganya. Kedua matanya terus menatap sudut atap kamarnya. Membayangkan wajah Gifali tengah menatap dirinya.


Mereka berdua tiba-tiba menjadi diam. Membeku dan membisu. Lidah mereka seolah tercekat, terutama Maura yang merasa masih malu dan merasa bersalah atas kesalahan sang Papa.


"Gifa?"


"Habis kelulusan, aku tetap mau disini sama kamu. Aku mau kita nikah..."


"Iya, Ra. Pasti! Kita tetap akan menikah !"


Yassss.


Hati Maura seketika kembali mekar. Seolah mendapatkan kekutan penuh dari ucapan Gifali. Tentu hanya sekedar ucapan, karena fakta nya belum bisa direalisasikan. Bisa saja berubah dalam hitungan detik atau menit.


"Kamu tenang aja, Ra. Jangan panik ya !"


"Tapi Gifa?" Maura seperti ingin meminta keyakinan kembali dari Gifali.


"Udah sekarang kamu berangkat ya, nanti siang aku telepon lagi."


"Benar ya?" Jawab Maura penuh keyakinan.


"Iya benar, sayang."


"Janji, kan?"


"Janji dong..."

__ADS_1


"Ya udah kamu duluan!" Maura meminta Gifali untuk melakukan salam perpisahan ditelepon seperti biasa.


"Kamu dong gantian, kan kemarin aku udah." Terdengar suara Gifa sedang terkekeh geli.


"Yaudah nih!"


"Iya aku dengerin." Gifa mengehentikan gelak tawanya.


"I miss you, i love you, muach.." Maura mengucap cepat dan jelas.


"Hehehe, love you ya..bye."


"Bye sayang..."


Tutt. Sambungan telepon mereka terputus.


Maura dan Gifa kembali mendapatkan atmosfer cinta dari segala ketakutan dan kecemasan yang mengganggu mereka dari semalam. Membuat jiwa masing-masing menjadi shock terapi.


Sungguh suara Gifali merupakan candu untuk Maura. Semangat nya kembali bangkit, ia akan berjuang bersama Gifali untuk memperjuangkan kembali restu dari sang Papa.


*****


Di kantor. Terlihat Papa Bilmar masih merebahkan tubuhnya di kursi kerja. Memejamkan kedua matanya sambil mendengarkan iringan musik piano yang sengaja ia bunyikan di dalam ruangannya. Dalam pejaman mata itu ia terus berfikir tentang Maura. Tentang kebahagiaan anak itu.


Benarkah Gifali?


Walaupun ia masih berat untuk menerima Gifali, tapi karena ingin melihat anak dan istrinya agar tidak merajuk lagi. Ia mencoba menekan dan menepis egonya. Dan siang ini ia akan berencana untuk menemui Gifali dan meminta maaf kepada anak itu. Ia tidak mau Maura mengalami rasa sakit seperti yang pernah ia rasakan dulu. Namun semua ini tentu tidak gratis, ia ingin meminta jaminan dari Gifali untuk kebahagiaan putrinya nanti.


Ia pun bangkit dari duduknya, merapihkan kemeja dan jas kantornya. Bersiap-siap untuk pergi ke sekolahan Gifali. Namun sebelum itu sekretarisnya terlebih dulu mengetuk pintu dan masuk kedalam.


"Permisi Pak. Maaf ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak."


"Siapa, Kat? Apa aku ada janji?"


"Untuk hari ini memang kosong Pak, tidak ada janji dengan siapapun."


Kening Papa Bilmar terlihat berkerut-kerut. Seraya berfikir siapakah tamu nya saat ini.


"Baiklah persilahkan saja untuk masuk, Kath!" Jawab Papa Bilmar.


Katherine mengangguk dan kembali ke luar. Tak berapa lama kemudian, ada langkah sepatu masuk kedalam ruangannya. Membuat kedua mata Papa Bilmar seketika membulat dan tidak percaya melihat sosok tamunya yang tidak akan ia sangka sama sekali untuk mendatanginya saat ini.


Papa Bilmar sepertinya tahu apa maksud kedatangan tamunya saat ini.


"Hemmm...."


*****


Maura dan Gifali nya aku nih ❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2