GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Kamu Sangat Berharga


__ADS_3

Aku kembali terus guys, maafkan🤭🤭


Selamat baca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Malam ini terlihat tubub Gifa berada ditengah-tengah kedua orang tuanya yang sedang tertidur pulas. Mama dan Papanya saling meletakan tangan mereka di atas perut Gifali. Mendekap sang anak sampai Gifa sulit untuk bernafas. Suara dengkuran pun terdengar saling beradu dari mereka tepat di kedua telinga Gifali.


Kedua lengannya terasa kebas karena menjadi bantalan untuk kepala orang tuanya. Mama Difa dan Papa Galih terlihat nyenyak ketika tidur berada di tubuh sang anak. Gifali masih terjaga semalaman, ia sulit tidur. Fikiran nya terus berputar-putar kepada sosok Maura.


Ada suatu tarikan maju mundur dari hatinya, apakah betul menikah dengan Maura adalah cara terbaik. Tentu alasan Gifa memang masuk akal, walau ia telah kembali kepada keluarga Hadnan, tapi Gifa sudah berjanji untuk tidak mau lagi merepotkan kedua orang tuanya.


Ia merasa tidak punya hak atas kekayaan keluarga Hadnan. Ia tidak mau merebut hak yang seharusnya menjadi milik Ganaya, Gelfani dan Gemma. Sudah cukup 18 tahun Gifali sudah merepotkan Mama Difa dan Papa Galih. Mungkin ia hanya punya pegangan dari warisan yang ditinggalkan oleh Bunda kandungnya.


"Warisan yang ditinggalkan Bunda pasti belum cukup untuk membiayai pernikahanku dengan Maura---Belum lagi untuk biaya kuliah, tentu aku membutuhkan dana yang sangat besar!" Batin Gifali terus menyeruak. "Aku memang belum pantas buat kamu, Ra! Belum---"


Ada saliva yang begitu saja terdorong jauh kedalam kerongkongannya. Ia terus berfikir mencari jalan terbaiknya.


Semua lamunannya terhancurkan begitu saja ketika mendengar gumaman Mamanya yang tidak jelas. Ia terus mengusap-usap punggung sang Mama untuk kembali nyenyak. Ia kecup pucuk rambut Mama dan Papanya secara bergantian.


"Makasi banyak ya, Mah, Pah--Kakak berjanji akan membuat diri Kakak sukses dan bisa membahagiakan kalian suatu hari nanti! Kakak mau bawa kalian dan adik-adik, kemanapun yang kalian suka!"


Gifali kembali mengecup kedua orang tuanya lalu melepaskan kedua tangan mereka dari perutnya. Serta meletakan kepala Mama Difa dan Papa Galih kepada bantal mereka masing-masing. Gifali pun bangkit untuk menuruni ranjang dengan merangkak pelan.


Lalu ia berbalik menatap wajah kedua orang tuanya. Meletakan tangan sang Mama diperut suaminya begitu pun tangan sang Papa yang ia letakan diperut sang Mama. Ia membuat Kedua orang tua itu tidur dalam posisi saling memeluk.


"Mama adalah segalanya buat Kakak! Walau Mama pernah salah dimasa lalu. Tapi Mama sudah membayar itu semua dengan ketidak bebasan Mama selama berbelas tahun!"


"Cukup rahasia antara Mama dan Om Malik hanya Gifa dan Papa yang tau! Gana, Gelfa dan Gemma tidak perlu tau yang sebenarnya!"


"Aib Mama, akan Kakak jaga sampai mati. Seperti hal nya Papa yang selalu menjaga nama baik Mama dihadapan kita semua..Aku cinta Mama."


Lalu ia berbalik menatap sang Papa.

__ADS_1


"Papa juga segalanya buat Kakak! Maafkan Bunda Gita Pah, karena Bunda sudah berhasil menghancurkan rumah tangga Papa dan Mama. Menjadikan aku ada ditengah-tengah keluarga kalian!"


"Demi Tuhan, aku akan menjaga Mama hanya untuk Papa seroang. Tidak akan ada lagi yang bisa merebut Mama dari Papa! Aku ingin kalian selalu hidup rukun dan bahagia!"


"Dan semoga Papa dan Mama bisa memaafkan Bundaku yang sudah sengaja membuat hidup kalian merana! Tapi sesungguhnya aku sangat bersyukur karena Bunda Gita sudah memilih jalan yang tepat untuk memberikan aku kepada kalian! Orang tua yang sangat sempurna! Mama dan Papa akan selalu ada di hati Gifa..."


"Makasi ya, Mah, Pah..."


Gifa menaikan selimut sampai ke dada mereka. Mencium kembali kening kedua orang tuanya. Ada air mata yang mencuat ketika kedua matanya terpejam lama. Ia menyesal kenapa baru sekarang mencium kening orang tuanya.


Dan mengapa harus dalam keadaan seperti ini?


"Kakak janji, akan selalu cium Mama dan Papa---Setiap hari!"


Gifa pun berlalu meninggalkan kamar Mama dan Papanya. Ia berjalan untuk menaiki anak tangga menuju kamar ketiga adiknya.


Tap.


Langkahnya terhenti didepan daun pintu kamar yang bertuliskan Gan-Gel Room disebuah gantungan karikatur spongesbob. Kamar yang sering ia masuki untuk mengecek apakah kedua adik perempuannya itu sudah tertidur jika malam tiba. Gifali rindu mereka.


Krek


Pintu pun dibuka. Terlihat Ganaya dan Gelfa sedang tertidur di ranjang masing-masing. Ranjang bersusun yang sudah di modifikasi oleh sang Papa. Gifali hanya berdiri tanpa membangunkan mereka dengan suara atau perbuatan. Ia tetap termenung melihat kedua adiknya yang sedang tertidur dengan mulut menganga.


Ia pun memutar langkahnya untuk keluar dari kamar, niatnya ia ingin mendatangi Gemma ke kamarnya. Namun sebelum langkahnya sampai di pintu, ia kembali menoleh ketika mendengar suara dari kedua adiknya memanggil.


Gana duduk berselonjor di kasur bawah sambil mengucek-ngucek kedua matanya untuk menangkap jelas bahwa Gifali bukan hanya sekedar bayangan, hantu atau sedang berjalan dalam mimpi mereka. Begitu pun Gelfa ia melakukan hal yang sama seperti Ganaya di kasur atas.


Lalu


Setelah mereka tersadar bahwa yang ia lihat itu memang Gifali. Dengan cepat mereka menyeka selimut dan loncat untuk menerjang tubuh sang Kakak.


"Kak Gifa!!" Seru mereka dengan suara histeris. Ganaya dan Gelfani menangis beriringan, mereka saling memeluk tubuh Kakak lelaki yang selalu menjadi panutan dalam hidupnya.


Tak segan kalau Ganaya dan Gelfani selalu memasang target untuk lelaki yang ingin menjadikannya pacar.


Aku akan mencari suami seperti Papa dan Kak Gifa, baiknya-cerdasnya-serta tampannya!


Gifali dan Papa Galih adalah cinta pertama untuk Ganaya dan Gelfani.


Gifali kembali sulit bernafas karena pelukan dari kedua adiknya itu terus saja mendominasi pergerakan dadanya yang menjadi terhimpit. Gifa membawa kedua adiknya untuk duduk ditepi ranjang. Merangkul mereka dan mengecup pucuk rambut mereka masing-masing.


"Kok rambut kalian agak bau ya, hahaha---"


Gifali tetap sama. Keahliannya dirumah hanya bisa menggoda para adiknya.


"Ih Kakak! Aku tadi sore udah sampoan, Kok! Gelfa tuh yang bau---Kayaknya iler nya menjalar sampai keujung rambut, hahahaha...."

__ADS_1


"Apaan sih Kak, jelas-jelas juga rambut kamu dibilang bau, bukan hanya aku!" Gelfa mencebik.


Karena ulah Gifali membuat mereka ribut, gaduh, tertawa dan saling meledek.


Mendengar ada yang ribut-ribut disebelah kamarnya, membuat Gemma terbangun. Seketika ia kaget, takut terjadi apa-apa dengan kedua kakaknya.


Selama Gifali pergi, Gemma sangat terpukul. Tidak ada lagi teman bermain bola, PS dan membantunya mengerjakan PR. Dan selama sang Kakak kabur dari rumah, Gemma bertekad akan menggantikan posisi sang Kakak untuk melindungi keluarganya. Walau ia masih sering di bully oleh kedua kakak perempuannya.


Gemma melangkah keluar dari kamarnya, ia berjalan pelan-pelan menuju kamar Gana dan Gelfa. Samar-samar semakin jelas ada suara tambahan diantara kedua kakak perempuannya yang sedang tertawa. Seketika itu pula kedua matanya membulat dan melebar. Garis senyumnya terangkat sempurna. Ia tahu pasti suara siapa yang saat ini bercaku padu dengan suara kedua Kakak perempuannya tersebut. Ia pun mendorong pintu kamar dengan cepat.


"Kak Gifa!!" Serunya dari luar lalu masuk menerjang Gifali dengan sebuah pelukan.


"Kak Gifa pulang!" Gemma terus berseru sambil memeluk Kakak lelaki yang paling ia hargai. Gifa pun mengunci tubuh sang adik.


Gemma terus saja bercuap-cuap membuat aroma nafasnya menjadi menjalar ke lubang hidung Ganaya dan Gelfa yang sedang duduk persis disamping Gifali.


"Anjim! Bau banget mulutnya----!!" Seru Gelfa sambil menutup lubang hidungnya.


"...Iya ih bau banget! Habis bangun tidur, apa habis makan bangke sih!" Ganaya berdecak kesal, sambil menutup lubang hidungnya juga.


Gemma melepas pelukan dari tubuh Gifali. "Emang bau ya?" Gemma dengan sengaja meluapkan aroma nafas kepada wajah mereka bertiga.


"Iya Gem! Bau banget!" Gifali menarik kerah bajunya untuk menutup lubang hidungnya.


"Bau apa sih, aneh---" Gemma memutar bola matanya jenga.


"Bau Jigong, Gemma!" Sahut Ganaya


"Iya tuh jigong kamu bau banget!" Sambung Gelfani.


Tanpa menunggu lama Gemma kembali meluapkan aroma nafasnya kepada wajah para Kakaknya. Ia pun tertawa terpingkal-pingkal karena sudah menggoda ketiga Kakaknya.


"Ayo Kak, kita ikat Gemma!" Seru Gelfa. Membuat Gifali dan Gana bangkit untuk memegangi tubuh Gemma yang ingin kabur dari sana. Namun tubuhnya yang kecil tidak akan bisa lolos dari ketiga Kakaknya.


"Iya kita ikat aja. Buang aja ke laut!" Seru Ganaya. Mereka berempat pun tertawa kembali sambil menggelitik perut Gemma.


Tentu pemandangan seperti ini tidak lagi timbul selama kepergian Gifali dari rumah. Gifali adalah anak yang bisa membawa keceriaan serta warna didalam keluarganya.


Bahagia lah selalu, Putra Gifali Hadnan. Kamu berharga❤️


****


Tiga episode untuk hari ini, berikan aku komen dan like yang banyak kalau kalian memang ingin cerita ini terus berlanjut


Kita harus tetap menikah ya, Gifa!❤️


__ADS_1


__ADS_2