
Haiii selamat pagi
Selamat beraktivitas yaa
Selamat baca guyss
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
Jam dinding terus berdetak, saat ini waktu sudah menunjukan pukul 02:00 pagi. Terlihat Gadis dan Maura sudah duduk didepan pintu Bank darah Rumah Sakit. Karena beberapa menit yang lalu Gadis dengan baiknya mau mendonorkan darah untuk Gifali.
Hanya ada keheningan diantara dua wanita ini. Yang biasanya mereka akan saling memeluk dan merangkul, melepas beban dan menyemangati kala disalah satu susah. Kini itu semua tidak nampak lagi. Mereka sama-sama terdiam dalam mode kekecewaan.
"Ayo minum dulu..."
Maura menyodorkan sekotak susu ke pada Gadis. Memberikannya tanpa menatap membuat hati Gadis sedikit terenyak. Maura pun tidak membayangkan jika perjalanan cintanya akan seperti ini.
Ia tahu pasti bagaimana cinta Gadis selama ini kepada kekasihnya, tetapi ia tidak tahu jika kekasih Gadis itu adalah kekasihnya juga.
Setiap mengingat itu, hati Maura terasa sakit.
"Tega-teganya kamu membohongi aku Gifa---"
"..Mengapa sahabat kecil Kakak, harus Gifa?
"Kenapa harus Gadis yang kamu pacari..??"
"....Kenapa harus Kak Maura, Gifa??"
"Bagaimana hubungan kita setelah ini, Gifa? Selamanya aku akan mengoleskan luka di hati Gadis---"
"...Apakah aku kuat jika melihatmu menikah dengan dengan Kakakku, Gifa?"
"Aku bimbang mempertahankan hubungan ini, Gifa! Hubungan keluarga kami pasti akan rusak! Apa aku bisa meninggalkan kamu sayang? Aku terlalu mencintaimu, Gifa----"
"....Tapi aku akan mencoba melepas kamu untuk Kak Maura, Gifa! Aku akan belajar!"
Batin Maura dan Gadis saling beriringan menggusar hati mereka masing-masing. Tidak menutup kemungkinan jika dua wanita ini memutuskan untuk pergi dari hidup Gifali selamanya. Dan Gifali tidak akan mendapatkan apapun setelah ini.
Mungkin saja bukan Maura dan Gadis yang hanya meninggalkan, namun posisi keluarga Hadnan pun harus diperhitungkan oleh Gifali.
Entah bagaimana nasibnya setelah ini.
__ADS_1
"K----" Suara Gadis tiba-tiba tercekat ketika ingin berbicara dengan Maura, karena ada suara yang lebih dulu memanggil namanya.
"Dis----?"
Gadis dan Maura menoleh bersamaan ke arah si pemanggil.
"Elang?"
"Kamu ngapain disini?" Gadis begitu kaget melihat kedatangan Elang yang tidak pernah ia bayangan sama sekali.
"Aku kesini mau jenguk kamu, eh! Maksudnya mau tau perkembangan Gifa! Papa juga ada disini sedang menemani Om Galih---"
Elang pun duduk disamping Gadis.
"Aku pergi dulu!" Ucap Maura tanpa menoleh sama sekali.
Ia pun bangkit untuk kembali berjalan ke ruang ICU. Karena satu jam lagi operasi Kraniotomi Gifali akan di mulai.
"Bagaimana ceritanya Dis, kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanya Elang. "Kamu agak pucat, kamu sakit?"
"Tujuan kamu kesini tuh mau tau keadaan Gifa atau keadaan aku sih??"
Elang menghela nafasnya sebentar. "Ya dua-duanya Dis, maaf kalau aku salah ucap!"
Gadis tidak mau menjawab, kepalanya terasa pusing kalau berbicara dengan Elang.
"Kamu mau minum---?"
"Nggak liat ditangan aku lagi pegang apa??"
"Maksudnya aku tuh air putih, Dis. Aku khawatir liat kamu pucat kayak gitu..."
Melihat wajah dan perkataan Elang yang begitu mencemaskan nya, membuat hati Gadis tersentak.
Kalau dilihat-lihat Elang juga manis, walau tidak setampan Gifa
Dia juga baik dan selalu perhatian
Selalu mengucap kata cinta dan sayang
Tapi...tetap aja hati aku selalu berbalik kepada Gifa. Aku terlalu sayang sama dia
Gadis terus mencuri-curi pandang menatap Elang, belum pernah ia bergumam tentang Elang.
"Jangan lirik-lirik, nanti kamu jatuh cinta sama aku, Dis. Hahahahaha---" Gelak tawa Elang begitu saja menghancurkan lamunan Gadis tentangnya.
"Ih, pede banget!"
Gadis berdecak dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Setidaknya kehadiran Elang saat ini bisa menjadi penambah kekuatan kepadanya.
"Kita pacaran yuk, Dis?"
__ADS_1
Mendengar kalimat itu, seketika kotak susu yang masih digenggam Gadis begitu saja terlolos dari tangannya.
"Ih gila ya kamu! Aku tuh masih pacarnya Gifa---"
Elang pun meraih tangan Gadis untuk digenggamnya. Gadis seketika melepas genggaman itu. Elang tidak menyerah ia meraih tangan Gadis untuk digenggamnya kembali.
"Gifa udah nitipin kamu sama aku! Dia nggak cinta sama kamu, Dis! Apa yang mau kamu harap dari nya? Dia milik orang--"
Gadis kembali menatap kedua bola mata Elang dalam-dalam, salivanya terdengar terdorong jauh ke ujung tenggorokan. Mendengar kata-kata seperti itu kembali menusuk hati dan jantungnya.
"Apa maksud kamu??"
"Aku udah tau semuanya perkara kamu, Gifa dan Kakak sepupu kamu! Aku udah tau sebelum kamu bertiga tau. Gifa nya aja bodoh, enggak bisa mencerna nama keluarga yang ada dibelakang kalian itu ternyata sama..."
Elang menggelengkan kepalanya dan sedikit tertawa karena kebodohan Gifali.
Kedua mata Gadis membulat dan melebar, ia begitu terperangah.
"Kok bisa kamu tau? Jadi selama ini kamu juga sengaja untuk buat kita bertiga hancur?"
"Bukan, bukan! Kamu salah faham. Bukan kayak gitu maksud aku!" Elang menjeda suaranya.
"Waktu itu aku pernah liat Gifa ngeboncengin cewek dan menurunkannya di sekolah khusus pariwisata. Aku tau banget itu pasti bukan kamu. Ya udah aku selidiki aja siapa wanita itu, namanya dan alamatnya. Kamu tau lah temen aku banyak, aku bisa secepat kilat dapat informan dari mana aja--"
Gadis menggerak-gerakan bola matanya kesana kemari.
"Awalnya aku cuman menerka aja, kalau kalian itu bersaudara tapi aku fikir lagi nama keluarga kamu itu kan bukan hanya satu-satunya yang ada didunia ini. Jadi aku putuskan bahwa Gifali hanya telah berhianat dari kamu dengan wanita lain, waktu itu!"
Terlihat air mata Gadis kembali menggenang. Ia sedikit menyesal mengapa Tuhan mempertemukan dirinya dengan Gifali. Mengapa bisa mencintai orang yang dicintai Kakaknya sendiri.
Ia sangat tahu bagaimana perasaan Maura yang terus bertahan untuk menunggu kedatangan teman kecilnya lagi. Ia tahu bagaimana tersiksanya Maura selama 12 tahun.
".....Aku ingin sekali bilang, tapi kamu pasti nggak akan percaya! Jahatnya sih aku emang lagi nyusun rencana buat ngebongkar kejahatan Gifa sama kamu, eh tapi udah keduluan dengan kejadian kayak sekarang. Ternyata benar dugaan aku, kalau kamu dan wanita itu ternyata saudaraan!"
Deru nafas Gadis semakin menderu-deru. Ia beberapa kali memejamkan kedua matanya, karena merasa dadanya kembali sesak dan berat.
"Tapi kalau lihat keadaan dia kayak gini, aku juga nggak tega Dis, gimana pun dulu kita adalah teman bermain sedari kecil. Kedua Papa kita sama-sama teman baik. Entah kenapa setelah masuk SMA, aku selalu menanggap dia adalah saingan. Dari soal nilai dan soal....KAMU!"
Gadis pun menangis kembali malah semakin terisak. Elang tetap menejelaskan semua duduk perkara ini, agar bisa membuat kedua mata wanita yang ia sukai bisa terbuka dan tidak lagi mengharapkan Gifali.
Elang mendekatkan dirinya lebih dekat kepada Gadis, ia meraih tangan Gadis untuk ia genggam. Tangisan Gadis terus mengiringi percakapan mereka. Elang melebarkan tangannya untuk menyandarkan Gadis di dalam dekapan dadanya. Mengusap-usap tangan Gadis dengan amat cinta.
"Kamu bisa belajar untuk nerima aku, Dis! Aku udah lama suka sama kamu dari pertama kali kita di ospek bareng!"
"Aku tau kamu butuh waktu untuk melupakan Gifa, tapi aku akan tetap disini. Buat menunggu kamu---" Elang mencium tangan Gadis dengan sangat lembut dan hangat.
Tangisan Gadis semakin kuat, ia pun memeluk perut lelaki itu dan menangis diceruk lehernya. Lelaki yang selama ini selalu ia lupakan cinta dan kasih sayang serta perhatiannya.
"Aku sayang sama kamu, Dis! Sayang banget!"
****
__ADS_1
Komen dan Like ya Guyss
❤️❤️❤️🖤