
Selamat baca yaa🤗🤗
****
Dengan langkah cepat, Gadis dan Gifali langsung turun dari motor untuk menyambut kedatangan Papa Gadis.
"Pah?" sapa nya dengan suara bergetar.
"Om--" Gifali meraih punggung tangan Papa Gadis untuk di ciumnya.
Namun sepertinya ketakutan Gadis begitu saja menghilang ketika melihat raut wajah sang Papa tetap hangat seperti biasa. Awalanya ia merasa Papa nya akan marah besar karena melihat dia tengah bersama teman laki-laki dalam kondisi matahari sudah menepi.
"Saya Rendi---"
"....Saya Gifali, Om."
Mereka saling berjabat tangan, memperkenalkan diri masing-masing.
"Ayo, Nak. Kita pulang, Mamamu cemas!" ucap Papa Rendi kepada Gadis.
Dengan cepat Gadis menoleh lalu Gifali hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya sebagai kode agar Gadis boleh ikut pulang bersama Papanya.
"Aku pulang dulu ya, Gifa. Kamu hati-hati di jalan!"
"Iya, Dis pasti. Hati-hati juga ya, Om!" Gifali memberi senyum indah untuk kepergian mereka.
Walau malam ini Gifali telah gagal membawa Gadis untuk makan bersama, setidaknya ia sudah tahu sosok Papa Gadis yang selalu di ceritakan kepadanya.
"Memang baik Papa nya, jantungku lemas. Aku fikir Papanya akan menghardikku---" ungkapan hatinya bersamaan dengan deru mesin motor itu kembali melaju untuk membawanya pulang kerumah.
"Oh, Gifali namanya?"
Papa Rendi membuka keheningan yang terjadi di sepanjang jalan menuju rumah. Gadis hanya terus menatap jalan, ia malu sudah kepalang basah ketahuan jalan bersama Gifali. Karena sikap baik hati yang di miliki Papa Rendi, membuat Gadis menjadi sangat malu karena ulahnya.
"Kalau Papa mau marah, Gadis terima kok, Pah--" Akhirnya ia berani menoleh melihat wajah Papa nya yang masih fokus menyetir.
"Kenapa juga Papa harus marah, Nak? Memang apa yang sudah kamu lakukan?"
Jag.
"Aduh, aku salah ucap !"
"Pah, kita hanya berpacaran. Eh, engga. Pah! Hanya berteman. Eh, duh----"
__ADS_1
Gadis terus salah tingkah, Ia semakin membuka kebenaran dari niat ingin berbohong.
"Jaga diri, itu pinta Papa kepada Gadis. Kalian boleh saling kenal karena hanya untuk menjadi teman semangat dalam belajar, nggak boleh melalukan hal apapun yang bertentangan dengan norma dan adab...."
Gadis mengembangkan senyum dengan lebar.
"Makasi banyak ya Pah--" Gadis memeluk sang Papa. "Tapi Pah, kalau Mama tau bagaimana?" Gadis dengan cepat menarik kembali tubuhnya untuk bersandar di bangku mobil.
"Ya, usahakan jangan sampai tau. Gadis bisa membayangkan bagaimana Mama nanti, ia akan marah dan melarang kamu untuk melakukan aktivitas apapun di luar sekolah!"
"Hemmm..." Nafas kasar begitu saja lolos dari Gadis. Sosok Gifali saat ini adalah suatu ancaman dan suatu keberkahan baginya.
"Iya, Pah. Aku faham--"
****
Terlihat Gifali sedang duduk di meja belajarnya. Ia terus memandangi sebuah foto lama yang sudah usang. Foto disana memperlihatkan dirinya dengan sosok anak perempuan sebaya dengannya.
"Masih di simpan terus fotonya, Nak?" Sang Mama mengagetkan Gifali dari ceruk lehernya. "Ya allah, Mama ngagetin Kakak aja!" Gifali berusaha untuk menetralkan nafasnya yang sedikit tersengal-sengal.
"...Ini, hemmm." Gifali susah untuk menjawab, ia masih saja meremas foto yang ada di tangannya. "Sayang ya, penjaga resort itu sudah meninggal. Jadi Mama nggak bisa cek keberadaan gadis itu---"
"Nggak apa-apa, Mah. Mungkin bukan jodoh!"
Gifali kembali tersenyum dan mengusap-usap foto itu.
"Tapi, bukan karena Maura kan kamu jadi sering pulang malam sampai sekarang?"
Ya, Maura namanya. Anak perempuan yang ada didalam foto bersama Gifali. Anak kecil itu selalu menjadi buah fikir Gifali sampai saat ini. Pertemuan mereka terjadi ketika keluarga mereka sama-sama berlibur di sebuah Resort di pulau.
Resort itu memang kepemilikan keluarga Maura. Sudah beberapa kali setiap liburan sekolah Gifali akan selalu meminta ke Resort tersebut. Tapi sayang, Maura tidak pernah ia temukan kembali.
"Ya nggak lah, Mah. Sekarang aja Kakak nggak tau keberadaannya dimana--"
"Ada perempuan lain yang Kakak sukai sekarang?
"Kok, Mama ngmong kayak gitu??"
"Ya, Mama hanya tebak aja. Kali aja Kakak sudah punya pacar?"
"Terus gimana Mah, nggak boleh memangnya?"
"Bukan nggak boleh, Kak. Walau Kakak sudah besar dan sebentar lagi kuliah. Tapi untuk saat ini kayaknya jangan dulu deh, Mama takut kamu nggak akan fokus, Nak. Kan sebentar lagi mau ujian sekolah!"
__ADS_1
Seketika wajah Gifali mencebik. "Sama aja itu namanya, Mama nggak membolehkan Kakak berpacaran, iya kan???"
"Kakak cerdas kok, pasti mengerti maksud Mama sekarang. Sekarang kamu tidur ya, udah malam, Nak. Besok kan harus sekolah lagi." Nadifa mencium pipi sang anak.
"Nice dream ya Kak--"
".....Nice dream too, Mah."
Gifali kembali teringat memorinya bersama Maura 12 tahun yang lalu.
"Sekarang wajah kamu seperti apa ya? Masih ingatkah denganku?"
"Tapi sepertinya aku akan melupakan mu mulai saat ini, karena Gadis sudah mulai masuk menjelajah hati ku!"
"Berbahagialah selalu di manapun kamu berada, MAURA!!"
***
.
.
.
.
.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️
__ADS_1