
Selamat pagi guyss
Selamat baca
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah mendapatkan motor baru kesukaannya. Gifali dengan cepat melesat untuk menjemput Maura ke sekolah. Membawa wanita itu berkeliling dan mengajaknya makan. Merayakan kebahagiaan karena restu dari orang tua sudah mereka dapatkan.
Maura diajak berbelanja, membeli apapun yang wanitanya sukai. Maura sempat bertanya dari manakah uang yang Gifa dapat serta motor baru yang ia pakai saat ini. Gifa hanya bilang pamannya yang membelikan.
Tidak hanya menyuruh Maura yang berbelanja, tapi Gifa juga membelikan beberapa baju untuk Ammar, Papa Bilmar dan Mama Alika. Gifa ingin menebus kesalahannya karena sudah mengecewakan Maura karena sikapnya tempo lalu.
"Maafkan Om ya Gifa tentang kemarin." Ucap Papa Bilmar di sofa, ia duduk berdampingan bersama sang istri. "Iya Nak, maafkan Papanya Maura ya, kadang emang sedikit nyebelin sih---" Ujar Mama Alika meledek.
Dua bola mata Papa Bilmar memutar jenga. "Mah, udah dong..."
Mama Alika tertawa sambil mencolek pipi suaminya. "Tapi Om ini baik banget kok hatinya, Gifa. Jadi kamu bakal senang dapat mertua keren kayak gini..."
Dengan pujian, Papa Bilmar tergelak senang. "Nah itu baru istriku." Ia merekatkan tangannya di bahu sang istri.
Gifa dan Maura yang duduk bersama pun terlihat gembira dan bahagia. Mereka tidak menyangka betapa senangnya hubungan yang dilandasi dengan restu dari orang tua.
"Om sangat senang karena Gifa ingin melanjutkan jenjang hubungan yang lebih serius dengan Maura, tapi..."
Terlihat kening berkerut-kerut memancar secara bersamaan di wajah Mama Alika, Gifa dan Maura.
"Pah, jangan macem-macem..." Bisik Mama Alika pelan.
"Tenang dulu Mah, Papa kan belum selesai bicara. Kalian juga tenang, Papa gak ada maksud untuk melarang atau tidak merestui kalian menikah dengan cepat. Papa hanya masih memikirkan bagaimana kelanjutan sekolah kalian berdua setelah menikah."
"Maksudnya gimana, Pah?" Tanya Maura dengan raut kembali menegang. Namun tangannya di usap pelan oleh Gifali. "Biarkan Papamu berbicara dulu, Ra..." Ucap Gifa menenangkan, sungguh senyum Gifali adalah salah satu penguat hati Maura.
"Begini, Nak. Papa memang tidak akan melarang kalian untuk menikah. Tapi dalam waktu cepat seperti ini harus dipertimbangkan lagi. Usia kalian baru saja 18 tahun lalu memutuskan untuk menikah. Menurut Papa sangat riskan jika dilakukan secepat ini."
"Umur yang masih muda dengan pemikiran yang masih berubah-ubah, belum matang dalam bersikap dan ego yang seringkali muncul dan bisa memecah belah. Papa hanya takut kalau pernikahan kalian gagal dipertengahan jalan."
__ADS_1
Semuanya mendengarkan nasihat dari Papa Bilmar tanpa ada yang berani memotong lagi.
"Gifa juga butuh karir dan dunianya, begitu pun Kakak. Papa masih ingin Kakak melanjutkan sekolah chef di London. Jika kalian menikah muda dan Kakak hamil dengan cepat, lalu bagaimana dengan karir kalian? Apakah bisa fokus dan konsentrasi?"
"Setidaknya jika kalian mau menunggu dulu sampai kuliah kalian selesai, itu akan lebih menyenangkan untuk kehidupan rumah tangga kalian. Gifa pun bisa memberikan hidup yang layak untuk Maura dan calon anak-anak kalian---"
Maura dan Gifali saling bertatapan. Tentu pemikiran Papa Bilmar sangat mendasar dan mendekati kebenaran. Semua orang tua pasti akan selalu ingin mendapatkan yang terbaik untuk masa depan anak mereka. Bisa berbangga karena karir anak yang cemerlang pasti membuat orang tua akan senang bukan kepayang.
Wajah sendu terpancar dari Maura, namun bagaimana Gifa? Pemuda berwajah manis itu hanya tersenyum dan tetap menggenggam erat tangan kekasihnya. Ia hanya mengangguk pelan, sejatinya ia mengerti bahwa orang tua Maura masih cemas dan khawatir.
Tentu menjadikan anak orang menjadi istri bukan lah hal sepele, seperti kita ingin makan ice cream, terlalu mudah dan cepat untuk didapatkan. Gifa merasa ia harus mempunyai sesuatu yang kuat untuk bisa pantas menikahi Maura.
"Baik, Om. Gifa mengerti."
"Gifa!"
Desah Maura pelan. Ia menarik sedikit lengan baju Gifa. Agar lelaki itu berucap sesuatu untuk meyakinkan Papanya. Namun Gifali mempunyai pandangan sendiri untuk hal ini.
Karena hari sudah mulai malam, Gifali akhirnya pamit dari rumah Maura.
"Kenapa kamu gak yakinin Papa, Gifa?" Tanya Maura ketika langkah Gifa sudah sampai di depan motornya.
Kedua mata wanita itu berkaca-kaca. Seakan Gifali menyetujui permintaan Papanya.
"Masih ada waktu untuk bahas ini sayang." Gifali mengelus pipi Maura. "Kita fokus dulu aja buat ujian ya, aku akan tetap menikahi kamu setelah kita ujian---"
"Benar, Gifa? Kamu janji kan?" Wajah penuh harap itu terus memancar.
"Iya sayang..aku janji sama kamu." Gifa meraih tangan Maura lalu di ciumnya. "Jangan terlalu cemas ya, kita pasti akan menikah setelah kelulusan nanti. Nanti aku akan kerja sambil kuliah, kamu gak usah khawatir."
Gifali tersenyum lalu menjiwil pipi Maura. "Iya aku tau itu."
Gifali berusaha menenangkan Maura dan ucapannya pun berhasil membuat senyum Maura kembali hidup.
"Ya udah aku pulang dulu ya, besok aku jemput lagi ke sekolah." Ucapnya.
Maura pun mengangguk dan mulai membungkukkan kepalanya untuk mencium punggung tangan Gifali.
"Latihah dulu ah, jadi calon istri yang baik---" Ucap Maura membuat Gifali terkekeh.
"Kamu hati-hati ya dijalan, jangan ngebut ya. Janji ya?"
"Janji sayang, ya udah sana masuk. Aku pulang ya."
Gifali mulai memasang helm dikepalanya dan menyalakan kopling motor sportnya.
Ia memberikan lambaian tangan sebelum akhirnya berlalu. Maura pun melakukan hal yang sama, ia masih melambaikan tangan dan Gifa menatapnya dari kaca spion.
Maura kembali memutar langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Ia terus menaiki anak tangga menuju kamar dengan rasa bahagia. Ia tahu Gifali akan selalu menepati janjinya.
Berjanjilah Gifali dan tepati janjimu nanti.
****
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Maura merebahkan dirinya di atas kasur. Lalu datanglah Mama Alika dan mengusap tangannya ditepian ranjang.
Maura membuka matanya cepat.
"Mama.." Maura bangkit lalu duduk berselonjor.
"Capek, Nak?"
"Gak, Mah. Maura hanya lagi mikirin ucapan Papa aja!"
Mama Alika tersenyum dan mengenggam tangan putrinya.
"Kakak jangan khawatir ya Nak, Mama ada dibelakang kalian.." Ujar sang Mama menyemangati.
"Mama ingin Kakak tetap menikah. Mama hanya gak mau, kalian kelewat batas dalam berhubungan. Tentu dengan pernikahan, kalian bisa menjadi pasangan yang halal tanpa dosa."
"Kayaknya kalau Gifa mau mengalah ikut kamu ke London, Papa pasti restuin. Gimana kalau Kakak bujuk Gifa buat ikut kesana. Gifa juga bisa melanjutkan kuliah, untuk masalah perekonomian rumah tangga kamu, biar nanti Mama yang bantu---"
Maura memotong cepat. "Tapi kata Gifa, dia mau kerja sambil kuliah, Mah. Dia mau menafkah kan Kakak dengan uangnya sendiri."
"Iya Mama tau Nak, Gifa itu anak yang bertanggung jawab. Mama senang kalau ia sudah berfikir matang seperti itu."
"Tapi kayaknya Maura udah nggak mau lagi sekolah di London Mah, mau disini aja sama Gifa. Soalnya ia tetap ingin masuk UI, Mah."
Maura tetap mengutamakan keinginan Gifali diatas keinginannya. Ia tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan untuk suaminya kelak.
"Tolong bujuk Papa lagi ya Mah. Biarin Kakak untuk kuliah disini." Pintanya dengan sangat memelas. Ia terus meminta belas kasih dari Mama Alika agar mau merubah jalan fikir suaminya.
Wanita cantik paru baya itu pun akhirnya mengangguk setelah mengehela nafas panjang.
"Iya sayang, Mama akan coba ya."
Tok tok tok
Lalu ada suara ketukan dari luar. "Maaf Non, ini Bibik.."
"Iya Bik, masuk aja---" Sahut Maura dari dalam.
"Non ini Hape siapa ya? Ada diselipan sofa.." Bibik menyodorkan ponsel android berwarna hitam. "Ya Allah, ini hape nya Gifa.."
"Ketinggalan ya berarti?" Mama Alika menimpali.
"Mah, Kakak minta ijin untuk anterin hape Gifa kerumahnya ya.."
"Mau Mama antar?"
"Gak usah Mah, Maura aja."
Mama Alika pun mengangguk dan menyetujui permintaan sang Anak. Entah apa jadinya nanti ketika Maura datang dan mengetahui segalanya tentang jati diri Gifali.
****
Aku akan tetap menerima kamu sayang❤️
__ADS_1