
Selamat sore guys
Selamat baca ya
❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selama satu jam membelah jalanan dengan sebuah taxi, akhirnya langkah Mama Difa terhenti didepan sebuah gerbang rumah megah bernuansa putih klasik. Ia melongo kan kepalanya di lubang pagar.
Rumah megah itu terlihat sepi, hanya terdengar suara burung yang saling bersautan didalam sangkar. Ia terus mengedarkan pandangannya untuk menyelidik ke arah dalam pekarangan rumah. Wajahnya seketika bahagia ketika melihat ada motor anaknya tengah terparkir di garasi.
"Ya Allah Alhamdulillah..." Ucapnya syukur, ia merasa Gifali pasti sedang ada didalam. Lalu ia menurunkan tatapannya ke arah pegangan pagar.
"Kok di gembok?" Desahnya.
"Apa mereka pergi ya? Atau Malik sengaja menyembunyikan Gifa dari ku!" Gumam Mama Difa, wanita cantik itu mulai geram.
Wanita itu membuka tas dan meraih ponselnya, seketika itu pula ada telepon masuk dari Papa Galih. Dengan cepat ia menggeser icon merah untuk mematikan telepon dari suaminya. Ia beralih untuk mencari nomor Om Malik dan meneleponnya dengan segera.
Namun berkali-kali dihubungi, Mama Difa tidak mendapatkan hasil. Om Malik tidak menjawab teleponnya.
"Sudah beberapa kali ditelepon, tapi gak diangkat juga!" Desahnya kesal.
Ia pun termenung didepan gerbang. Masih terdiam memikirkan cara untuk menemukan keberadaan Om Malik dan Gifali. Ia pun melirik art tetangga sebelah yang sedang membuang sampah.
Mama Difa menghampiri art tersebut.
"Permisi Mba.."
"Iya, Bu?"
"Maaf Mba saya mau tau tanya. Apakah Mba lihat kemana pergi nya Bapak Malik beserta keluarganya?"
"Oh iya Bu, pagi-pagi sekali saya lihat mereka pergi, tapi gak tau pergi kemana.."
Tampak wajahnya begitu sedih. Mama Difa pun mengangguk. "Ya udah makasi ya, Mba..."
Art itu pun berlalu dan meninggalkan Mama Difa seorang diri disana. Hari semakin terik, matahari terus menerjang dirinya dengan panas yang terus beranjak naik. Ia terus menyeka keringatnya yang bercucuran membasahi wajah dan lehernya.
Mama Difa membawa arah matanya untuk menatap arloji yang saat ini sedang ia pakai. Waktu sudah menunjukan pukul 10:00 pagi. Itu artinya Gifali sudah pergi selama kurang lebih lima jam pasca ia meninggalkan Maura dari appartemen.
Mama Difa terus melamun, ia bingung kemana lagi harus mencari Gifali. Namun tak lama kemudian ketika ia ingin melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Mama Difa dengan cepat menoleh ketika ada sebuah mobil yang tiba di hadapannya.
__ADS_1
"Siapa ya?" Tanya nya dalam hati.
Akhirnya si pengemudi mobil pun turun. Seorang lelaki paru bayah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Ya Allah..." Desahnya penuh takut.
Mama Difa terkejut, kedua matanya membulat dan melebar. Kakinya terasa lemas begitu saja, ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu kembali dengan pria ini.
"Difa??" Tanya lelaki itu. Ia melangkah cepat untuk menghampiri wanita yang sudah lama tidak ia temui. Ia kaget tapi juga bahagia.
Mama Difa kembali bertemu dengan lelaki yang sangat dibenci oleh suaminya, orang kedua setelah Om Malik.
"Mas Fajar?" Ucapnya pelan.
"Bagaimana kabarmu, sudah lama kita tidak berjumpa ya..."
Om Fajar mengulas senyum diwajahnya ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Mama Difa.
Mama Difa masih ragu untuk bersalaman, masih ingat dalam benak nya tentang kejahatan yang dilakuman oleh Om Fajar di masa lalu kepada dirinya dan juga Papa Galih. Hanya karena rasa cinta buta yang membuat Om Fajar menjadi menggunakan segala cara untuk merebut hati Mama Difa dari suaminya.
"Aku baik, Mas.."
Mama Difa tetap bergeming, ia tidak membiarkan telapak tangannya untuk menyentuh lelaki itu. Om Fajar tetap tersenyum ketika uluran tangannya tidak diterima dengan baik.
"Kamu sedang apa disini? Mencari Pak Malik? Ada hal apa? Lalu Galih?"
Serentetan pertanyaan dari Om Fajar terus mencuap serta kedua bola matanya terus mencari-cari keberadaan Papa Galih yang sekarang tidak tampak disamping Mama Difa.
"Kamu sendiri sedang apa disini, Mas?" Mama Difa balik bertanya.
"Aku ingin mengantarkan berkas dokumen tentang kontrak kerja antara CV ku dengan CV nya.."
"Selama ini kamu bekerja sama dengannya?" Tanya Mama Difa menyelidik.
"Oh...." Mama Difa mengangguk-angguk kan kepalanya.
"Tapi sayangnya, dia membatalkan janji. Katanya mendadak pergi ke Bandung pagi ini, aku telat membaca pesannya, sudah keburu sampai disini!"
"Bandung??" Mama Difa mengulangi ucapan Om Fajar.
"Mas..."
"Hemm??" Om Fajar meninggikan kedua alisnya.
"Apa Mas Fajar bisa bantu Difa?"
Om Fajar tersenyum. "Demi kamu, aku siap. Memang nya perlu bantuan apa??"
"Ada masalah dengan Gifali, sepertinya Pak Malik membawanya pergi ke Bandung. Apa Mas Fajar bisa menelpon Pak Malik untuk menanyakan alamat atau keberadaan mereka? Tapi tolong rahasiakan tentang aku sekarang!"
Kornea mata gelap Om Fajar terus menatap wajah Mama Difa yang sudah pucat karena kelelahan.
"Masuk dulu ke dalam mobil ya, kamu duduk dulu, sambil aku hubungi Pak Malik..."
"Iya Mas, makasi ya---"
"Ayo, masuklah!"
Mama Difa dan Om Fajar pun akhirnya masuk kedalam mobil. Lelaki itu terus menghubungi Om Malik.
__ADS_1
Mama Difa terus memperhatikan Om Fajar, ia tidak henti mengucap doa agar jalan bertemu dengan anaknya tidak mendapatkan halangan.
Berkali-kali Om Fajar menghubungi Om Malik, namun tidak mendapatkan hasil. Lelaki tuu sepertinya sedang sibuk. Tidak terasa kedua mata Mama Difa terpejam karena mengantuk. Wanita paru baya itu memang tidak tidur sejak kemarin. Om Fajar melihati wajah Mama Difa dengan rasa rindu dan penuh iba.
"Tenang ya Dif, aku akan bantu kamu untuk menemukan keberadaan Pak malik!" Batinnya. Lalu ia beralih untuk menelpon seseorang.
"Ya Hallo Pak?"
"Ben, tolong lacak keberadaan posisi Pak Malik Gunawan dengan menggunakan nomor ponselnya. Jangan pakai lama ya, Ben. Saya menunggu!"
"Baik, Pak. Saya lacak dulu."
"Ya, baik!"
Om Fajar ikut menyandarkan tubuhnya di sandaran jok dengan kedua tangan melipat didada. Ia terus menoleh menatap Mama Difa.
"Kamu masih saja cantik seperti dulu, Difa. Maafkan aku pernah hampir merusak rumah tanggamu dulu..." Ucapnya pelan. "Semoga Galih bisa terus membahagiakan kamu."
Lalu tak lama
Bep bep bep.
Notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya. Seketika ia menyeringai senang. Bawahannya berhasil melacak posisi keberadaan Om Malik dan menemukan keberadaannya sekarang.
"Baiklah, aku akan antar kamu langsung kesana!"
*****
Melihat sang Papa kembali kerumah, membuat triple G bangkit dari sofa. Kakak beradik itu baru menghubungi guru-guru mereka, untuk menginformasikan kalau hari ini mereka tidak masuk sekolah. Triple G memutuskan untuk tetap menunggu kepulangan Mama dan Papanya.
"Apakah Mama sudah sampai?" Tanya Papa Galih.
Kening triple G pun mengerut menjadi beberapa lipatan yang bergelombang. Mereka semua menggelengkan kepala.
"Maksudnya gimana Pah? Kita aja sekarang lagi nungguin Mama sama Papa pulang dari Rumah Sakit!" Jawab Ganaya.
"Kok Papa pulang sendiri? Mama sama Kak Gifa nya mana? Terus keadaan Kak Maura, gimana Pah?" Sambung Gelfani.
Sedangkan Gemma hanya menunggu Papa nya untuk menjawab pertanyaan dari kedua Kakak perempuannya.
Papa Galih menjatuhkan dirinya di sofa. Mengusar kasar rambutnya. Nafasnya tersengal-sengal hebat. Ia takut jika Mama Difa meninggalkan dirinya seperti Gifali.
Triple G pun beringsut untuk mendekap sang Papa yang sedang gundah gulana dan frustasi. Air mata Papa Galih begitu saja turun dan menetes di dataran pipinya dan terjerembab lurus ke leher.
Ia terus menangis meluapkan rasa bersalahnya. Ia menyesal, karena ulahnya lah, keadaan menjadi runyam seperti ini. Coba saja jika ia bersabar untuk bisa menahan ucapan dan segala emosi nya. Tentu istri dan anaknya tidak akan begitu saja pergi meninggalkannya.
"Papa gak tau Mama kalian kemana, Papa fikir Mama akan pulang kerumah..." Jawabnya tergagap.
"Ya Allah Pah---" Desah Ganaya.
"Terus Mama kemana??" Sambung Gemma dengan wajah cemas.
"Iya Pah, coba hubungi Mama lagi! Oh iya, kalau Kak Gifa, bagaimana? baik-baik aja kan?"
Melihat triple G seperti ini, membuat Papa Galih semakin tersudut akan penyesalan. Dadanya begitu sesak, seperti orang yang sulit bernafas. Tega-teganya ia membuat triple G ikut merasakan sedih karena kepergian sang Mama dan juga Kakak mereka.
"Pulanglah sayang....aku menunggumu dan anak kita kembali---" Rintih Papa Galih. Lelaki itu menangis kembali. Ia sama sekali tidak menyangka jika rumah tangganya sedang berada di ujung kehancuran.
*****
__ADS_1
Ayo pulang Gifa, Mama dan Papa mencari kamu