
Haiii selamat pagi, selamat beraktivitas.
Aku kembali lebih awal🤭
Selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
"Maura sudah sehat, Nak?" Tanya Mama Difa yang sengaja datang berkunjung ke rumah Mama Alika.
"Sekarang sudah enakan Tante," balas Maura diringi senyuman.
"...Hari ini anakku nggak bisa menginap disana, Bin. Maura juga sedang demam. Kalau tentang acara Papa, Insya Allah akan tetap berjalan!"
"Ya baiklak kalau begitu, berikan salam ku untuk Gadis. Semoga cepat sembuh ya--"
Beberapa kalimat yang keluar dari bibir Mama Alika ketika sedang mengangkat telepon di ambang pintu kamar Maura.
Terlihat Maura dan Mama Difa sedang memperhatikannya.
"Tante Binar, Mah?" Tanya Maura ketika melihat sang Mama baru memutar langkahnya untuk menghampiri mereka kembali.
"Iya Nak. Tante Binar tadinya meminta kamu untuk menginap dirumah Kakek untuk menemani Gadis. Katanya Gadis muntah, panas dan menangis terus katanya---"
"Hah? Yang benar Mah?"
Gadis sakit seperti ini apa karena tengah merajuk dengan kekasihnya? Apa kekasihnya sudah memutuskan untuk lebih memilih tunangannya?
"Gadis itu siapa Mba?" Mama Difa ikut bertanya.
"Sepupunya Maura, Mba. Anak nya adik saya--"
"Pasti cantik kaya calon menantu Tante ini." Mama Difa mencium pipi Maura.
"Oh ya Mba. Begini, sebenarnya saya ingin mengutarakan ini sejak pertemuan kita kembali beberapa waktu lalu. Saya ingin melamar Maura untuk Gifa sehabis mereka kelulusan. Menurut Mba Alika bagaimana? Apakah terlalu cepat?"
"Saya setuju Mba, lebih cepat lebih baik---"
Garis senyum Maura pun terangkat naik, ia terus menatap wajah Mama Difa dalam-dalam.
Apa? Menikah? Aku akan menikah dengan Gifa? Ya Allah terima kasih....
"Sayang...?" Mama Difa mengelus tubuh Maura yang sedari tadi tersenyum tapi melamun.
"Hemm...saking bahagia nya jadi kesemsem gini ya?" Mama Alika menggoda putrinya.
Wajah Maura semakin merona terlihat ia menunduk karena malu. Hatinya gegap gempita, ia amat bahagia. Akhirnya penantian 12 tahun tidaklah sia-sia. Ia tidak sabar menanti hari kelulusan tiba.
"Oh iya Mah, Tante, nanti Maura ingin membawa Gifa ke acara ulang tahun Kakek ya,"
__ADS_1
"...Iya sayang boleh!"
Jawab Mama Alika dan Mama Difa secara bersamaan. Sungguh drama romantis ini pasti akan berakhir secara maksimal.
****
Langkah Papa Galih dan Gifali secara bersamaan terus menapaki lorong Rumah Sakit, sesuai info tadi pagi yang diberikan Om Malik kepada Gifa. Bahwa sang istri sedang berada di ICU dalam keadaan kritis.
Tante Kinanti mengidap kanker usus sejak dua tahun yang lalu. Sungguh kasian, wanita itu terlalu baik untuk mengidap penyakit separah ini.
Kini langkah kaki mereka sudah terhenti persis didepan pintu ICU.
"Kok Om, Leta dan Aisyah nggak keliatan ya Pah?" Tanya Gifa memperhatikan satu-satu penunggu pasien yang ada diruang tunggu ICU.
"Iya Kak, coba kamu telepon lagi Om Malik. Tapi benar kan ini Rumah Sakitnya?"
"Tadi pagi sih, Om bilangnya gitu Pah. Tapi sebentar, Gifa telepon Om dulu--"
Papa Galih mengangguk. Gifa pun berjalan menjauh darinya karena sinyal didekat area ICU tidak terlalu bagus.
Tak lama kemudian
Tubuh Papa Galih beringsut cepat ketika melihat seorang perawat keluar dari ruang ICU bermaksud untuk memangil keluarga pasien yang lain.
"Maaf sus, saya mau tanya. Apakah pasien atas nama Ny. Kinanti masih dirawat didalam?"
"Ny Kinanti Gunawan?" Perawat itu menyebutkan kembali nama Kinanti secara lengkap.
"Iya betul Sus..."
"Maaf Pak, pasien sudah meninggal dunia tiga jam yang lalu. Keluarga sudah membawanya pulang kerumah---"
"Innalillahi Wainnalillahi Rojiun, baik sus makasih." Papa Galih merasa histeris dengan penuturan Perawat barusan. Mereka terlambat datang.
"Pah?" Om nggak bisa dihubungi, ponselnya nggak aktif, kita tanya aja ya Pah ke Perawat yang ada didalam?
Papa Galih masih menundukkan kepalanya kebawah. Tubuhnya terasa gontai dan lemas.
"Pah? Papa kenapa? Sakit Pah?" Tanya Gifali.
Papa Galih akhirnya mendongakkan wajahnya untuk melihati sang anak.
"Papah kenapa kok---?"
Gifali sangat terkejut ketika melihat kedua mata Papanya sudah berkaca-kaca.
"Tantemu sudah dibawa pulang tiga jam yang lalu, Nak!"
"Syukur kalau sudah sembuh Pah, Ya udah kita jenguk saja kerumah Tante kalau begitu Pah!" Gifali merangkul tubuh sang Papa dan bersiap untuk membawanya pergi dari sana.
"Bukan sembuh Nak, tapi sudah meninggal---"
Sontak mendengar ucapan seperti itu, membuat kedua mata Gifali melotot dengan tajam. Lidahnya tiba-tiba tercekat begitu saja, tubuhnya seketika lemas dan tidak berdaya. Hatinya linu ketika mengetahui sang Tante yang sudah menanggap seperti anaknya sendiri begitu saja pergi meninggalkanya.
Bahkan sampai di hari kematiannya Pun, Gifali belum juga bertemu dengan Kinanti.
"Tante.." Desahnya serta air mata pun menetes deras. Papa Galih harus terus menguatkan sang Anak.
"Ayo Nak, kita kesana. Kita doakan Tantemu," Papa Galih yang akhirnya merangkul Gifali. Ia membawa sang anak untuk pergi dari sini.
****
Gadis yang sedari tadi masih diatas kasur, terus menangis dan hanya meringkuk kan tubuhnya didalam selimut. Beberapa kali Mama Binar mendatangi sang anak. Gadis bilang hanya ingin Maura datang kesini, untuk menemaninya dikala dirinya sedang tidak karuan seperti ini.
__ADS_1
"Nak, Kak Maura tidak bisa kesini sayang. Kakakmu juga sedang sakit--"
Mendengar ucapan itu membuat Gadis menoleh cepat ke arah Mamanya.
"Sakit Mah? Sakit apa?"
"Kata Tantemu sih, kecapean kayaknya. Kasian Kakakmu, mungkin dia letih karena dari kemarin setiap habis dari toko langsung menyiapkan kebutuhan acara untuk Kakek--"
Gadis terlihat sendu, ia merasa bersalah karena dirinya yang terlalu sibuk terus memikirkan Gifali sampai ia tidak sempat membantu kesibukan Maura.
"Ya udah, Gadis istirahat lagi ya Nak. Biar nanti diacara kakek, kalian berdua sudah sehat! Mama tinggal dulu ya kebawah--" Mama Binar mencium dahi sang anak yang masih terlihat sedih dan murung.
Mama Binar sudah berkali-kali bertanya tentang apa yang terjadi dengan putrinya. Tapi Gadis tetap membisu, ia tidak mau membuat luka hatinya semakin parah jika terus membicarakan tentang Gifali.
Ia pun mengambil ponsel yang ada di nakas. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ada satu pesan masuk dari Gifali.
Gifali :
Kamu sakit apa Dis? Aku mencarimu hari ini ke kelas, katanya kamu sakit. Cepat sembuh ya jangan lupa minum obat. Aku ingin bertemu kamu untuk mengembalikan jaket yang telah kamu belikan buat aku.
Awalnya wajahnya terlihat bahagia. Namun ketika membaca sampai kalimat terakhir, Gadis kembali memangis.
Kamu tetap mau berpisah dariku, Gifa?
Air mata yang sudah surut kini muncul lebih deras. Tidak dipungkiri hatinya masih berharap akan Gifali.
Gadis :
Datang lah kerumah ku malam ini, Gifa.
Send..
***
.
.
.
.
.
Haii semuaa, konflik panjang sebentar lagi akan aku mainkan. Stay tune ya, siapkan diri kalian. Kalau ada perasaan takut, ditabung aja bacanya biar enak heheheh❤️❤️🖤
Terharu aku sama komenan kalian, ternyata udah masuk banget ke cerita ini. Sabar dulu ya guyss mereka pasti akan bertemuu🔥🔥🔥
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️
__ADS_1