GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Calon Istriku, Om


__ADS_3

Selamat malam


Selamat baca ya guyss


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mobil Papa Galih sudah mendarat dengan baik didepan gerbang rumah Om Malik. Ada bendera kuning yang terlihat didesapan pagar. Rumah sudah terlihat sepi dari para pelayat. Hanya beberapa orang saja yang tengah berlalu lalang untuk menyiapkan kursi-kursi plastik disekitaran tenda.


"Ayo kita turun Kak!" Ucap Papa Galih kepada Gifali.


"Iya Pah--"


Mereka pun turun dari dalam mobil lalu mengayunkan langkah untuk masuk kedalam rumah.


"Assalammualaikum." Ucap Gifali dan Papa Galih bersamaan dalam memberi salam.


"Waalaikumsallam wr wb...." Ada suara jawaban dari dalam, terlihat langkah kaki seorang lelaki yang masih gagah namun sudah tidak muda lagi.


"Om---" Desah Gifa langsung memeluk Om Malik. Ia pun menangis dalam dekapan lelaki itu. Lelaki yang tau persis bagaimana Gifali bisa ada di dunia. Om Malik menatap wajah Galih dengan hangat. Samar-samar tapi pasti terlihat senyuman balik mengalun dari wajah Papa galih.


"Maaf Mas, saya dan Gifa telat datang ke Rumah Sakit. Kami berfikir tidak akan terjadi seperti ini..." Suara Papa Galih terlihat lemah.


Walau berduka, tetap saja Om Malik masih bisa mengais kan senyuman diwajahnya.


"Ini sudah takdir Allah, sudah jalan hidup istri saya. Saya hanya minta kepada kalian untuk mau mendoakan Kinanti!"


Gifali makin memperkuat dekapannya. Ia merasa sangat menyesal. Tante Kinanti amatlah baik dengan Gifali, ia begitu perhatian. Membuat Gifa serasa menjadi anak lelakinya.


"Ayo masuklah!" Om Malik mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam.


"Mama kemana? Apakah sedang sibuk?" Tanya Om Malik kepada Gifa dan tentu saja Papa Galih masih berada dibelakang mereka dan mendengarnya.


"Hemmmm....!" Papa Galih terlihat berdehem keras, ini suatu kode agar Om Malik dan Gifa tidak lagi membicarakan tentang istrinya.


Gifa hanya menoleh kesal melihat sikap Papanya yang terlalu dramatis. Om Malik yang selalu bersikap dewasa dan bijaksana hanya bisa menelan pertanyaan itu sendiri. ia akan tetap menghargai apapun keputusan Galih.


Tampak Leta dan Aisyah menghampiri Papa Galih dan mencium tangannya. Gifa pun melakukan hal yang sama untuk mencium tangan kedua kakak perempuannya itu.


"Sabar ya Nak, Mama sekarang sudah tidak sakit lagi. Kirim doa selalu untuk menyertai kepergiannya!" Ucap Papa Galih, ia merasa iba melihat Leta dan Aisyah disaat sedang mengalami pertumbuhan dengan baik, sang ibu telah pergi meninggalkan mereka.


"Iya Om walau hidup kami akan terasa berat tanpa Bunda, kami akan tetap mencoba. Ayah jangan tinggalkan kami ya---" Balas Leta sambil memeluk kembali Om Malik. Aisyah pun terlihat sama, ia ikut memeluk sang Ayah.


Gifali hanya bisa mengelus-elus punggung Aisyah, ia terus berucap kata sabar untuk menenangkan hati sang Kakak.

__ADS_1


"Oh iya kenapa Tante Difa tidak ikut?" Leta mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Gifali lalu bergantian kepada Papa Galih.


Om Malik pun menatap setuju. Memang itu yang ia ingin tanyakan. Gifali hanya bis diam ketika sang Papa juga terdiam. Papa Galih hanya bisa menjawab dengan alasan simpel yang tidak masuk akal.


"Saya tahu kamu masih cemburu, Galih!"


Om Malik masih menatap Papa Galih, yang saat ini tengah berbalik melihatinya. Raut ketidaksukaan ketika nama istrinya disebut-sebut terus berbinar dari kedua matany.


"Ya betul, aku masih cemburu!"


Drrt drrt


Ponsel Gifali bergetar. Ia memang melupakan benda itu sedari tadi.


Maura Incamming Call


Melihat nama pujaan hati memanggil dilayar ponsel, ia pun pamit kepada mereka untuk bergegas mencari tempat yang nyaman untuk berbicara.


"Hallo...sayang?"


"Iya sayang, ada apa?" Suara Gifa terdengar serak.


"Kamu kenapa, Gifa? Habis menangis?"


Gifa terdiam sebentar, tentu saja ia habis menangis karena masih menahan duka dan lara.


"Iya, Ra. Tanteku baru saja meninggal dunia--"


"Innalillahi Wainnalillahi Rojiun! Ya Allah, kok kamu nggak ngabarin aku sayang?"


"Maafkan aku, Ra. Aku lupa."


Suara Maura terlihat panik dan cemas.


"Mamaku? Ke rumah kamu?"


"Iya Gifa, tante datang untuk menjenguk aku--"


Gifali kembali sedih karena mengingat harus merahasiakan kematian tante Kinanti kepada sang Mama. Mama Difa pasti akan shock dan marah besar jika ia adalah orang terakhir yang mengetahui ini semua.


"Aku butuh kamu, Ra!"


"Ayo kamu kerumah ku ya?"


"Tapi aku nggak bawa motor, aku kesini dijemput sama Papa!"


"Aku kesana ya? Jemput kamu? Bagaimana?"


"Jangan Ra, kamu masih sakit kan?"


"Nggak sayang, aku udah enakan. Aku kesana ya, jemput kamu? Bagaimana? Nggak enak kalau Papa kamu yang antar kamu kesini!"


Tidak dipungkiri rasa sedih yang masih bertahta dihati Gifali butuh penenang. Ia membutuhkan sosok wanita yang bisa menguatkan dirinya. Jika saja Mama Difa mengetahui hal ini, tentu sosok itulah yang akan menjadi sandaran kekuatannya


"Baiklah akan aku kirimkan alamatnya ke kamu ya, Ra. Kamu hati-hati dijalan ya--"


Tut..sambungan telepon terputus.


Ia pun kembali menatap ponsel ketika ada satu pesan yang belum terbaca.


Gadis :

__ADS_1


Datang lah kerumah ku malam ini, Gifa.


Gifali terbelalak ketika melihat pesannya sudah dibalas lama oleh Gadis. Ia terdiam sebentar, Gifali terus berfikir. Ketika ia sudah mendapatkan jawaban ia pun langsung membalas pesan itu.


Gifali :


Baik aku akan datang kerumah mu jam 8 malam.


Send...


Tidak ada waktu lagi selain mengakhiri, mengembalikan semua yang tersisa kepada Gadis untuk menutup semua rasa bersalah ku padanya.


Batin Gifa mantap.


*****


Gifa terlihat melambaikan tangan kepada sang Papa yang sebentar lagi akan berlalu dengan mobilnya. Papa Galih mengizinkan anaknya untuk bertemu dengan Maura sore ini. Om Malik, Leta dan Aisyah pun melakukan hal yang sama. Setelah mobil Papa Galih pergi, Leta dan Aisyah pun masuk kembali kedalam rumah.


"Apakah kabar Mamamu baik? Apakah ia sakit? Kenapa tidak datang untuk melayat Tante?"


Pertanyaan itu terus saja membuncah hati Om Malik sedari tadi.


"Om tenang aja ya. Mama baik-baik aja kok----"


Ucapan Gifali begitu saja terhenti ketika melihat mobil pujaan hati telah sampai. Maura pun turun dari kemudi mobilnya untuk menghampiri Gifali dan Om Malik yang masih berdiri dipekarangan untuk menunggu Maura.


Gifali menyambutnya dengan senyum. Ia pun melangkah untuk menghampiri Maura dan menggandeng tangannya, ikut kembali melangkah menuju posisi Om Malik.


"Om kenalkan ini Maura---"


"Hallo Om, saya Maura. Turut berduka ya Om atas kepergian tante. Semoga Om dan anak-anak Om diberikan kekuatan dan kelapangan jiwa."


"Aamiin, makasi ya Nak. Senang bertemu dengan Maura."


"Pacar mu, Nak?" Tanya Om Malik menoleh ke arah Gifa.


"Calon istriku, Om---" Jawab Gifa dengan wajah bahagia. Membuat Maura begitu merona karena malu-malu.


***


.


.


.


.


.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Mantanku Presdirku Suamiku


2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang



Dua Kali Menikah


__ADS_1


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.


Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️


__ADS_2