GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Maura Tidak Fokus


__ADS_3

Selamat siang guyss


Selamat baca


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di sekolah, terlihat Maura masih berjibaku dengan beberapa bahan adonan tepung, roti, cokelat serta perlengkapan pembuatan kue lainnya untuk bahan praktek hari ini. Dengan celemek yang sudah terpasang menutupi dada dan perutnya serta topi ala chef sudah bertengger dikepalanya. Ia siap mengikuti ujian praktek sekarang.


Entah mengapa walau Gifali sudah mengabarinya tadi pagi, tetap saja hatinya masih belum lega sempurna. Jauh dari dalam lubuk hatinya, seruan perpisahan selalu menderu-deru dan terus menghiasi jalan fikir nya.


Luna yang berdiri tidak jauh dari mejanya terus memperhatikan Maura. Ia terus berbisik untuk memberi kode agar Maura mau menoleh ke arahnya. Namun sayang Maura masih fokus dengan berbagai kesalahannya.


"Tidak boleh ada yang tengak-tengok ya. Kalau ketahuan nanti Ibu---Remedial!"


Lalu semua siswi menjawab dengan penuh keyakinan. "Baik, Bu Guru..."


Lalu Bu Guru tersebut menoleh ke arah Luna. "Luna?"


Pangkal bahu Luna mengedik sambil menggigit bibir bawahnya. Karena dirinya diketahui sedang menoleh dan berbisik ke arah Maura. Bukan karena ingin menyontek, tetapi ia ingin menolong anak perempuan itu dari remedial hari ini.


"Kenapa sih, Ra? Gue kode gini, lo ga faham juga. Nengok kek, ke arah gue----" Batin Luna.


Karena waktu terus berjalan, para siswi pun mulai memasak dengan hati-hati. Sesuai waktu yang sudah ditentukan oleh Guru tersebut.


Dua puluh menit kemudian.


"Waktu nya tinggal 5 menit lagi ya.."


Terlihat semua anak-anak yang sedang praktek menjadi lebih cepat dalam memasak. Di kelas Maura cukup dibilang pandai, tentu untuk membuat kue seperti ini sudah menjadi keahliannya sejak dulu.


Luna masih fokus ke dalam aktivitasnya namun ia tetap berusaha untuk terus berbisik kepada Maura.


"Ra...?" Seru nya dengan amat pelan. Ia terus menoleh ke arah Maura yang masih sibuk menata kue nya yang sudah matang di piring saji untuk siap di nilai oleh Gurunya.


"Ra...?" Bisiknya, namun sepertinya kali ini ia tidak selamat lagi dari amukan Guru nya tersebut.


"LUNA!!" Panggil Bu Fani yang sudah berdiri tepat disamping mejanya. Untung saja kue buatannya sudah tersaji dengan baik.

__ADS_1


"Bawa kue buatan kamu kedepan, sekarang!" Tukas Bu Guru.


Semua mata pun memandangnya penuh takut. Suara Ibu Fani memang begitu menakutkan.


Luna pun mengangguk dan menoleh ke arah Maura. Maura hanya memberi senyuman lebar sebagai tanda semangat. Luna memutar bola matanya jenga ke arah Maura. Seketika itu pula Maura berfikir.


"Luna kenapa ya?"


Tentu saja Luna ingin menyelamatkan Maura, namun sayang Maura lebih fokus kepada dirinya sendiri. Mungkin lebih tepatnya tubuhnya disini namun jiwanya melayang-layang karena terus memikirkan Gifali.


Setelah makanannya sudah dicicipi, dikritik dan diberi nilai. Ia pun kembali ke meja.


"Ayo Maura, maju kedepan!"


Maura mengangguk dan bergegas untuk maju sambil membawa hasil buatannya.


"Duh, Ra...moga lo selamat deh sama Bu Fani." Rintih Luna terus memperhatikan temannya yang tengah berdiri memunggungi nya didepan sana.


"Maura, kamu nggak salah?" Suara Ibu Fani terdengar menggetarkan dinding kelas, karena begitu kerasnya. Seketika itu pula ia meletakan sendok kembali di nampan setelah mengoreksi rasa kue buatan Maura.


"Kenapa, Bu?" Tanya nya polos. Ia merasa kalau dirinya akan aman dan mendapatkan nilai tinggi seperti biasa.


"KAMU SAYA REMEDIAL!!"


"Tuh kan bener, aduh, Ra----" Desah Luna dalam hatinya.


"Hah? Loh kok, kenapa Bu?" Tanya nya kembali polos.


"Cari sendiri kesalahan kamu dimana, ini tuh fatal Maura. Nggak biasanya kamu kayak gini!"


Maura masih terperangah, ia masih bingung kesalahannya ada dimana.


"Selanjutnya, ayo kamu Risna maju kedepan!" Seruan Ibu Fani terdengar kembali.


*****


"Makanya kalau gue panggil tuh nengok bentar. Lo tuh kayak nggak lagi hidup sama manusia tau gak, datar banget!"


"Maaf deh, Lun. Tapi sumpah deh aku gak tau loh kalau kamu panggil aku. Malah aku taunya kamu yang terus di panggil sama Bu Fani---"


"Iya itu tuh karena mau manggil lo! Gue mau bilang yang harusny lo buat tuh kue pisang kenapa jadi kue ubi yang lo buat, aneh---" Luna berdecak malas. Ia kembali duduk sambil meraih botol fanta yang masih berada digenggaman Maura.


"I--ya Lun, maaf ya. Aku yang salah, gak fokus." Jawabnya sendu.


"Mikirin apa sih? Cowok botak yang kemarin itu ya?" Luna tertawa.


Maura memiringkan bibirnya. "Aslinya gak botak kok Lun, dia abis kece---"


Ucapan Maura begitu saja terhenti ketika ia merasa ponselnya bergetar. Mungkin sudah berpuluh-puluh kali ada telepon masuk ke dalam ponselnya, namun karena fokus pada saat praktek ia tidak begitu memperhatikannya.


"Ya Allah Mama sampai miss caled 10x, ada apa ya?" Gumamnya. Ia membuka beberapa pesan yang masuk.


Kakak, Mama ada berita bagus buat kamu. Alhamdulillah Papa akhirnya restuin Kakak sama Gifali. Barusan Papa telepon Mama.


"Hah? Ya Allah, beneran kan ini??" Serunya tidak percaya.


Ia terus membaca pesan dari sang Mama berulang-ulang. Kedua matanya naik turun, ia terus mencermati bahwa pesan ini memang benar.

__ADS_1


Lalu


Ia pun beranjak dari duduknya dan berjingkrak- jingkrak kesenangan. "Alhamdulillah...alhamdulillah...ahh aku senang....senang banget, Lun!" Ia menggoyang-goyangkan bahu Luna yang berbalik melongo menatapnya.


"Lo kenapa, Ra? Di remedial aja bangganya sampai kayak gitu?" Cibir Luna.


Maura seketika terdiam untuk menyembunyikan rasa senang yang membahagiakan. Tentu karena sikapnya ini sudah menarik banyak perhatian teman-temannya yang lain, dan terus menatapnya dengan rasa heran serta aneh.


"Gak apa-apa kok, aku lagi seneng aja---" Maura menjiwil pipi Luna. Ia pun berjalan sedikit jauh dari Luna. Ingin mengabarkan kabar bahagia ini kepada Gifali.


Di seberang sana, Gifali masih mengerjakan soal-soal pra ujian. Lelaki cerdas itu terlihat bersemangat dan mampu mengisi soal dengan mudah.


Drrt drrt drrt


Maura Incamming call


"Maura?" Ucapnya. Ia pun bangkit dari kursinya lalu menghampiri kepada Pak Guru yang sedang hening di mejanya.


"Pak, maaf saya ke toilet dulu sebentar."


"Iya baik." Pak Guru mempersilahkan Gifa untuk meninggalkan kelas.


"Hallo, iya Sayang kenapa?"


"Gifa....alhamdulillah aku seneng banget !!" Terdengar suara Maura begitu kembali berseru bahagia.


"Kamu kenapa sayang..?" Gifali tetap mendengarkan kekasihnya yang sedang tertawa senang.


"Mama bilang, Papa udah restuin kita sayang. Alhamdulillah kan??"


Setelah mendengar ucapan Maura, raut Gifali tampak bahagia. Ia termenung sebentar dengan senyum lebar menghiasi wajah manisnya.


Aneh, kenapa bisa secepat ini, fikir nya.


"Gifa ??" Maura kembali memanggil ketika dirasa suara diseberang sana hanya ada dengusan nafas tanpa respon balik.


"Sayang..?" Hentakan nyaring kembali terdengar, sontak membuat Gifali menjauhkan ponselnya sedikit dari daun telinganya.


Gifali tersadar dari lamunan yang membahagiakan.


"Iya cantik..." Suaranya begitu menggoda. "Maaf ya aku melamun, karena aku senang banget dengar nya..."


"Ra, ayo cepetan! Anak-anak yang di remedial disuruh kumpul semua di kelas!"


Suara Luna terdengar diambang sambungan telepon, membuat Maura berbisik ke arah Luna dan seketika itu pula kening Gifali mengkerut.


"Ra, kamu di---?"


"Sayang udah dulu ya, nanti sore aku telepon lagi, kamu jangan lupa makan ya..."


Tut.


Sambungan telepon terputus begitu saja. Maura langsung mematikan ponselnya cepat sebelum memberikan kesempatan kekasihnya untuk berbicara.


Raut wajah Gifali pun berubah menjadi bingung.


"Maura di remedial? Kok bisa?"

__ADS_1


****



__ADS_2