
Tin..tin..
Bunyi klakson mobil terdengar berisik didepan rumah.
"KAKAK CEPAT!!" suara adiknya terdengar dari pintu kemudi sambil terus membunyikan klakson.
"Tunggu---" Maura berdecak, sambil menenggak susunya. "Mah, kayaknya Ammar harus dibelikan kendaraan sendiri deh, jangan berdua sama aku, tuh liat nggak sabaran. Masih pagi, ngapain udah mau berangkat!"
Mama Alika tertawa. "Ammar kan belum 17 tahun sayang, dia belum punya SIM. Di antar sopir nggak mau, di antar Mama atau Papa, juga nggak mau---"
"...Ammar mau nya sama kamu, Kak!" Seketika Maura menoleh, ketika suara Papa nya terdengar sudah sampai di meja makan.
"Papa mau roti atau nasi goreng?"
"Nasi goreng aja, Mah---"
"Tapi Pah, Mah. Aku kan jadi muter-muter setiap hari. Aku harus antar dulu Ammar ke sekolah, terus pulangnya aku harus jemput lagi. Aku jadi telat ke toko!" Decak nya kesal.
Namanya Maura Zivannya Artanegara. Ia adalah anak sulung dari keluarga Bilmar Artanegara. Karena dua bulan yang lalu ia baru berulang tahun, maka dari itu sang Mama memberinya sebuah mobil untuk kepentingan pribadinya.
Berbeda dengan anak lainnya, Maura memilih bersekolah di SMK Pariwisata jurusan tata boga. Sejak di sekolah dasar, ia sudah mengikuti jejak Mama yang hoby memasak dan membuat kue. Sang Papa sempat menolak keinginan sang anak, namun karena Maura bersikeras dengan pendiriannya, akhirnya kedua orang tua nya luluh begitu saja.
Keahlian sang Mama pun menurun kepadanya. Karena melihat perkembangan sang anak. Orang tuanya sudah membuatkan ia sebuah toko kue dan roti dari Maura mengenyam kelas satu di bangku SMK.
Kini toko tersebut sudah berjalan hampir 2,5 tahun dengan memperkerjakan 7 orang karyawan dengan pendapatan yang lumayan tinggi.
Di umur nya yang masih belia, ia sudah menjadi pengusaha muda yang sukses.
"Ya udah Nak, nanti Mama akan coba bicara lagi sama Ammar. Sekarang berangkat dulu sana, antar dulu adikmu hari ini."
"...Papa juga nanti akan bicara sama adikmu, sekarang antar lah dulu Ammar."
"Baik, Pah, Mah." Ia pun bangkit dari meja makan untuk berpamitan kepada Papa dan Mamanya. "Oh iya, nanti malam Papa dan Mama mau dibelikan apa?"
Rutinitas Maura setiap hari setelah pulang dari sekolah dan toko adalah membawakan kedua orang tuanya cemilan.
"Apa aja terserah Kakak--"
"Ya udah kalau gitu, aku berangkat Mah, Pah!"
Ia pun berlalu menuju mobilnya.
"Turun kamu, biar Kakak yang bawa!" Maura menyuruh Ammar untuk cepat turun dari pintu kemudi. "Udah Kak, cepat naik. Biar aku yang bawa!"
Ammar tetap kokoh dengan pendiriannya. "TURUN!!" Maura sedikit berteriak.
"Cepat masuk Kak, udah telat nih!"
__ADS_1
"Tapi kamu nggak boleh bawa mobil ini, kamu nggak punya SIM. Nanti bahaya, Ammar!"
"Udah ah tinggalin---" Ammar memutar kunci mobil, suara deru mesin sudah terdengar, Maura yang takut ditinggal akhirnya hanya bisa menurut dengan kemauan sang Adik yang masih mengenyam ilmu di bangku SMP.
Dalam perjalanan Maura terus mengoceh tiada henti kepada sang adik. Dan Ammar hanya akan selalu menggodanya, sebagaimana pun kenakalannya.
Ia tetap menjadi adik kecil yang selalu berusaha ingin melindungi sang Kakak. Baginya Mama dan Kakak adalah dua wanita tercantik yang paling ia sayangi di dunia ini, yang harus ia lindungi keberadaanya.
"Udah Kak, jangan marah-marah. Nanti kamu cepat tua! Mau enggak punya pacar?"
Mendengar ucapan itu, sontak ia terdiam seketika. Ia terus menatap lurus ke depan jalan. Menyandarkan kepalanya begitu saja di sandaran kursi. Ada hal sensitiv yang mengena di hatinya ketika kata pacar disingungg.
Lalu ia teringat sesuatu, dibuka tas miliknya dan diraihnya dompet micky mouse kesukaannya. Ia lihati foto yang sudah usang terpajang disana. Foto kecilnya bersama anak lelaki yang sebaya dengannya.
"Kamu dimana, Gifa? Sudah 12 tahun, kita tetap tidak bertemu. Lihatlah walau sudah sangat jelek, gelang ini tetap aku pakai!"
Ia ratapi sebuah gelang yang selalu ia pakai ditangannya. Kadang gelang yang sudah jelek itu akan terus ia perbaiki jika putus atau rusak. Gelang itu adalah peninggalan dari anak lelaki kecil yang saat ini fotonya sedang ia genggam.
Karena sosok anak lelaki kecil itu juga yang membuat Maura menutup diri dari lelaki yang ingin memintanya menjadi kekasih.
Sungguh ironi...
Dan
Drggg.
"Ya Allah! Ammar, kamu tabrak orang??"
Ammar yang masih kaget hanya melotot diam menatap ke depan. Terlihat seorang pemuda sepeda motor tengah terdeprak di aspal.
"Tuh kan lihat! Makanya jangan sok jago!!" hardik Maura, lalu seketika itu ia turun dari pintu mobil.
"Maaf, kamu nggak apa-apa?" tanya Maura terbata-bata, ia pun mulai berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan si pemuda yang ditabrak.
"Bisa bawa mobil nggak sih? Anak SMP udah disuruh bawa mobil!" Arah mata Gifali terus melihat ke Ammar yang masih diam terpaku di kemudinya. Anak ini belum mau turun, ia takut.
Maura menoleh ke arah Ammar dengan delikan tajam. "TURUN!" Amar hanya menggeleng dan memberikan kode maaf dari tangannya.
"Maaf ya, adik saya nggak sengaja! Coba saya lihat mana yang sakit?"
Dalam refleksnya Maura memegang betis Gifali yang terdapat luka robek disana. Sontak hal ini membuat Gifali tercengang. Bukan karena betisnya disentuh oleh wanita, tetapi ia tersentak ketika melihat gelang yang telah melingkar di tangan Maura.
"Ini?" dengan beraninya ia menyentuh gelang tersebut. Ia pun melepas helm fullface nya untuk menatap wajah Maura lebih jelas.
Blass
Kedua mata mereka pun saling bersitatap. Ada angin segar yang berhembus membuat sejuk pertemuan mereka. Mungkin sebuah kerinduan berbelas tahun yang keduanya rasakan.
__ADS_1
Namun sayang walau mereka masih mengingat nama orang yang dirindukan. Gifali dan Maura tidak mampu untuk mengingat dan mengenali wajah masing-masing.
Pertemuan mereka di usia kanak-kanak dulu begitu singkat, yang ada dibenak mereka hanya wajah anak kecil yang terbayang-bayang dalam memori.
Maura dengan cepat menarik tangannya, ia menjauh ketika Gifali ingin menyentuh gelang itu kembali.
"Jangan macam-macam!" sentak Maura tidak suka. Ia pun mengeluarkan uang merah dua lembar kepada Gifali. "Ambil ini, anggap sebagai biaya pengobatan lukamu. Maaf, saya nggak bisa antar kamu ke rumah sakit. Sekali lagi maaf---"
Gifali masih melamun menatapi wajah Maura, ia masih membisu dan mengingat-ngingat ada apa dengan gelang itu. Ia mendadak lupa.
Lalu
Tiba-tiba kedua matanya terbelalak, Ingatannya kembali ketika mobil Maura sudah melaju dan meninggalkannya yang masih tersungkur di aspal.
Ia tebangun dari lamunan seperti ada sengatan listrik yang langsung menyengat isi otak nya, kedua matanya lama terpejam.
Lalu
Terbuka lebar.
"Maura?" desahnya.
***
.
.
.
.
.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
__ADS_1
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️