GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Gifa tetap anakku! Permata hati kami!


__ADS_3

Haii kesayangan, selamat malam.


Aku kembali guyss


Selamat baca yaa


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


"Difa?"


Suara lelaki yang begitu khas, bijak dan berkarisma. Membuat Mama Difa seketika menoleh untuk berbalik ke sumber Suara. Ia terlihat masih mendekatkan layar ponsel ke telinganya.


Dua bola matanya seketika membulat dan melebar, garis senyum kini sudah nampak untuk memberikan sambutan hangat selamat datang kepada Om Malik.


Mama Difa masih mengangguk-ngangguk mendengarkan apa yang Ganaya bicarakan.


"Ya Nak, begitu saja ya. Hati-hati kalau mau kesini ya."


Tut..sambungan telepon akhirnya terputus. Mama Difa memberitahukan kepada Ganaya, kalau Kakak mereka sudah sadar.


Om Malik mengarahkan tangannya untuk bersalaman dengan Mama Difa. Namun bukan menyambut untuk berjabat tangan. Mama Difa malah mencium tangannya. Ia begitu refleks! Ritual salim menyalim memang selalu terjadi diantara mereka disaat 17 tahun yang lalu.


"Minumlah Dif, kamu pasti haus..." Om Malik menyodorkan kantong plastik yang berisikan beberapa minuman.


"Galih?" Om Malik mengedarkan matanya untuk mencari-cari sosok keberadaan lelaki itu.


"Lagi antar pacarnya Gifa dulu kerumah, Pak..."


"Oh, Maura ya?"


Mama Difa menyerengitkan kedua matanya, ia terdiam sebentar.


"Pak Malik tau dari mana tentang Maura? Gifali cerita?" Tanyanya, ia masih belum faham.


"Bukan hanya sekedar cerita, saya malah sudah bertemu dengannya---"


"Maksudnya gimana? Difa nggak ngerti!"

__ADS_1


"Saat Galih dan Gifali datang ke rumah saya, Dif--"


Mama Difa memotong cepat dan rasa ketidaktahuan yang baru saja terungkap. "Kapan?? Ada hal apa, kenapa mereka ke rumah kamu, Pak?


Wajah Om Malik dan Mama Difa saling melongo. Sepertinya dua orang ini tengah dipermainkan.


"Kamu nggak tau, Dif?" Tanyanya dengan suara yang frustasi.


"Ya Allah...aku sudah tebak ini dari awal!" Desah Om Malik begitu saja menghiasi wajah Mama Difa yang semakin menegang dalam rasa penasarannya.


"Tau apa Pak? Tentang apa? Maksudnya gimana?"


Om Malik menghela nafasnya terus menatap dua bola mata wanita yang pernah ada di hatinya dulu.


"Kinanti sudah meninggal----!!"


Bagai pecutan halilintar di angkasa, suara mencekam begitu saja menggelegar di telinga Mama Difa. Seketika wanita itu terperangah, ia menatap dalam-dalam bola mata lelaki yang ada dihadapannya sekarang. Tangannya terasa bergetar dan tubuhnya seketika lemas.


"A---"


Untuk mengucap kata saja, Mama Difa tidak sanggup. Dadanya begitu pilu dan linu. Tega-teganya suami dan anak yang begitu ia cintai, membohongi dirinya secara mentah-mentah.


"Pak...?" Rintih nya. Air mata begitu saja menggenang dan turun menetes. Mama Difa kembali menangis untuk kedua kalinya. Memang hari ini adalah hari nestapa untuknya.


"Maaf..." Ucapnya pelan.


Mama Difa terlihat terisak. Ia menunduk karena malu.


"Sudah Difa, nggak apa-apa..."


Om Malik tetap sama seperti dulu. Ia tetap tenang, berfikir jernih dan tidak pernah mendendam.


Ia tahu dirinya dan Mama Difa pernah melakukan kesalahan dimasa lalu. Mungkin itu yang membuat Papa Galih menjadi merana berkepanjangan.


"Waktu itu saya mengabari Gifa kalau Kinanti sedang kritis dan sudah masuk ICU. Tapi sayangnya nyawa Kinanti tidak bisa bertahan lama." Suara Om Malik terdengar parau. Ia terus menahan agar tidak menangis.


Mama Difa terus menatap Om Malik dengan wajah sendu dan pilu. Sebegini kah hati suaminya. Suami yang ia nikahi selama 22 tahun?


"Galih dan Gifa katanya sempat datang ke Rumah Sakit, namun mereka terlambat. Jenazah Kinanti sudah lebih dulu disemayamkan dirumah, maka dari itu mereka akhirnya menyusul untuk melayat."


"Hhh..." Mama Difa masih saja menggelengkan kepalanya terus menatap wajah Om Malik yang mau menangis.


"Saya selalu hormati apapun keputusan suami kamu, Dif. Itu pasti yang terbaik..." Om Malik menyeka genangan air mata tersebut.


"Tapi ini nggak adil, Pak! Bertahun-tahun aku menerima kesalahan besarnya dengan Gita. Aku kembali kepadanya dan mengabdikan diriku untuknya. Apa semua itu belum bisa membayar semua kesalahanku?"


Melihat Mama Difa seperti ini, ada rasa sesak yang terasa didada lelaki ini.


"Dania juga sudah meninggal, Dif. Apa kamu tau itu? Waktu itu aku tidak sengaja bertemu dengan Galih di pemakaman, ia membuang jauh mukanya agar aku tidak mempunyai ruang untuk menanyakan dimana keberadaan kamu kepadanya...."

__ADS_1


Mama Difa semakin terisak, ia mengepalkan kedua tangannya menahan emosi dan rasa kecewa.


"Bahkan tentang Mba Dania pun, aku tidak diberitahu olehnya.." Wajah Mama Dif mengerang, ia terlihat sangat emosi. Kedua matanya kembali bengkak.


"Mungkin saja ada alasan dibalik semua ini. Galih takut, kalau kamu bertemu lagi dengan saya atau juga Fajar!"


"Mungkin Difa akan selalu menjadi wanita hina dimatanya, tidak ada kepercayaan sedikitpun dari Galih untukku, Pak!"


Papa Galih amar mencintai Mama Difa, ia trauma jika Mama Difa masuk kembali kedalam kehidupan dua lelaki itu.


"Sudah jangan salahkan Galih. Difa harus bisa berfikir tenang. Jangan dipermasalahkan lagi, saya hanya meminta doa kamu untuk Almarhum istri saya..."


Bijaksana sekali lelaki ini. Lelaki yang pernah mabuk dalam cinta terlarang yang mereka buat. Berhasil mengakhiri dan mencoba untuk terus bersahabat dalam keadaan.


Dan akhirnya mereka sembuh dan mampu membuktikan bahwa hubungan mereka harus berakhir dengan cepat.


"Difa akan mengirimkan doa untuk Bunda.." Ucapnya pelan, hatinya masih saja terasa sesak.


"Kamu keterlaluan, Mas!" Gumamnya.


"Jangan pernah tinggalkan Gifa dalam keadaan apapun. Dia tetaplah anak kalian."


"Apa yang Pak Malik sembunyikan? Kenapa ucapan kamu sepertinya tepat dalam suasana kami yang seperti ini?"


"Darah Galih dan Gita berbeda dengan Gifa! Siapa Papa kandung anakku, Pak? Kamu pasti tau kan? Iya kan? Jawab Difa! Betulkah Galih bukan Papanya?"


Pertanyaan beruntut itu terus terus menyiksa jiwa Om Malik. Rasanya ia sudah tidak kuat untuk menyimpan rahasia ini lama-lama. Tapi tidak! Om Malik sudah berjanji dengan Gita, bahwa ia akan menutup rapat tentang ayah kandung Gifali. Ia tidak mau membuat Galih membenci Gifali.


Ia masih memikirkan jiwa dan hati Gifa jika anak itu tahu, dia bukanlah darah daging dari Galih Hadnan. Pasti Gifali akan down dan meninggalkan semua keluarganya.


Ia akan merasa menjadi anak yang sangat tidak berharga dan mungkin saja ia akan melepas cintanya dan meninggalkan Maura.


"Pak? Jawab Difa!"


Om Malik menggelengkan kepalanya. "Saya cukup kaget dengan kenyataan Gifa yang berbeda darah dengan Galih, tapi saya sama sekali tidak tau siapa ayah kandung dari Gifa...."


Mama Difa mengusap wajahnya dengan kasar. Jantungnya kembali bergemuruh. "Semoga saja hasil tes DNA nanti, mengatakan kalau Gifa memang betul anak Galih, Pak..."


"Namun jika Gifa memang bukan anak Galih, tolong kembalikan Gifali kepada saya---Karena ia tetap keponakan Kinanti!"


"Enggak Pak! Nggak ada yang bisa mengambil Gifali dariku! Gifa tetap putraku, permata hati kami!"


Mama Difa menatap tajam kedua bola mata Om Malik. Wanita ini bersumpah akan selalu mempertahankan Gifa sampai tenaganya sudah habis berurai.


Semoga semesta selalu menolongmu, Gifa.


****


Like dan Komen ya guyss❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2