GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Ganaya Hanya Ingin Maura


__ADS_3

Selamat baca ya guyss


❤️❤️


Lonceng tanda istirahat sudah berbunyi, Gifali akan setia menunggu Gadis di bangku taman sekolah. Semenjak kecelakaan tadi, ia menjadi mendadak diam. Hatinya gusar, ada rasa gugup yang membara. Ia terus terbayang-bayang akan wajah Maura kecil dimasa lalu.


"Sial, kenapa nih gue?Jangan bilang gue suka sama cewek itu! Tapi gelang itu? Maura? Ah, nggak mungkin--"


"Dorrrr!!! Kamu kenapa Gifa?" Gadis menghentak bahu Gifali, membuat pemuda itu tersentak kaget.


"Untung nggak copot nih jantung, hehehe--" balas Gifa, yang senang melihat kedatangan pujaan hatinya.


"Nih, aku bawakan kue. Ayo makanlah Gifa!" Gadis menyodorkan tempat makanan berisikan potongan kue blackforest.


"Siapa yang ulang tahun?"


"Setiap minggu Kakak sepupuku akan datang kerumah mengantarkan kue buatannya untuk Kakek kami. Jadi ini masih ada sisa, aku bawa buat kamu--"


"Pintar sekali bisa buat kue seenak ini, kayaknya kamu harus belajar sama dia, Dis."


"Iya sih, tapi kayaknya aku nggak tertarik sama dunia masak-memasak, mungkin nanti.."


Gifali tetap tersenyum sambil terus melahap kue itu. Tepatnya kue buatan Maura, buatan wanita yang selalu dalam benaknya bertahun-tahun.


"Oh iya, Gifa. Bisa nggak nanti kamu antar aku ke toko kue Kakak sepupuku sepulang sekolah?"


"Nanti sopir kamu bagaimana?"


"Gampang, bisa aku atur seperti kemarin--" Gadis tertawa.


"Ya, baiklah. Aku akan antar kamu kemana pun kamu mau."


"Oh iya, bagaimana kemarin dengan Papamu, apakah dia marah, Dis?"


Gadis menghela nafasnya sebelum akhirnya ia menjawab.


"Papa nggak marah sih. Papa hanya berpesan kita boleh dekat, tapi tidak boleh melakukan hal yang macam-macam. Tapi yang saat ini aku takutkan adalah jika hubungan kita diketahui oleh Mama, Mama ku itu galak, Gifa!" suaranya mulai pelan.


Gifali mengangguk dan tetap memberi senyuman hangat.

__ADS_1


"Kamu tenang, Dis! Aku akan menjaga kamu. Aku juga nggak akan melecehkan kamu--"


"Makasi Gifa, aku sayang kamu!"


"Aku juga say----"


Tiba-tiba ucapannya terhenti begitu saja, ketika mendengar suaranya di panggil.


"Kakak!!" seru Gana beberapa meter dari jarak mereka saat ini.


"Ayo Kak, kita ke kantin!" ucap Gelva menarik-narik tangan sang Kakak.


"Kamu duluan aja ke kantin, aku mau bicara dulu dengan Kakak!"


"Bicara apa sih?" gerutu Gelva.


"Bentar ya, Dis. Aku kesana dulu."


"Baiklah, aku tetap menunggu disini!"


Gifa pun berjalan menghampiri adik-adiknya.


"Bisa diam nggak sih!" Gana menepis tangan Gelva yang memegang lengannya.


Galih pun melangkah perlahan untuk menghampiri kedua adiknya.


"Kenapa Gana?" tanyanya ketika ia sudah sampai bersejajar dengan tubuh adik-adiknya.


"Antar aku ke toko buku nanti setelah pulang sekolah ya, Kak.." Pinta Gana.


"Udah, sama aku aja Kak---" Gelva berbisik pelan.


"Nah iya itu, kenapa nggak sama Gelva aja?" Galih tetap mendengar walau suara Gelva seperti gumamam orang yang sedang berkumur-kumur.


"Ih, kamu!" Delikan mata tajam Gana ke arah adiknya. Lalu seketika berubah manja ke Kakaknya.


"Nggak mau sama dia, dia nggak akan bisa bantuin pilih bukunya. Ayo dong Kak, masa temani adiknya sendiri nggak mau--" cicitnya sendu.


Lalu Gifali menoleh sebentar ke arah Gadis, yang sedang memberikan senyum kepadanya. Wanita itu masih setia menunggunya disana.

__ADS_1


"Kenapa Kak? Keberatan antar aku, karena dia??" ucapan Gana membuat Gifa seketika menolehkan kembali wajahnya.


"Kamu kok gitu ngomongnya??"


"Aduhh, kakak! Udah ayo kita ke kantin!" Gelva tetap menarik paksa tangan Ganaya. Sang adik tidak mau melihat kedua kakaknya ribut di sekolah. Sudah cukup hanya dia yang menjadi biang keributan disekolah ini.


"Lepasin!" Gana menghentak tangan Gelva begitu saja terayun ke bawah.


"Duh, sakit--"


"Kamu kenapa sih, Gana?" ucap Gifa mulai kesal, lalu ia merubah tatapannya ke arah Gelvani. "Kamu nggak apa-apa, Gel?"


"Kakak memang selalu pilih kasih! Kalau dirumah lebih sayang sama Gelva! Kalau disekolah selalu mengutamakan Kak Gadis! Apa aku bukan adikmu??" Gana mengungkapkan segala kekesalan hatinya selama ini.


"Aku kesal sama kalian!" Gana begitu saja pergi dari pandangan mereka berdua. Gifali hanya menatapi Gelva seraya meminta penjelasan, ada apa dibalik semua ini.


"Aku nggak tau, Kak!" cicit Gelva.


"Kayaknya dia nggak suka sama Gadis--" Gifali mendesah panjang.


"Dia hanya suka, kalau kakak bersama dengan Kak Maura... ups!" Gelva dengan cepat menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Kedua mata Gifa terbelalak.


"Apa tadi?" Gifa sesungguhnya mendengar jelas apa yang diucapkan oleh adiknya. Namun ia hanya ingin mengulang ucapan Gelvani.


"Tadi, kamu ucap siapa?"


"Kak, udah ya. Fadil udah tunggu aku di kelas!" Gelva pun berlari begitu saja ke arah kelasnya. Bisa mati dia, di marahi Ganaya kalau Gifali tahu masalah ini.


Tinggal Gifali yang masih terdiam dengan dada yang semakin sesak. Bukan karena ucapan Gelva semata, tetapi betul memang nama Maura selalu menusuk dada dan ingatannya.


Lalu bagaimana dengan wanita yang saat ini masih setia menunggunya dibangku taman. Apakah ia benar-benar menyukai Gadis seperti ia selalu mengingat Maura di dalam relung hatinya yang paling dalam.


Semoga suatu saat nanti, ketika kalian dipertemukan tidak ada hati yang tersakiti. Semoga saja!


****


Like dan Koment ya Guyss❤️

__ADS_1


__ADS_2