
Selamat baca ya
🤗🤗
.
.
.
.
.
Mendengar bidadari hati nya sedang sakit, Gifali meminta untuk pulang malam ini juga menuju Jakarta. Om Malik pun akhirnya mengantarkan Gifali dan Mama Difa kembali pulang langsung menuju Rumah Sakit. Demi kasih sayangnya kepada keponakan, ia mau meninggalkan Letta dan Aisyah yang hanya berdua di Villa.
Di bangku belakang, Gifali terus menatap ke arah depan dimana Mama dan Pamannya berada. Sesekali ia berdehem apabila Pamannya menoleh ke arah Mamanya yang tidak sengaja tertidur. Om Malik pun merasakan perubahan sikap Gifali, keponakannya hanya menjawab seperlunya apabila sang Paman bertanya. Karena wajah Papa Galih terus saja terbayang didalam benaknya.
Dua jam kemudian. Mobil mereka sudah tiba di parkiran Rumah Sakit. Walau waktu sudah menunjukan pukul 23:00 dan jam besuk sudah lewat. Gifali tetap memaksa menerobos area kamar perawatan. Om Malik tetap menunggu di mobil, sedangkan Mama Difa tetap mengikuti langkah Gifali yang terlihat cepat dan tergesa-gesa.
Kebetulan malam ini Mama Alika dan Papa Bilmar dipersilahkan untuk pulang dulu kerumah oleh Ammar agar bisa beristirahat. Karena mereka sudah seharian terjaga di Rumah Sakit.
Ammar merentangkan kedua tangannya setelah ia terbangun karena ketiduran di sofa. Ia pun menoleh ke arah Maura yang sudah tertidur di ranjangnya. Ia pun bangkit dan menghampiri sang Kakak.
Menaikan selimut sampai ke dada Maura. Ia mengusap rambut Maura dan mencium keningnya.
"Sabar ya Kak, aku janji akan bawa Kak Gifa..." Hati Ammar begitu saja tercabik sedih, karena selama ini ia tidak pernah melihat Kakaknya menderita seperti ini.
Ammar pun berlalu ke luar dari kamar perawatan Maura. Ia pun merogoh kantung celananya untuk meraih ponsel. Mencari nama yang ingin ia hubungi---Ganaya! Karena susah sinyal ia pun pergi ke arah taman. Ngomong-ngomong selama ini Ammar terus mendekati Ganaya. Walau pesan dan teleponnya hanya dianggap angin berkelabut oleh Ganaya.
Dari arah lain.
"Kak, tunggu Mama, Nak..." Seru Mama Difa yang mengikuti langkah anaknya yang begitu cepat mendahuluinya.
Walau ia belum sepenuhnya memaafkan sang Mama, tapi ia begitu mencintai wanita itu. Ia pun berhenti dari langkahnya lalu memundurkan langkah kakinya untuk menggandeng tangan sang Mama. Gifa pun memelankan langkahnya untuk menyamai langkah sang Mama yang sudah mulai letih.
"Ini Kak kamarnya Maura.." Ucap Mama Difa, ia masih ingat kamar yang ia masuki tadi pagi sebelum mencari keberadaan Gifali.
Entah mengapa, mendadak Gifali mengubah sikapnya menjadi kaku. Ia hanya diam dan membisu tepat didepan kamar Maura. Sepertinya setan-setan kembali membisikkan nya.
"Ayo, Nak.." Mama Difa menarik tangan sang anak, ia merasa heran dan aneh melihat perubahan sikap Gifali.
Gifa pun menurut dan akhirnya melangkah masuk ke dalam ruang perawatan. Raut sedih memancar dari wajah Gifa ketika melihat wajah Maura yang sedang tertidur namun sangat pucat. Masih terlihat ada bekas basahan air mata disekitar bulu matanya. Gifa menyesapkan semua jari jemarinya ke telapak tangan Maura, ia genggam lalu diciumnya berkali-kali.
"Ma--" Suara Mama Difa terhenti ketika sang anak menggelengkan kepalanya.
"Jangan, Mah..gak perlu bangunin Maura!"
Mama Difa pun menurut dan hanya bisa diam, dia fikir karena sang anak tidak ingin membangunkan Maura yang sudah nyenyak tertidur.
__ADS_1
Namun Mama Difa salah sangka, ia salah menafsirkan tentang sikap dan gelagat sang anak.
Setelah Gifa mengecup dahi Maura. Ia pun berbalik menatap sang Mama.
"Ayo Mah kita pulang!" Gifa melepaskan tangan Maura lalu beralih menggandeng tangan sang Mama. "Ayo Mah!" Ajak Gifa.
Mama Difa mengerutkan keningnya menjadi beberapa lipatan yang tidak beraturan.
"Kok pulang? Maura kan belum liat kamu, Nak----"
Gifali menghela nafasnya, ia mencoba menahan dadanya yang begitu sesak untuk bisa bersikap tenang.
"Kakak gak pantas buat dia, Mah! Mulai sekarang Maura harus bisa lupain Gifa!"
"Kakak!" Seru Mama Difa marah.
Tentu saja suara wanita paru baya itu terdengar begitu nyaring, membuat Maura membuka kedua matanya dengan samar-samar sambil memegang kepalanya yang terasa pusing karena mendadak terbangun.
Kornea matanya ya gelap langsung mengerjap dan melebar. Ia mengusap-usap kedua matanya karena tidak percaya jika yang ia lihat sekarang adalah sosok yang ia tangisi seharian.
"Gifa..sayang.." Desah Maura dengan wajah bahagia. Gifa dan Mama Difa pun menoleh ke arah Maura yang mulai bangkit untuk duduk berselonjor.
Tanpa menunggu lama
Blass.
Gifa melepas tangan Mamanya dengan cepat, ia pun berlalu meninggalkan kamar perawatan. Maura terkejut melihat sikap Gifali yang seperti itu.
"Gifa...." Seru Maura.
Si wanita baik itu langsung menarik lepas jarum infus dari punggung tangannya, tidak perduli darahnya bercecer begitu saja dilantai. Dia ingin mengejar lelaki itu.
"Nak, jangan dilepas." Mama Difa membantu Maura untuk menuruni ranjang.
"Tante jangan halangi Maura, aku mau kejar Gifa!" Maura melepas tangan Mama Difa, ia pun melangkah cepat untuk mengejar sang kekasih.
Dengan tubuh yang lemas, lemah dan panas masih menyiksa tubuhnya. Ia terus berlari menyusuri lorong rumah sakit untuk mengejar Gifali. Rambut yang terkibas-kibas karena angin, masih memakai dress Rumah Sakit dan tanpa alas kaki. Ia terus menembus dinginnya malam dengan kekuatan yang dipaksakan untuk mengejar pangeran hatinya. Calon suaminya, lelaki yang ia inginkan untuk menua bersamanya.
"Gifa..."
"Tunggu aku!"
Maura terus berlari dan Gifa tetap melangkah cepat tanpa mau menoleh, walau ia tahu Maura tengah mengejarnya. Suara wanita itu sangat menggema di lorong Rumah Sakit, terus saja merobek hati Gifali. Demi Tuhan, ia ingin sekali berbalik dan memeluk tubuh Maura. Ia rindu wanita itu. Namun kenyataan tetap menjadi hal utama dikepalanya.
Ia tidak pantas untuk Maura. Gifali merasa ia tidak sebanding dengan Maura, ia harus bersikap seperti ini agar Maura membencinya dan mau melupakan dirinya.
"Gifa, tolong jangan pergi!"
Gifali tetap dalam keputusannya, ia akan meninggalkan Maura. Menghempaskan segala penantian 12 tahun begitu saja.
__ADS_1
Bug.
Maura yang tengah berlari lalu jatuh ke lantai karena tersandung sesuatu.
"GIFA!!" Suara Maura terdengar lebih melengking, ia seperti tidak punya kekuatan lagi.
Gifa pun menoleh, ia kaget melihat Maura tersungkur. Dengan cepat ia pun memutar tubuhnya untuk menghampiri Maura yang masih terjerembab di atas lantai. Namun baru dua langkah, stimulus otaknya kembali berproses. Ia teringat akan niat dan keputusannya yang sudah bulat. Gifali menghentikan langkahnya dan menatap Maura yang masih menatapnya balik dalam kesedihan yang mendalam.
"Gifa, tolong aku..." Maura menjulurkan salah satu tangannya ia mengiba kebaikan hati Gifali untuk merengkuh tubuhnya.
"Lupain aku ya, Ra!"
"Apa salahku, Gifa...." Maura terus menangis terisak.
Gifali menyeka air matanya yang mau menetes. Ia berbalik untuk menjauhi Maura dan melangkah kembali untuk meninggalkan wanita itu yang masih tersungkur.
"Gifa! Teganya kamu sama aku!" Ucapan itu membuat Gifa terhenti dari langkahnya. Ia hanya diam dan memejamkan kedua matanya. Harapan untuk menikahi wanita itu sudah tidak ada lagi, ia tidak mau menyiksa Maura dengan dirinya yang tidak bisa menjajikan hidup lebih baik. Walau keluarga Hadnan akan tetap menerima kedatangannya, tapi Gifali akan tetap tahu diri dan ingin berdiri di atas kakinya sendiri. Ia hanya ingin membuat dirinya pantas untuk Maura.
Demi malam yang paling dibenci Maura karena sikap Gifa yang dingin kepadanya, Gifa tetap melanjutkan langkahnya kembali.
Maura tetap tidak patah arang, si wanita sabar itu tahu bahwa Gifali sedang kacau karena masalah keluarganya. Si wanita rendah hati itu tidak marah walau Gifa sudah menyakiti hatinya akan sikapnya yang seperti ini, ia pun mencoba bangkit berdiri walau harus terjatuh lagi. Maura kembali berlari untuk merengkuh tubuh Gifali.
Muara kembali mengejarnya dalam heningnya malam di lorong Rumah Sakit. Lantai yang begitu dingin tidak menyurutkan langkah kaki Maura.
Lalu
Dep.
Akhirnya!
Maura berhasil menerjang tubuh Gifali. Ia memeluk lelaki itu dari belakang.
"Gifa tolong.." Nafas Maura tersengal-sengal. Gifali pun merasakan dada Maura begitu terasa berdebar-debar di belakang punggungnya.
"Tolong jangan pergi Gifa! Aku mohon----" Maura terus memeluk Gifali ia mengunci kedua tangannya di perut calon suaminya.
Dan
Tak lama kemudian, tubuh Maura begitu saja menggelosor jatuh ke bawah. Tubuhnya begitu dingin serta cucuran keringat terus membanjiri wajah dan lehernya. Ia jatuh tidak sadarkan diri lagi.
"Sayang...!"
Angin terus berhembus kencang, menjadi saksi untuk malam yang begitu menyedihkan saat ini. Hanya karena harga diri, membuat hubungan yang saling mencinta harus begitu saja pupus ditengah jalan.
****
Harusnya episode ini untuk besok. Moon maap untuk besok kemungkinan besarnya aku tidak bisa up🙏🙏
Sehat selalu ya readers tersayang, jangan rindu sama Maura dan Gifali ya❤️
__ADS_1