GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Pertunangan


__ADS_3

Hari berganti hari, setelah keputusan yang diberikan oleh Gifa kepada Maura dan orang tuanya minggu lalu membuat Maura dan Gifa terasa menjauh. Maura tetap saja mengabari Gifa sepanjang waktu, membujuk dan merayu untuk mengubah keputusan Gifa namun lelaki itu tetap dalam keputusannya.


Gifa hanya akan mengirim pesan untuk menanyakan kabar, sedang apa dan sudah belajar atau belum. Gifa tidak lagi memberikan pesan cinta atau rindu kepada Maura. Lelaki itu sebisa mungkin menahan hasratnya agar tidak memancing kerinduan dihati Maura karena selama seminggu ini mereka sedang mengikuti ujian nasional.


Perjalanan cinta antara Gadis dan Elang pun lama kelamaan mendapatkan titik terang. Gadis mulai memberikan perhatian serta terus belajar untuk menerima Elang dengan penuh dihatinya. Elang pun meminta ijin kepada orang tuanya untuk menikahi Gadis setelah kelulusan. Tentu semua itu sangat berbanding terbalik dengan hubungan Maura dan Gifa. Mengapa harus mereka yang merasakan pahit seperti ini.


"Kak?"


Gifa menoleh ke arah pintu kamarnya yang baru saja dibuka oleh sang Mama dari luar.


"Iya, Mah."


"Kok Kakak melamun? Deg-deg an ya karna mau lamaran besok?"


Gifali tersenyum samar dan bangkit untuk duduk ditepi ranjang dengan kedua kakinya menjuntai kebawah. Mama Difa pun duduk disebelah sang anak.


"Shalat malam Kak, biar besok lancar!"


"Kayaknya Maura kecewa sama Gifa, Mah." Jawab Gifa dengan kesenduan amat dalam.


"Maura masih marah ya, Kak?"


"Maura adalah wanita yang sabar. Walau dia kecewa, tetapi perhatiannya buat Kakak selalu gak berubah---"


"Kakak yakin mau lepas Maura ke London selama empat tahun? Apa Kakak gak takut kalau Maura akan berubah?"


Gifa hanya menatap sang Mama dengan keheningan. Menatap lurus bola mata itu, lidahnya tercekat. Jujur dalam hatinya ingin menolak namun kedua bibirnya tetap terpaku akan keputusan yang telah ia buat.


"Kakak hanya mau Maura sukses, Mah. Kakak gak mau kalau masa depannya jadi berantakan karena Kakak." Jawab Gifali dengan mata berkaca-kaca.


Dibalik ucapannya itu ada dada yang terasa sesak karena tertekan dengan sebuah keterpaksaan. Gifa boleh jadi sangat mencintai Maura, tapi cinta juga tidak boleh membutakannya untuk merenggut masa depan calon istrinya.


"Karena setelah menikah tidak hanya butuh cinta, Mah. Tapi Maura juga butuh kehidupan yang layak, dengan menikah muda. Maura akan mengubur impian dan kemauan dari Papanya. Kakak gak mau buat Maura mengecewakan orang tua mereka."


Mama Difa mengangguk. Samar-samar garis senyumnya terangkat maksimal. Ia membawa Gifali kedalam dekapannya. Menenangkan sang anak dengan keputusan yang sejatinya sangat menyakitkan.


Begitupun Maura di sana. Wanita yang besok akan dilamar terus saja menangis dikamarnya. Harusnya malam ini adalah malam indah baginya, karena besok cincin pengikat akan melingkar di jarinya. Gadis dan Mama Alika terus menemani Maura untuk membesarkan dan menguatkan hatinya. Ia menahan sesak karena sebentar lagi ia akan pergi ke London untuk meninggalkan Gifali.


****

__ADS_1


Keesokan harinya. Hari yang sudah ditunggu-tunggu pun datang. Dengan berbalut kebaya modern berwarna abu-abu membuat Maura begitu cantik dan elegan. Walau kedua matanya masih terlihat sembab karena menangis semalam. Namun make up yang dioleskan oleh Gadis di wajah sepupunya itu dapat menutupinya, malah membuat wajah Maura terlihat fresh dan segar.


Semua mata yang sudah berkumpul dilantai bawah, terkesiap dan tergugah ketika melihat Maura sedang menuruni anak tangga.


"Ya Allah..cantik banget!" Ucap Ganaya takjub.


"Pangling ya. Tuh Kak, yakin gak mau di nikahin langsung?" Papa Galih menggoda sang anak.


Gifali hanya terdiam, ia melongo karena takjub menikmati wajah Maura yang begitu berbeda. Auranya begitu terpancar, sinar kebaikan hatinya begitu saja menyerbak. Bentuk tubuh Maura sangat tercetak jelas dengan kebaya yang saat ini ia pakai. Membuat simpul senyum Gifali begitu saja melebar.


"Sangat cantik..."


"...Manis!"


"Mempesona..."


"....Luar biasa!"


"Oh Maura---"


Beberapa desahan pujian begitu saja mencelos dari bibir Gifali. Wajahnya masih tercengang menatap kecantikan bidadari hatinya. Ia terus saja merancau, tidak sadar kalau semua mata tengah menoleh dan memandanginya.


Dan parahnya lagi Gifali tetap bergumam. "Aku makin cinta sama kamu..."


Membuat semua orang sedikit terkekeh. Maura pun menundukkan kepalanya karena malu. Wajahnya memerah seperti tomat. Ia terus menggenggam tangan Gadis yang juga sedang mentertawakan calon suaminya.


Semua tertawa terbahak-bahak.


"Kakak, sadar, Nak..." Ucap Mama Difa tepat ditelinga sang anak.


Gifali pun langsung tersadar. Batinnya tersentak karena semua orang tengah menatapnya. Ia hanya memberikan senyuman malu kepada mereka semua.


"Sudah bisa dimulai?" Tanya Om Rendi yang diberi amanat untuk menjadi mc dalam acara ini.


Gifali dan Maura mengangguk mantap. Sepertinya hari bahagia ini bisa sedikit melegakan hati Maura yang sedari kemarin menggenang dalam kesedihan. Ia selalu yakin bisa mengubah keputusan Gifali untuk tetap menikahinya setelah kelulusan.


Acara khidmat pun dimulai. Papa Galih sebagai perwakilan dari Gifa terus memberikan sambutan pengenalan tentang keluarga mereka yang ingin meminta Maura sebagai milik anaknya.


Keluarga Hadnan disambut baik oleh keluarga Artanegara. Berkat pertemuan mereka 12 tahun yang lalu, ketika tidak sengaja berlibur ditempat yang sama. Membuat dua keluarga itu menjadi satu kesatuan untuk menjadi keluarga yang hebat.

__ADS_1


Cincin berlian sudah terpasang di jari manis Maura. Gifa membeli cincin itu dengan uang peninggalan dari Bunda Gita. Walau Mama Difa dan Papa Galih sudah menawarkan bahkan memaksa untuk membelikan cincin pertunangan untuk Maura, tetap saja anak itu menolak. Ia tidak mau terlalu banyak merepotkan kedua orang tuanya. Lelaki itu merasa sudah cukup pengorbanan yang diberikan oleh Mama Difa dan Papa Galih selama ia hidup.


"Nanti kalau sama aku, kamu mau pakai cincin yang kaya gimana?" Tanya Ammar sangat percaya diri kepada Ganaya. Si cewek manis namun jutek. Ganaya hanya mencebik.


"Kalau kamu udah jadi Presdir baru bisa nikahin aku!"


"Dasar matre!" Selak Gelfa.


"Emang kamu...dikasih bando dari daun aja mau---" Ganaya berdecak malas. Membuat Gelfa memajukan bibir bawahnya karena kesal.


"Selamat ya Kak, kamu udah bertunangan sama Gifa, aku ikut senang." Ucap Gadis kepada Maura.


"Makasi banyak atas kebesaran hati kamu ya, Dis--Aku sayang kamu." Maura memeluk Gadis dengan erat. Ia tidak akan menyangka pernah berebut Gifali dengan Gadis. Adik sepupu perempuan yang ia punya satu-satunya.


Walau sebenarnya dalam hati Maura masih lirih karena pertunangan itu belum bisa membuat luluh hati Gifa untuk tetap menikahinya dengan cepat.


***


"Sayang..." Panggil Maura menghampiri Gifali yang masih berbincang dengan Ammar di dekat kolam renang. Ammar pun faham, ia berlalu meninggalkan dua kakaknya disana.


"Apa kamu tetap tidak akan berubah fikiran? Aku akan ke London dan menetap disana selama empat tahun, jujur aku gak bisa kalau jauh dari kamu!"


Gifali membawa Maura untuk duduk di kursi. Terus mengusap-ngusap punggung tangan Maura yang tengah ia genggam.


"Aku akan kesana untuk menengok kamu, Ra. Empat tahun itu gak lama kok." Gifa memberikan kekuatan kepada Maura, walau dalam sebenarnya ia pun rapuh dan ingin menangis.


"Tapi..." Ucapan Maura terhenti ketika Gifa terlihat aneh. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah ada orang yang sedang melihat mereka sekarang.


Lalu


Cup.


Gifali mengecup bibir Maura dengan cepat. "Aku akan selalu jagain kamu, walaupun kita jauh, Ra! Percaya ya sama aku---"


****


Besok Tamat ya guyss, one episode again❤️


__ADS_1


__ADS_2