
Haii selamat pagii
Aku kembali guys
Selamat baca ya
🖤🖤🖤🖤
.
.
.
.
.
.
.
.
Di Kediaman Galih Hadnan.
Terlihat Gelfani dan Ganaya tengah berbaring di ranjang susun mereka. Kedua mata anak ini terus saja menatap lurus sudut kamar yang berwarna pink pelangi.
"Kalau Kak Gifa nggak lahir dari rahim Mama...lalu siapa ibunya? Ada hubungan apa Ibu Kak Gifa dengan Papa?? Apakah istrinya? Apakah simpanan??"
".....Apa betul kalau Kak Gifa bukanlah anak kandung dari Mama dan Papa? Secara golongan darah kami berbeda. Ya Allah, kok hati aku sakit mendengar kenyataan ini!"
Batin Gelfa dan Ganaya saling beriringan. Mereka teramat shock dengan kenyataan yang ada.
Lalu
"Kak??"
"...Dek?"
Gelfa dan Gana saling memanggil namun seketika terdiam.
"Kalau Kak Gana tau, Kak Gifa bukan Mama yang lahirin, dia pasti shock. Terus nangis-nangis, diakan wanita lelet yang manja! Pasti langsung deh ngadu ke Mama dan Papa...." Gelfani berfikir.
"....Kalau Gelfa tau, Kak Gifa bukanlah anak kandung dari Mama dan Papa, dia pasti histeris! Dia kan tomboi cabe-cabean, pasti bakal nangis nggak karuan! Tapi, coba deh aku akan susuri hasil tes DNA itu!" Gumam Ganaya.
Kakak beradik ini pun gamang. Mereka sama-sama mempunyai beban psikis yang berbeda dalam plot nya. Kalau Gelfa baru tau sedikit tentang kenyataan Gifa, namun Ganaya sepertinya dia sudah tahu tentang kenyataan utuh mengenai Gifali.
"Kakak mau ngomong apa?"
"Loh? Kan kamu yang manggil aku duluan!"
Gelfani berdecak. "Tapi kan Kakak manggil aku juga!"
"Aku mau pipis tadinya mah---"
"Dih, terus???" Gelfani makin berdecak.
"Minta titip nih bawain ke toilet, aku males bangun--"
"Ih, parah! Kalau males pipis, ya pake pempers aja!!"
"Eh dek, lo kok ngegas sih??"
__ADS_1
"...Kan lo duluan Kak!"
"Dih parah manggil apa lo tadi?"
Ganaya bangkit dari ranjangnya lalu mendongak ke arah Gelfani yang sudah duduk menyila diatas ranjangnya.
Gelfa memundurkan posisinya agar menempel sampai ke dinding.
"Turun, lo!" Ganaya berdecak.
"GEMMA, tolongin-----" Gelfa tetap meledek Ganaya.
Gemma yang kamarnya hanya berbeda dinding dengan kedua Kakak perempuan itu akhirnya datang. Kepalanya terasa berat karena ia tidak kunjung tidur.
Krek
Pintu dibuka.
"Ada apaan sih Kak? Bukannya tidur lo semua---" Gemma keceplosan
"Dih manggil apa lo tadi!!!!"
Ganaya dan Gelfa berdecak bersamaan. Gelfa pun turun dari ranjang bersama Ganaya untuk menghampiri Gemma dan menjewernya.
"Apaan sih Kak, kok jadi Gemma?"
"Eh siapa yang ajarin kamu, manggil kaya gitu sama Kakak??" Tanya Ganaya sewot.
"I--ya tuh bener, jawab tem---" sambung Gelfa
"Enak aja item, kulit Kakak juga nggak putih-putih amat kali!" Kelakar Gemma.
Ganaya tertawa terbahak-bahak.
Seketika Gemma kabur ke kamar nya sambil berteriak.
"Kak Gifa tolongin, ayolah cepat sadar! Biar bisa marahin ni anak berdua----"
Ucapan Gemma, membuat Ganaya dan Gelfani tersentak. Mereka pun terdiam, hati terasa lirih hampa dan kosong. Ganaya pun kembali ke kasurnya, merengkuh guling dan memaksakan menutup matanya yang akan menangis.
Sementara Gelfani pun sama, ia kembali naik ke atas ranjangnya dan berbaring untuk menangis.
Sungguh tali persaudaraan yang begitu kuat, semoga saja Gifali tetap mendapatkan cinta dari keluarga Hadnan.
****
Maura yang sedang berjalan sehabis dari kantin, tidak sengaja mendengar percakapan antara Gadis dan Elang. Ia pun berhenti sebentar untuk lebih memastikan bahwa suara itu benar lah suara sepupunya dari balik dinding.
"Dis, kamu seharusnya nggak ngmong kaya gitu didepan Kakak kamu!"
"Tapi Lang, aku nggak bisa bohongin perasaan aku, kalau memang masih sayang banget sama Gifali!" Jawab Gadis.
"...Kan aku dulu yang pacaran sama Gifa!" Gadis tetap keras kepala.
"Tapi Gifa hanya sayang sama Kakak kamu, Dis!" Elang tetap menyadarkan.
"Tapi waktu Gifa nembak aku, dia juga bilang sayang sama aku, Lang!"
Elang terenyak, ia frustasi dengan sikap Gadis yang sangat keras kepala. "Susah banget sih ngasih tau kamu nya??"
"Kalau kamu hanya fikirin perasaan Kak Maura, kamu juga egois Lang! Terus gimana dong perasaan aku?"
"Tapi aku sayang sama kamu, Dis!"
__ADS_1
Gadis mengusap wajahnya dengan kasar. "Tapi aku belum bisa sayang sama kamu, Lang!"
"Ya dicoba dong---"
"...Susah!"
"Terus maksud kamu tuh, mau rebut Gifali gitu?"
"Ya nggak gitu sih! Ya kalau aku nggak bisa dapetin Gifali, Kak Maura juga jangan Lang!! Adil kan? Aku sama Kak Maura sama-sama nggak dapetin dia!"
Dua bola mata Maura terbelalak. Saliva nya begitu saja terdorong jauh ke dalam. Dadanya kembali sakit. Ia benci mengapa harus dalam posisi seperti ini. Wajahnya kembali memerah namun ia sudah tidak mampu untuk menangis kembali.
Baginya perjalanan cinta dengan Gifali adalah nomor dua, dia akan fikirkan lagi setelah ini. Yang penting Gifali sadar dan pulih kembali.
"...Itu udah lebih dari cukup buat aku!" Desahnya frustasi dan kembali melangkah menuju ruang ICU.
"Tante..." Tangan lembut Maura begitu saja mengelus bahu Mama Difa yang tidak sengaja tertidur di bangku tunggu ruang ICU. Ia pun membuka kedua matanya dengan cepat yang sudah lelah sedari tadi.
"Ini tante, Maura bawakan susu, ayo Tan, minumlah!"
"Makasi ya Nak--" Mama Difa meraih gelas susu tersebut.
"Tante mau makan?"
"Nanti aja sayang, kalau Gifa udah sadar. Kalau sekarang Tante masih nggak nafsu." Jawabnya sendu sambil terus menyeruput susunya yang masih panas.
"Sebentar lagi, Gifa juga akan sadar Tante. Tante makan ya, nanti Tante sakit---" Maura tetap merayu.
Mama Difa tersenyum dan mendekap Maura. "Nggak Nak, tante nggak mau apa-apa sekarang."
Lalu
Ada suara langkah terpogoh-pogoh menghentak lantai secara cepat yang sedang berjalan untuk menghampiri Maura dan Mama Difa.
"Ra...?" Panggilnya.
Maura pun menoleh. Ia tidak menyangka jika wanita ini akan datang kesini.
"Tante Binar??" Seru nya.
"Dimana Gadis? Kenapa sampai pagi nggak pulang?" Tanya Mama Binara kepada Maura yang akhirnya beralih pandangan ke arah Mama Difa. Mama Binar seraya bertanya siapakah wanita itu dan apakah yang terjadi saat ini.
"Itu Tan..."
Ucapan Maura terhenti begitu saja ketika melihat Tantenya menoleh cepat ke sumber suara lain yang tengah berbincang-bincang. Terlihat langkah dua laki-laki yang sedang mengarah kepada mereka.
Blasss.
"Masya Allah, Mas Lukman??" Serunya dengan suara pelan.
"Binara------?" Langkah kaki Om Lukman begitu saja terhenti.
Om Lukman dengan Mama Binara saling bersitatap dalam kekagetan yang membuncang diri mereka.
Seperti ada angin kencang yang berhembus untuk menerpa kulit mereka saat ini. Masa lalu telah kembali datang.
"Mas??"
*****
Like dan Komen ya guyss
🖤🖤🖤🖤
__ADS_1