
Selamat siang guyss
Selamat baca
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di dapur terlihat wanita parubaya yang sudah menginjak usia 43 tahun namun masih terlihat segar dan muda sedang mengolah beberapa masakan disana. Menyiapkan beberapa macam masakan yang akan ia hidangkan untuk makan malam beserta keluarga besarnya.
Tanpa sepengetahuannya ada sebuah tangan yang melolong hinggap dibawah lengannya dan mengunci perutnya. Lelaki itu mencium ceruk leher istrinya dengan penuh mendamba. Mengecup nya tanpa henti, Mama Difa sesekali mengerjip karena merasa geli.
"Ada apa nih? Tumben Papa jam segini udah pulang?" Tanya Mama Difa.
"Lagi kangen aja sama Mama..."
"Masa? Pasti ada mau nya nih?" Mama Difa mencebik. Ia terus saja membolak-balik spatula nya di wajan.
"Papa mau kasih kabar baik sama Mama tentang Kakak."
Seketika itu pula Mama Difa meletakkan spatula nya begitu saja di wajan dan mematikan kompor. Mama Difa langsung berbalik menatap suaminya. Papa dengan cepat memajukan bibir nya untuk mengecup bibir istrinya. Mama Difa dengan cepat mendorong bibir suaminya untuk menjauh dengan dua jarinya.
"Kabar baik gimana maksud nya, Pah?" Tangan Mama Difa memeluk leher suaminya, menatap kornea mata yang gelap tapi bercahaya. "Tentang Kakak?" Ucapnya memastikan.
Papa Galih tersenyum. "Temenin Papa bobo dulu yuk bentar, nanti Papa kasih tau deh apa berita baiknya---"
Mama Difa mendelikan matanya. Ia berdecak sebal.
"Bilang aja mau itu..pake segala alesan bawa berita baik tentang Kakak!"
Mama Difa melengos dan memutar tubuhnya untuk kembali menyalakan kompor.
"Ets tunggu dong!"
Papa Galih dengan cepat langsung memutar knob kompor. Melepas paksa celemek yang masih bersandar di tubuh istrinya dan menggendongnya ala-ala penculik.
"Papa turunin gak! Nanti anak-anak kamu lihat!"
"Gak bakalan Mah, mereka semua belum pulang!" Papa Galih tersenyum puas.
"Temenin Papa dulu sebentar, udah gak tahan nih--- Nanti habis itu Papa ceritain tentang Kakak, beneran deh suer." Ucap Papa Galih meyakinkan sang istri.
Ia terus membawa tubuh istrinya untuk masuk ke kamar dan dibaringkan ke atas ranjang. Tanpa bisa menolak, Mama Difa pun hanya bisa pasrah ketika Papa Galih sangat mendamba dirinya.
Walau mereka sudah menikah selama 22 tahun, tapi rasa cinta dikedua nya tidak lekang oleh waktu. Memang pernikahan mereka pernah hampir di ambang batas perpisahan, namun karena keadaan akan cinta masing-masing. Mereka bisa saling menerima satu sama lain.
__ADS_1
Satu jam berlalu.
Mama Difa terlihat bangkit dari ranjang, meraih pakaiannya yang telah berserakan lalu mengenakan pakaiannya kembali. Sementara Papa Galih bangkit untuk menyandarkan dirinya di punggung tempat tidur.
Masih bertelanjang dada dan meletakan dua tangannya di belakang kepala. Ia masih tersenyum manja menatap wajah istrinya yang baru saja melayaninya. Wajah Papa Galih terlihat puas dan bahagia.
"Ayo pah sekarang jelasin kenapa tentang Kakak?" Ucap Mama Difa setelah selesai menarik resleting dress nya.
Ia rela menjadikan dirinya sebagai santapan suaminya terlebih dulu sebagai penukar berita kebahagiaan Gifali.
"Mas Bilmar sudah merestui kembali hubungan Kakak dengan Maura."
"Wah, yang bener Pah? Papa serius kan? Gak bohongin Mama??"
"Untung nya apa sih bohongin istri?"
Mama Difa mengelus punggung tangan suaminya lalu memberikan senyuman cinta. Ia tertawa pelan.
"Maaf deh Pah, saking senengnya jadi kayak gini.." Wajah Mama Difa memberi rona merah muda di tulang pipinya.
"Jangan senyum kaya gitu ah, nanti si dedek kecil bangun lagi nih---" Papa Galih terkekeh.
"Ihh kamu tuh ya, Mas! Udah tuwir masih aja deh, gila sama kaya begini--" Mama Difa menjawil pucuk hidung suaminya yang bangir. "Ini semua ada campur tangan kamu ya Pah?" Tanya Mama Difa menyelidik.
Papa Galih menghela nafasnya lalu mengangguk dengan senyuman menawan.
"Iya sayang. Tadi siang Papa putuskan untuk menemui Mas Bilmar. Meminta satu kesempatan lagi untuk anak kita. Mas Bilmar meminta jaminan untuk kebahagiaan putrinya, Papa bilang kalau diri Papa yang menjadi jaminan untuk hubungan mereka berdua.."
"Masya allah Papa, Mama bahagia banget dengarnya..." Mama Difa beringsut untuk memeluk tubuh suaminya yang masih bertelanjang dada.
Papa Galih pun mengunci tubuh istrinya dengan pelukan hangat.
"Semua ini, untuk kamu---Bukti cinta aku ke kamu." Sungguh ucapan Papa Galih itu membuat Mama Difa terbang ke awang-awang. Begitu bahagia dirinya diperlakukan bagai bidadari seperti ini.
"Makasi ya Pah, Mama cinta banget sama Papa--" Mama Difa mengecup bibir suaminya.
"Kalau gitu boleh gak sekali lagi?" Pinta Papa Galih kembali menggoda dan tangannya bergerak cepat untuk menurunkan resleting dress milik Mama Difa.
Dan pasangan paru bayah itu kembali mengulang percintaan panas mereka.
****
"Ayo Gifa pilih mau yang mana, nanti Om tinggal bayar." Ucap Om Malik meminta Gifali untuk memilih salah satu motor dari berbagai banyak motor di showroom.
Satu jam sebelum waktu nya pulang sekolah. Om Malik menjemput Gifali ke sekolah, untuk membawa anak itu ke berbagai showroom motor kesukaannya. Om Malik bermaksud untuk membelikannya.
Karena sebelum Kinanti meninggal, ia menyerahkan semua aset dan harta warisan dari kedua orang tua Gifali. Harta yang ingin ia berikan ketika Gifali sudah menikah, sesuai pesan terkahir dari ibu kandungnya, Sagita Haryani.
Memang tadi pagi, lelaki ini sudah menelpon Mama Difa perihal keinginannya untuk membelikan motor baru kepada Gifali, namun Mama Difa menolak dan tidak mengizinkan hal itu. Tapi Om Malik tetap bersikeras untuk menjalankan keinginannya.
"Om..tapi?"
Mendadak wajah bahagia anak itu berubah menjadi redup. Ia sangat tahu hubungan Om nya dengan sang Papa tidak begitu harmonis.
"Gifa tenang aja..Mama-Papa pasti akan senang. Tentu mereka tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membelikanmu motor." Jawab Om Malik meyakinkan Gifali.
Anak itu terdiam sebentar seraya berfikir. Mengulang-ulang perkataan pamannya yang dirasa benar. Dan tak berapa lama ia pun mengangguk dan mantap untuk memilih model motor sport yang ia sukai.
"Tapi kan mahal Om, gak apa-apa??" Tanyanya lebih pasti.
"Sudah ayo pilih, yang penting Gifa suka."
__ADS_1
Wajah Gifali kembali berbinar bahagia tanpa rasa menuntut akan kecurigaan. Sudah seminggu lebih ia pergi ke sekolah tanpa motor kesayangannya dan sang Mama pun masih belum membolehkan ia menggunakan motor kembali.
"Yang ini aja, Om..." Ia menunjuk sebuah motor sport berwarna merah.
"Oke, Om bayar dulu---"
"Yess!!" Gifali mengepal tangan dengan senang.
"Bisa lagi nih ajak Maura jalan-jalan..." Gumamnya bahagia.
****
Semua makanan sudah dihidangkan dengan baik di atas meja makan. Lagi-lagi triple G sudah hadir tanpa Gifali disana.
"Sudah lewat dari jam 7, kok Kakak belum pulang juga ya?" Desah Mama Difa terus menunggu anak lelaki itu di ambang pintu.
"Mah!" Panggil Papa Galih yang langkahnya sudah terhenti di meja makan.
Mama Difa pun bergegas kembali kesana. Semburat wajahnya memperlihatkan rasa cemas dan gelisah. Ia menuangkan nasi ke dalam piring suaminya dan beberapa lauk disana.
Setelah menuangkan nasi untuk suaminya ia pun duduk berhadapan dengan Papa Galih. Sedangkan Triple G sedang lahap dalam menghabisi makan malam mereka.
"Memang tadi Kakak kalian tidak bilang mau kemana?" Tanya sang Papa kepada mereka.
Gelfa dan Gemma terlihat hanya menggeleng. Setelah menenggak air minum kedalam kerongkongan Ganaya pun berujar.
"Kakak gak ngomong ke kita mau kemana Pah, soalnya waktu itu masih jam sekolah. Gana lihat ada Om Malik jemput Kak Gifa--"
Mama Difa tersedak hebat ketika mendengarnya, sedangkan Papa Galih
terlebih dulu menyelak.
"Apa? Malik?"
Tatapannya berubah garang, ketidaksukaan mulai terpancar.
"Kamu tau hal ini, Mah?" Tanya nya menyelidik, bersamaan dengan itu ponsel Mama Difa berdering. Kedua alis Papa Galih terlihat menukik tajam.
"Siapa itu yang telepon? Gana, coba ambil ponsel Mama!" Titah Papa Galih. Ia seperti tahu siapakah gerangan penelpon itu.
Gana menoleh ke arah sang Mama, seraya meminta persetujuan. Mama Difa pun mengangguk mantap tanpa ada perasaan curiga atau apapun.
"Iya Pah.." Gana pun bangkit dan meraih ponsel sang Mama yang terletak begitu saja di atas meja televisi.
"Siapa yang telepon?" Ucap Papa Galih ketika melihat sang Anak telah menggenggam ponsel istrinya.
"OM MALIK, Pah..."
Kedua mata Mama Difa terbelalak. Ia sama sekali tidak percaya. Sama hal dengan Papa Galih, seketika itu pula wajah Papa Galih kembali menegang, memerah dan tampak keras dibagian rahang.
Ia menatap wajah Mama Difa fokus dan dalam. Mama Difa hanya terkejut dan mendesah pasrah, ia tidak akan menyangka mengapa bisa lelaki itu menelpon disaat suaminya ada dan kenapa harus disaat genting seperti ini.
"Kenapa dia bisa tau nomormu, Mah?"
"I--tu Pah, wa--waktu..." Mama Difa terlihat menelan salivanya jauh-jauh kedalam kerongkongan. Ia ingin jujur, tetapi sudah takut duluan dengan perangai suaminya.
"JAWAB, DIFA!!" Papa Galih menghentak meja dengan telapak tangannya.
****
Siap ya, akan aku bongkar siapa Gifali setelah ini. Terus dukung aku ya jangan lupa Like dan Komen❤️
__ADS_1
Maura : Jangan pernah pergi Gifa.