
Tiga minggu kemudian. Hari kelulusan telah tiba. Maura, Gifali, Gadis dan Elang di nyatakan lulus dan siap berpindah haluan untuk meneruskan pendidikan di bangku universitas.
Bukan Gifali namanya kalau tidak menjadi juara umum sekolah. Ia mendapatkan banyak perhargaan dari guru-guru. Gifali adalah anak yang jenius, maka dari itu Papa dan Mama nya selalu bangga dengan prestasi Gifa yang tidak pernah berubah dari jaman taman kanak-kanak.
Setelah mendapatkan ijazah kelulusan, Mama Difa sengaja mendatangi sekolah Gifa untuk menjemput sang anak. Mama Difa ingin membawa Gifali ke makam Bunda Gita. Bagaimanapun wanita yang sudah lebih dulu dipanggil oleh Allah itu adalah Ibu kandungnya, Bunda Gita berhak mendapatkan pengenalan dari Gifali.
Dengan kaca mata hitam, wanita paru baya yang selalu awet muda dan terlihat segar terus menggandeng sang anak untuk berjalan di stiap blok pemakaman. Gifa menurut ketika ia harus mengikuti langkah Mamanya yang sudah hafal dimanakah letak makam itu.
Tap.
Langkah Gifa terhenti ketika langkah Mamanya juga sudah terhenti disebuah makam yang terawat. Tanah penguburan sudah tertutup dengan rumput kehijauan yang sangat rapih.
Sagita Haryani
Ejaan nama itu mencuat dari bibir Gifali lalu tangannya di tarik oleh Mama Difa untuk ikut berjongkok disebelahnya.
"Itu nama panjang Bunda kamu, Nak.."
Gifali mengangguk dan mengedarkan telapak tangannya di pusaran makam sang Bunda. "Apakah Mama selalu datang kesini? Karena makam ini terlihat sangat terawat."
Mama Difa tersenyum. "Iya Nak, sebulan sekali Mama dan Papa suka menyempatkan datang untuk mendoakan dan membayarkan jasa perawatan makam."
Air mata Gifa menetes, bukan karena sedih menatap makam sang Bunda. Namun ia menangis karena kebesaran hati Mama Difa dan Papa Galih. Ia sama sekali tidak menyangka sebegitu baiknya mereka terhadap Bundanya yang sudah tega menipu secara biadab.
"Ayo berdoa sayang, Bunda kamu butuh doa dari kamu,Nak..." Mama Difa menyodorkan sebuah Yassin berfoto kan wajah Bunda nya.
Gifali meraihnya dan membuka Yassin tersebut. Mengusap-usap wajah sang Bunda yang sangat mirip dengannya. Ia pun mulai membacakan ayat dan mendoakan. Mama Difa masih menyirami kuburan dengan air mawar dan menebarkan bunga-bunga khas penguburan disana. Ia pun berdoa mengikuti Gifali.
"Kak Gita, lihatlah anakmu...sudah besar dan rupawan. Aku tidak akan pernah melupakan janjiku, untuk terus menjaga dan merawatnya!" Tutur Mama Difa dalam hatinya.
****
Gifa masih terduduk di tepian ranjang. Ia melamun lama disana. Sampai tidak sadar jika sedari tadi sang Papa sudah berdiri diambang pintu kamarnya.
"Kak?" Panggil Papa Galih.
Gifa menoleh dan tersenyum kepada Papanya.
"Ayo Pah kesini.." Gifali menepuk bagian kosong disebelahnya.
"Tadi Om Bilmar telepon Papa, katanya besok pagi Maura akan terbang ke London..."
"Kok cepat banget, Pah?" Gifa mengubah raut raut wajahnya menjadi gelisah.
"Loh memangnya kenapa? Cepat atau lambat kan Maura tetap akan pergi ke London.."
Gifa kembali membawa arah wajahnya ke dalam cermin, ia melihat pantulan bayangannya sendiri yang terlihat sendu, sedih dan sedan.
Melihat anak sudah bersikap seperti ini, Papa Galih terus merancau. "Kakak yakin gak mau nikahin Maura dulu? Empat tahun itu kan lama juga, Kak! Apalagi disana Maura sendirian, kasian kan kalau gak ada teman? Seenggaknya kalau ada suami kan, Maura bisa terjaga disana----"
Kening Gifali terlihat mengerut marut. Dua bola matanya masih menatap sudut atap kamarnya. Lelaki itu masih hening, ia bingung dengan pilihannya. Entah mengapa hatinya menjadi tidak karuan, betul-betul ucapan sang Papa dapat mengubah fikiran di kepalanya dengan cepat.
Dirasa sang anak hanya diam tanpa menyanggah, Papa Galih terus beraksi untuk menghancurkan keputusan sang anak.
"Papa juga dulu begitu, menikah dengan Mamamu di usia muda. Belum punya apa-apa, awalnya juga ngontrak dulu. Mama setia mendampingi Papa. Mamamu juga bekerja untuk membantu perekonomian rumah tangga kami. Papa dan Mama menjalani awal pernikahan dengan apa adanya sampai kita selalu giat bekerja dan menjalankan beberapa usaha. Ya seperti ini lah sekarang, pernikahan itu bukanlah hambatan untuk kita bisa menjadi sukses, Nak..."
"Fikir kan dulu keputusan Kakak, sebelum besok Maura kepalang pergi menuju London!" Papa Galih mengelus bahu sang anak sebelum akhirnya berlalu dari kamar.
Hati Gifali semakin terhimpit. Wajah Maura sepertk terus saja memanggil. Entah mengapa ia jadi teringat dengan bayangan 12 tahun lalu ketika ia berpisah dengan Maura di dermaga. Gifa mengingat-ngingat bagaimana lika-liku percintaannya dengan Maura. Tentu tidak mudah mendapatkan wanita baik yang hatinya seindah lembayung senja seperti Maura, wanita itu malah sudah menerima dan memaafkan semua kesalahan Gifali kepadanya.
"Mulai dari masalah dengan Gadis sampai jatidiri aku yang kaya gini, kamu masih mau menerima aku, Ra!" Desahnya.
"Apakah bisa selama empat tahun, kita berjauhan?"
Lalu ia terdiam dan sekelebat ucapan-ucapan menganggu untuk memburyar kan lamunannya begitu saja mencuat.
__ADS_1
Kakak yakin mau lepas Maura ke London selama empat tahun? Apa Kakak gak takut kalau Maura akan berubah? Ucapan Mama yang pertama kali menggema dikepalanya.
Pangling ya. Tuh Kak, yakin gak mau di nikahin langsung? Kini ucapan Papa yang terlintas dalam benaknya.
Apa kamu tetap tidak akan berubah fikiran? Aku akan ke London dan menetap disana selama empat tahun, jujur aku gak bisa kalau jauh dari kamu! Dan yang lebih mendominasi adalah ucapan Maura.
Rentetan semua ucapan itu terus memutar-mutar di kepalanya. Semakin menciutkan nyalinya. Keputusan Gifa sepertinya memudar. Wajah lelaki itu menegang.
Ayo Gifa masih ada waktu! Ayo rubah semua ini. Raih Maura, jadikan ia istrimu. Berjuanglah menjadi pasangan suami istri yang membahagiakan! Tentu yang halal sangat di ridhoi oleh Allah.
Malaikat baik sedang menasehatinya. Gifa seraya mengangguk dan segala beban yang bertahta sejak kemarin begitu saja musnah. Gifali terus berfikir dalam asa nya. Ia terus mencari analisa pemikiran lain untuk bisa membuat Maura tetap melanjutkan masa depannya dan juga tetap menikah dengannya.
*****
"Gimana, Pah?" Tanya Mama Alika kepada Papa Bilmar yang baru saja mematikan ponselnya.
"Mas Galih bilang oke, kayaknya Gifa sedikit berubah fikiran."
"Semoga aja deh dengan cara kayak gini, Gifa tetap mau menikah dulu dengan Maura."
Papa Bilmar mengangguk pasrah. "Papa sih masih berharap kalau Maura mau menyelesaikan study nya dulu di London. Baru sehabis itu kita nikahkan mereka. Papa gak tega rasanya, Maura masih sangat muda, Mah---"
Mama Alika mencebik. "Biar aman Pah, nikah dulu. Kuliah sambil berkeluarga juga gak apa-apa. Malah jadi penyemangat di antara mereka. Usia muda atau tua gak jadi jaminan rumah tangga akan baik-baik aja, Pah. Memangnya Papa tega biarin Maura nangis terus setiap hari? Nanti kalau dia sakit lagi gimana? Papa kan udah tau rasanya pisah sama Mama dulu, harusnya kan ngerti perasaan Maura sekarang!"
Papa Bilmar menaikan sudut bibir nya ke atas dan mengembangkan senyum termanisnya disana. "I---ya, iya Mah! Buktinya sekarang kan Papa udah berubah fikiran. Sekarang terserah dari Gifa nya aja, kita tinggal tunggu apa keputusannya."
"Tapi anak itu bakalan marah gak ya, kalau kita bohongi? Maura kan pergi ke London nya masih satu bulan lagi, bukannya besok, gimana Pah?"
Papa Bilmar menggelengkan kepala. "Gifa anak baik, dia gak mungkin marah sama kita---Paling sama Papanya, hahahaha.." Gelak tawa Papa Bilmar begitu saja mencuat nyaring. Membuat Mama Alika yang sedang merasa takut lalu ikut tertawa.
"Papah tuh emang ya dari dulu selalu aja ngerjain Mas Galih!" Mama Alika mencubit perut suaminya.
"Dua belas tahun yang lalu, dia adalah teman sepenanggungan---" Papa Bilmar seperti mengingat masa lampau.
Papa Bilmar tertawa. "Rahasia dong, hanya Papa dan Mas Galih yang tau. Ayo Mah kita tidur, Papa lagi ingin Mama---"
"Hemmm...udah tua ya, gak ada berubahnya Papa tuh!"
Papa Bilmar hanya tertawa, dengan cepat ia menggandeng istrinya untuk masuk kedalam kamar.
****
Cit.
Ban motor Gifali sudah berdecis cekat tepat di pekarangan rumah Maura. Pagi-pagi sekali lelaki itu sudah datang untuk menemui calon istrinya dengan wajah penuh ketegangan. Ia takut Maura sudah bersiap akan pergi ke London.
"Ayo masuk Den, duduk dulu ya."
Gifali mengangguk dan duduk di sofa. Ia terlihat resah karena ingin menyampaikan sesuatu hal. Ia takut Papa Bilmar kembali menentangnya. Semalam suntuk Gifali memikirkan semuanya, tentu ia sudah mengantungkan keputusan yang final sekarang.
"Ra..." Gifali bangkit lalu menghampiri Maura yang tengah menuruni anak tangga dengan wajah lesu.
"Kamu pagi-pagi datang kesini ada apa Gifa?" Tanya Maura menyelidik.
Raut wajah Gifali terlihat bingung. Ia tidak melihat tanda-tanda Maura akan pergi ke London hari ini.
"Loh, Ra. Katanya Papaku, hari ini tuh kamu akan berangkat ke London!"
"Hah?? Masa?" Jawab Maura dengan suara agak keras. Wanita itu tersentak kaget. "Yang aku tau aku akan kesana bulan depan Gifa...bukannya besok."
Gifali terus menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Gak mungkin kan kalau Papaku berbohong?"
Tak lama kemudian ketika mereka sedang saling melemparkan pertanyaan dalam kebingungan. Kedua mata mereka begitu saja terbelalak ketika melihat para orang tua mereka keluar dari ruang kerja Papa Bilmar.
"Loh, kok, Mama dan Papa udah ada disini, sejak kapan?" Tanya Gifali dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
Begitu pun Maura yang tidak tahu sejak kapan calon mertuanya sudah berada dirumahnya.
Papa Bilmar merangkul tubuh Gifali untuk membawanya duduk di sofa. Semua orang pun mengikuti langkah mereka.
"Gifa dan Maura duduk berdua disana!" Titah Papa Bilmar menunjuk sofa yang hanya cukup di duduki oleh dua orang. Sedangkan para orang tua duduk di sofa panjang. Mereka saling berhadapan. Seperti dua pidana yang sedang dicecar jawaban oleh kumpulan polisi.
"Kamu pasti datang kesini, untuk bertemu Om dan Tante kan?" Mama Alika membuka suaranya kepada calon menantunya.
"Ada apa lagi, Mah?" Maura menyelak. Wanita itu terlihat panik. Tentu saja ia tidak tahu tentang rencana dari kedua orang tuanya.
Gifa menoleh ke arah Maura. "Ra..." Ucapnya. Seakan perintah untuk Maura agar bisa tenang sejenak. Maura pun mengangguk dan menurut.
"Iya Tante, Om, Mama dan Papa. Gifa datang kesini akan merevisi keputusan Gifa yang sebelumnya sudah Gifa putuskan...." Jawabnya, lalu ia menoleh kembali ke arah Maura dan tersenyum. Meraih tangan Maura untuk digenggamnya.
"Gifa akan menikahi Maura, sebelum Maura pergi ke London---"
Maura terlihat melongo dengan ucapan yang baru keluar dari calon teman hidupnya. Wanita itu seperti masih tersandung alam mimpi. Terlihat wajah senang penuh kegembiraan terpancar dari wajah para orang tua mereka.
"Gifa juga sudah memutuskan akan ikut Maura ke London. Menetap disana sambil melanjutkan pendidikan kami berdua. Jadi masa depan Maura dan Gifa tetap berjalan. Bagaimana Om, Tante, Mama dan Papa, apakah keputusan Gifa ini diterima?"
Maura masih terkesiap, bukan langsung berteriak atau memeluk Gifali. Ia masih saja terperangah dengan mulut menganga. Wanita itu merasa ini hanya mimpi dipagi hari.
Kug.
Gifali menutup katupan bibir Maura yang masih menganga dengan tangannya. "Nanti ada laler, Ra..."
Wanita itu pun tersadar. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya secara bergantian. Ingin tersadar dan cepat bangun jika ini hanyalah mimpi.
"Ini bukan mimpi, Nak. Gifa benar, ia akan menikahi kamu dan pergi denganmu ke London---" Ucap Mama Difa kepada Maura.
Kedua mata Maura begitu saja membulat penuh. Karena begitu haru air matanya pun turun dan menetes. Ia tidak pernah menyangka Gifa akan merubah segala keputusannya.
Gifa mengecup dahi Maura. Menyeka air mata yang sedang mengalir dari ekor matanya. "Yang diucap Mamaku benar---Kita akan menikah sebelum kita pergi ke London.."
Tak lama kemudian suara teriakan bahagia begitu saja terdengar dari bibir Maura. Tanpa sadar ia terus memeluk Gifali sambil menangis. Membuat kedua orang tua mereka merintih penuh keharuan.
"Tapi...Aku punya syarat buat kamu, Ra. Sebelum kita menikah, apa kamu sanggup?"
Lagi-lagi Gifali membuat suasana menjadi tegang. Semua mata mengarah kepadanya.
"Syarat, Gifa?" Tanya Papa Bilmar
"...Apa syaratnya, Nak?" Sahut Mama Alika.
Gifali pun mengangguk dan menatap mereka.
"Kak, jangan aneh-aneh!" Ucap Mama Difa.
"Syarat apa sih, Kak?" Papa Galih juga tidak mau kalah. Ia ingin secepatnya tahu apa yang sedang diinginkan sang anak.
"Appa pun syarat dari calon suami, Maura pasti akan turuti Mah, Pah, Om, Tante----" Maura yang menjawab pertanyaan mereka semua. Gifali hanya tersenyum dan terus menatap cinta kepada calon istrinya.
"Makasi ya, Ra. Aku sayang kamu..."
"....Aku yang lebih sayang kamu, Gifa!"
TAMAT.
*****
Nah tamat guys💔💔, penasaran kan sama syarat dari Gifali apa aja? Nanti akan ada pengumuman yang aku infokan untuk kalian tentang kelanjutan mereka. Stay tune ya...salam pamit dari Putra Gifali Hadnan dan Maura Artanegara.
Beri aku komen yang banyak, biar secepatnya aku berikan info untuk kalianðŸ¤ðŸ’›
__ADS_1