GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Aku akan putusi Gadis


__ADS_3

Haii selamat pagi


Aku kembali guyss


Selamat baca ya


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


Setelah hatinya tenang, Gifali memutuskan untuk pulang dari Cafe dan bersama Maura. Maura kembali ke rumah Gadis dan Gifa pulang kerumahnya. Bertemu dengan Maura dalam keadaan hati yang seperti ini membuat kekuatannya kembali kokoh. Jiwanya bersinar dan ia semakin percaya diri untuk mengambil keputusan.


Gifali akan memutuskan Gadis secepatnya. Walau ia tahu balasan karena telah menyakiti hati seseorang pasti akan mengejarnya.


"Kamu baru pulang Kak?"


Langkah kaki Gifa terhenti begitu saja ketika mau menaiki anak tangga. Ada suara Papa Galih yang ternyata sedang berjalan menghampiri dirinya.


"Eh, Pah. Kakak kaget! Kakak fikir Papa udah tidur..."


"Memang udah, tapi Mamamu minta diambilkan minum, maka Papa turun ke dapur. Kakak kenapa pulang malam?"


"Tadi ada latihan basket Pah, sama ada kerja kelompok bareng di rumah teman."


"Jangan biasakan pulang malam Kak, nanti kamu sakit, kan mau ujian nasional!"


"I-ya Pah."


"Ya udah ayo naik ke kamarmu sana..." Belum melangkah jauh Papa Galih kembali menoleh.


"Mampir dulu ke kamar adikmu, dari tadi Ganaya cemas cariin kamu karena belum sampai rumah."


Gifali mengangguk pelan. "Iya Pah." Ia pun berlalu membawa langkah kakinya menuju kamar sang adik.


Krek.


Pintu kamar adik-adik perempuannya dibuka. Terlihat di ranjang susun milik mereka, ada Ganaya yang sudah tertidur di ranjang bawah dan Gelfa di ranjang atas.


"Udah tidur rupanya..." Gifali mengintip sedikit dan melebarkan pintu kamar adiknya. Ia pun menggerakkan handle untuk menutup pintu itu kembali.


Lalu


Sebelum pintu tertutup rapat. Suara Ganaya pun terdengar memanggil namanya dari dalam. Ganaya pun bangkit keluar kamar untuk mengejar sang Kakak.


"Kenapa bangun?" tanya Gifali.


Betul saja Kakak lelaki ini yang sedang ia cemaskan sejak tadi. Ia pun memeluk Kakaknya, ia takut Kakaknya marah karena ulahnya dengan Gadis saat di sekolah tadi siang.


Awalanya Gifali marah dan kecewa karena adiknya sudah melangkahi sikapnya. Namun setelah ia berfikir dengan bijak, ia hanya bisa menerima apa yang sudah dilakukan oleh Ganaya. Nasi sudah jadi bubur, ya nikmati saja hasilnya.


"Kakak marah sama Gana?" tanya sang adik.

__ADS_1


"Awalanya iya tapi sekarang udah nggak lagi!" Gifa tetap mengelus rambut Ganaya yang terurai panjang sampai sebahu.


"Maafkan aku yang sudah lancang, Kak! Aku begini karena aku sayang sama Kakak, aku takut Kak Maura lebih dulu tau, kalau Kakak sudah memilik kekasih."


"Iya Kakak mengerti! Kakak udah putuskan kalau besok Kakak akan memutuskan hubungan dengan Gadis."


"Benarkah? Kakak nggak hanya ingin membuat aku senang kan?"


"Iya benar Gana!"


Gana semakin memeluk erat tubuh sang Kakak.


"Aku hanya nggak ingin Kakak dalam posisi sulit nantinya dan nggak menyakiti hati Kak Gadis terlalu lama, ia bisa dengan cepat melupakan Kakak!"


"Iya Gana, kamu benar! Harusnya Kakak lebih berani dari awal untuk mengambil sikap!"


"Aku hanya ingin lihat Kakak bersama Kak Maura, karena aku juga sayang sama dia."


Memang perhatian Maura begitu besar untuk adik-adik Gifali. Tidak tanggung-tanggung Maura membelikan kucing anggora sekaligus dua untuk Ganaya.


"Ya sayang, Kakak faham. Ya udah ayo kamu masuk lagi ke dalam, tidur lah. Besok kan harus berangkat sekolah--"


"Iya, Kak!"


Ganaya melepaskan pelukannya dari sang Kakak lalu ia berjalan untuk masuk kedalam kamar.


"Tidak akan ada lagi hati yang akan aku sakiti, maafkan aku Gadis! Aku tau kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari ku!" batin Gifa menggema.


Ia pun melangkah kembali menuju kamar tidurnya, beristirahat untuk menyiapkan stamina agar esok bisa bertemu dengan Gadis sesuai keputusannya.


****


"Kamu dari luar, Ra?" tanya Mama Binar yang baru turun dari kamar Gadis, ia melihat keponakannya baru tiba sehabis menutup pintu utama.


"Lalu buku yang tertinggalnya mana? Kok malah bawa bungkusan pizza?"


"Oh iya itu. Hemm, bukunya Maura tinggal di mobil. Tante mau pizza? Tadi Gadis minta ini sebelum aku berangkat ke toko."


"Nggak Nak, tante sudah kenyang. Ayo naik lah ke kamar, kamu harus tidur,"


"Iya Tante--"


Maura pun berlalu meninggalkan tantenya untuk naik ke kamar Gadis.


"Kamu udah tidur, Dis?"


Gadis pun menoleh ke sumber suara. "Katanya nggak lama, ini sudah dua jam Kakak baru kembali!"


"Aku kan harus membeli ini dulu buat kamu." Maura menunjukan jinjingan kantong plastik pizza untuk Gadis.


"Yess, asik!" Gadis pun bangkit untuk duduk menyila di tengah ranjang miliknya.


Mereka berdua pun akhirnya menikmati pizza sebelum memutuskan untuk tidur.


"Kakak kamu tau nggak, aku lagi senang sekarang."


"Alhamdulillah kalau kamu sudah senang kembali, pacarmu sudah memilih kamu?" Maura memasukan potongan pizza kedalam mulutnya.


"Kalau yang itu aku masih akan terus berharap!"


"Lalu?" Maura bangkit sebentar untuk meraih air minum di nakas.

__ADS_1


"Mama sudah memperbolehkan aku berpacaran Kak!"


Barrr.


Air yang baru di tenggak oleh Maura begitu saja refleks dimuntahkan kembali olehnya.


"Duh, duduh! Kamu kenapa Kak?" Gadis beringsut mencari tissu untuk mengelap kebasahan di mulut Maura.


"Beneran? Tante udah menyetujui kamu, Dis?"


Sebenarnya Mama Binara terpaksa berucap seperti itu, ia hanya ingin Gadis tidak bersedih lagi.


"Iya Kak--" Balasnya dengan wajah membahagiakan.


"Memang kamu bilang kalau masalahnya dengan pacar kamu?"


"Nggak sih Kak, aku malah nggak cerita apa-apa ke Mama tentang mengapa aku bisa seperti ini. Mama tiba-tiba hanya bilang seperti itu. Katanya aku disuruh membawa pacar ku nanti ke acara ulang tahun Kakek. Menurut kamu bagaimana?"


"Mungkin tante punya firasat kali ya, kalau kamu tuh lagi galau, hahahaha." Maura tertawa sebentar. "Namanya orang tua kan batinnya selalu tepat, mereka tuh kaya bisa baca fikiran kita, benar nggak sih?" Maura kembali bertanya.


"Iya sih benar, terus gimana menurut kamu? Kalau aku bawa dia ke acara Kakek nanti?"


"Aku sih setuju banget! Aku juga---" Lagi dan lagi ucapan Maura terhenti begitu saja.


"Aku juga apa? Aku juga akan datang ke pesta!" Maura tertawa kembali.


"Ya iyalah, ini kan acara Kakek masa iya kamu nggak datang! Huh..."


"Ayo habiskan pizza nya, aku sudah membelinya mahal dan menunggu lama!


Aku mau kasih suprise buat Gadis, kalau aku udah berhasil nemuin teman kecilku. Akan aku bawa Gifali di acara Kakek. Kamu pasti senang Dis kalau aku akhirnya punya pacar, dan aku selalu mendoakan kamu supaya pacar kamu itu mau memilih dan bertahan sama kamu, aamiin.


Semoga saja badai dan topan mau menghilang untuk tidak mengincar Putra Gifali Hadnan.


***


.


.


.


.


.


Terharu aku sama komenan kalian, ternyata udah masuk banget ke cerita ini. Sabar dulu ya guyss mereka pasti akan bertemuu🔥🔥🔥


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Mantanku Presdirku Suamiku


2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang



Dua Kali Menikah



Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.

__ADS_1


Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️


__ADS_2