GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Pernah Membagi Hati


__ADS_3

Haiii selamat sore


Aku kembali


Selamat baca ya guyss


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


Suara adzan subuh telah berkumandang. Membawa semua hamba untuk kembali bersujud dalam peraduan sang Khalik. Menyembah serta mengucap syukur atas segala karunia darinya.


Begitupun keluarga Hadnan dan Artanegara. Nafas mereka terasa lega dan tidak sesak lagi ketika mengetahui bahwa operasi Kraniotomi Gifali sudah berjalan dengan lancar. Berkat doa-doa dari orang terkasih yang ada disekelilingnya, membuat ia mampu berjuang dalam mempertahankan nyawa yang sedari tadi berbatasan dengan maut.


Karena ini adalah operasi besar, maka pasien harus dimonitoring secara khusus di ruang ICU kembali. Sangat miris dan ngilu melihat Gifali harus masuk ruang itu sebanyak dua kali.


Para keluarga sudah bergantian masuk kedalam untuk melihat keadaan Gifali yang masih belum sadarkan diri karena proses anestesi yang terlalu kuat.


Rambut Gifali telah dicukur habis sebelum ia di operasi. Kepalanya kini terlihat licin dan plontos. Ada balutan perban yang melilit diantara dahi dan kepalanya. Kedua matanya masih tertutup. Terlihat sedikit percikan air mata berkumpul disekitar ekor matanya.


"Gifa..." Seru Maura sambil mengusap-usap kepala kekasihnya yang tidak berambut lagi.


"Kamu tetap ganteng kok sayang, nanti aku belikan sampo penumbuh rambut ya, gimana?" Maura tertawa diringi air mata yang terus menetes.


"Walau nanti pas kamu sadar, kamu pasti ngambek karena kepala kamu udah botak---"


"....Maafin aku ya! Ini semua karena kesalahan aku, udah buat kamu kayak gini!"


Maura mencium dahi Gifa dengan amat lembut, tetesan air mata itu pun jatuh ke wajah Gifali.

__ADS_1


"Bangunlah Sayang..."


Walaupun operasi sudah berjalan lancar tetap saja melihat Gifali belum sadar, hatinya masih merasa tercacah.


"K----kak?"


Maura mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah suara yang tengah memanggilnya.


"Iya, Dis."


Entah sejak kapan Gadis dan Elang sudah berada disana, mungkin saja sejak suara pertama yang Maura cuatkan untuk Gifali.


Hati Gadis terasa sangat sakit, lelaki yang ia sayangi begitu saja terlepas. Ia harus mencoba belajar bahwa Gifali memang hanya milik Maura, Kakak sepupunya.


Elang terus merangkul Gadis untuk menguatkan wanita itu. Mungkin kejadian ini menjadi berkah bagi Elang karena ia bisa mendapatkan Gadis selangkah lebih maju dari rencana yang sedang ia susun kemarin.


Bangun lah bro! Walau gue sempat benci lo! Tapi gue nggak suka lo diem aja kayak gini


"Sini, Dis..." Maura merentangkan tangannya agar menggapai tubuh Gadis untuk mendekat kearahnya.


"Bicaralah apa yang ingin kamu katakan, bangunkan Gifa. Kata Dokter dengan banyak dibantu bicara, ia akan segera sadar dan pulih." Ucapnya datar dan masih terasa dingin.


Gadis mengangguk sambil menahan sesak karena sikap dingin yang terus diberikan oleh Maura. Walau Maura tahu ini bukan kesalahan Gadis. Adik sepupunya tersebut.


"Gifa, ini aku Gadis..."


"Kamu ingat nggak hari ini tuh tepat satu bulan kita jadian."


"...Setiap sore kamu pasti anterin aku ke sanggar, bahkan suka nungguin sampai sore." Ucap Gadis dengan nada terbata-bata. Dadanya terasa sesak setiap ia mengingat momen-momen kebersamaan.


"Kita selalu makan bareng di bangku taman---" Air mata Gadis menjadi tumpah ruah, ia terisak kembali. Begitu sakit hatinya, jiwanya tercabik-cabik ketika sedang merasai indahnya cinta namun terhempas begitu saja dengan keadaanya yang tidak sama sekali mendukung cintanya.


Maura memalingkan wajahnya menunduk kebawah. Air matanya kembali menetes dengan pelan. Hatinya pun sakit, jiwanya terkoyak. Ia harus menelan pil pahit.


Setidaknya kamu pernah membagi hatimu untuk Gadis, Gifa!


Batin Maura bergemuruh kencang, terasa sakit dan berat bagai tertusuk banyak jarum di dadanya.


Maura memejamkan kedua matanya sambil menghirup udara bebas untuk memasok oksigen yang baru agar kepalanya terasa segar.

__ADS_1


"Gadis, aku titip Gifa ya. Aku mau keluar dulu sebentar--"


Ucapnya tanpa menoleh dan tanpa membiarkan Gadis menjawab ucapannya.


Selembut dan sebaik apapun wanita, pasti akan merajuk dan tidak suka jika mendengar kekasihnya pernah membagi cinta dan hatinya untuk wanita lain.


"Ra...?" Sapa Mama Difa menghampiri Maura yang baru saja keluar dari ruang ICU.


Maura memberi senyuman tipis kepada Mama Difa untuk menutupi hatinya yang sedang duka dan lara.


"Mama, Papa dan Ammar kemana Tante? Om Galih beserta yang lainnya?"


"Mama, Papa dan adikmu, Tante suruh pulang, Nak. Biar mereka istirahat dulu, kasian kan dari semalam.


"Kalau Om Galih lagi tiduran di mobil bersama Om Lukman. Kalau anak-anak baru aja dijemput sama Mang Adik biar istirahat dulu dirumah, nanti siang biar kesini lagi. Apa Maura juga mau pulang dulu? Nanti kalau Gifa sudah siuman, Tante akan telepon Maura---"


Maura menggelengkan kepalanya.


"Maura ke kantin aja ya Tante, Tante mau apa?"


"Nggak Nak, tante disini aja nunggu Gifa. Didalam masih ada Elang dan---?"


"Namanya Gadis, tante!" Tatapan nanar Maura sepertinya menusuk relung hati Mama Difa yang menyayangkan sikap Gifali kepada dua wanita ini.


"Nak?" Mama Difa meraih tangan calon menantunya. "Maafkan Gifa ya. Gifa pasti nggak sengaja melakukan ini! Dia sayang sekali sama kamu, Nak--"


Bulu kuduk Maura merinding seketika. Ia terenyuh dengan ucapan Mama Difa yang mau merendah untuk anaknya.


"Iya Tante..." Jawabnya pelan. "Tante, Maura permisi dulu ya." Maura dengan cepat mengakhiri perbincangan itu. Ia tidak mau membahas terus luka yang masih menganga membuat hatinya perih.


Mendengar ucapan Gadis tadi, seperti membuat ia terombang-ambing dalam maju dan mundur untuk melepas Gifali.


Ia sayang Gifali tapi ia juga sayang Gadis. Terlebih lagi bagaimana tanggapan dari keluarga besarnya. Sungguh Gifali akan dikecam menjadi lelaki yang tidak baik.


Mungkin sekarang Papa Bilmar masih menghormati Maura untuk tidak menyuruhnya memutuskan hubungan anaknya dengan Gifa. Karena keadaannya tengah genting dan mencekam. Namun setelah semua akan kembali normal, entah apa yang akan ia lakukan. Mungkin saja ia akan memutuskan paksa antara Maura dan Gifa.


Ia merasa Gifali telah membuat duri dihati Maura dan Gadis. Gifali harus bersiap mempunyai banyak waktu untuk meraih kembali simpati keluarga Maura.


*****

__ADS_1


Like dan Komen ya guyss


🖤🖤🖤


__ADS_2