GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Jangan sampai ada pernikahan!


__ADS_3

Haiii malam, aku balik lagi guyss


Selamat baca yaa


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


Mobil Papa Galih sudah terhenti didepan gerbang rumah Maura.


"Om---"


Baru saja Maura membuka suara, Papa Galih langsung memotongnya.


"Ra, salam untuk Mama dan Papamu ya, Om mau langsung kerumah jemput adik-adiknya Gifa." Ucap Papa Galih berbohong.


Tentu bukan itu alasan utamanya tetapi ia ingin cepat sampai ke Rumah Sakit, karena sedari di perjalanan hatinya tidak cukup tenang. Mengingat istrinya tengah berdua dengan lelaki yang masih belum bisa bersahabat dengannya.


"Om nggak mau minum dulu?" Maura kembali menawarkan.


Papa Galih tersenyum.


"Nggak Nak, lain kali aja Om sama Gifa akan main kesini. Maura jangan lupa istirahat ya."


Maura mengangguk dan meraih punggung tangan Papa Galih untuk di ciumnya. "Hati-hati ya Om."


Maura pun turun dari dalam mobil dan melambaikan tangannya.


Mobil Papa Galih pun melaju dengan cepat dan kencang. Semoga saja kecemburuan yang tengah meradang tidak membuyarkan ke fokusannya dalam menyetir. Jangan sampai kasus Gifali terulang lagi kepadanya.


Maura melangkah gontai masuk kedalam rumah yang sejak semalam ia tinggalkan. Di satu sisi hatinya merasa tenang karena Gifali sudah sadar. Namun di sisi lain, hatinya terasa ganjal dan berongga.


Rasa cinta yang menggebu-gebu dihatinya kini terasa bias, agak kosong dan sedikit hampa. Rasa kecewa itu terus bertahta dan tidak mau pergi. Ia ingin memaki kembali keadaan, namun semua ini terjadi.


"Ya nggak bisa gitu dong Pah? Papa juga harus menjaga perasaan Maura!"


Suara Mama Alika terdengar sedikit nyaring dari dalam kamarnya. Membuat Maura menghentikan ayuhan tangannya ketika ingin mengetuk pintu kamar orang tuanya.


"Pokoknya Papa nggak suka sama Gifa! Dia udah menyakiti perasaan anakku, Mah!" Suara Papa Bilmar tidak kalah nyaring.


"Tapi ini hanya sebuah kesalahpahaman Pah. Mama tau sikap Gifa salah, tapi posisinya---"


"...Posisinya dia tetap memacari Gadis dibelakang anakku!" Papa Bilmar terdengar memotong ucapan istrinya.


"Tapi kan Gifa sudah putuskan Gadis, Pah. Maura amat mencintai anak itu. Sampai hati kamu mau memisahkan mereka?" Mama Alika terdengar terus meminta belas kasih kepada suaminya.


"Pokoknya aku tetap tidak suka Maura berhubungan dengan Gifali! Jangan sampai ada pernikahan, aku tidak akan merestuinya!"


"Pah?"


"Sudah kamu diam! Ikuti keputusanku! Setelah kelulusan, aku akan mengirim Maura ke London. Untuk menyelesaikan sekolah Chef disana!"


Jap.

__ADS_1


"Ya Allah..." Rintih Maura.


Seketika kedua telapak kaki Maura begitu saja lemas. Apalagi ini? Masalah hati nya yang masih rapuh saja belum bisa tertata baik, malah ditambah dengan kemurkaan sang Papa yang akan memisahkan dirinya dengan Gifali.


Air bening kembali mengumpul di pelupuk matanya, menggenang dan akhirnya menetes turun membasahi kedua pipi yang terlihat agak cekung dan pucat.


"Hhh..." Desahan dan isakkan kembali menemaninya.


"Kamu telah membohongiku!"


"...Ada Gadis yang mencintaimu!"


"Sekarang Papa membenci kamu Gifa...!"


"Bagaimana hubungan kita sekarang, Gifa?"


Lirihan hati Maura terus memuncak. Maura seketika berlari menuju kamarnya ke lantai atas.


"Minggir Ammar!" Seru Maura kepada Ammar yang sedang menghalang-halangi nya untuk menaiki anak tangga.


"Putuskan Kak Gifa, Kak! Dia lelaki yang tidak baik buat kamu!"


Apa lagi sih ini? Jika tadi ucapan Papa Bilmar sudah menusuk hatinya, kenapa sekarang Ammar juga mengikuti jejak sang Papa untuk ikut membenci Gifali.


"Minggir Ammar, aku mau naik---"


Tapi Ammar tetap tidak mau membiarkan Kakaknya melangkah begitu saja untuk naik ke atas. Ia butuh keputusan dari Kakaknya sekarang.


"Kak?"


Ammar butuh jawaban dari sang Kakak. Walau sebenarnya ia ada hati dengan Ganaya, tapi sikap Gifali tidak bisa ditolerir. Ia merasa sakit hati Maura di perlakukan seperti ini. Ia jadi benci lelaki itu.


Entah mengapa semua ini begitu saja cepat berubah. Bagaimana reaksi Gifali nanti jika ia tahu, tidak akan bisa berhubungan lagi dengan Maura ataupun menikahinya.


"Kamu akan menyesal Kak! Dengarkan apa kata keluargamu, hanya kami yang tidak akan membuat kamu kecewa!"


"Jika seseorang sudah pernah berbohong, tidak menutup kemungkinan ia akan berbohong lagi di suatu saat nanti. Fikirkan lah, sebelum hubungan kalian semakin menjauh!" Sambung Ammar.


Ucapan Ammar begitu saja membuat langkah Maura terhenti dipertengahan anak tangga. Ammar pun berlalu dan Maura hanya bisa diam pasrah.


Maura kembali teringat bagaimana ia dan Gifali sudah berciuman di mobil. Walau hanya sebatas itu, Maura merasa hubungannya sudah terlalu jauh.


Maura terlihat mengusap rambutnya ke belakang, memejamkan kedua matanya dan menghembuskan nafasnya begitu saja ke udara. Isi kepalanya terasa penuh. Cukup pusing, lelah dan penat.


"Tapi aku mencitaimu, Gifa...." Desahnya.


*****


Karena mengetahui kondisi Gifali sudah mulai membaik. Dokter penanggung jawab Gifa sudah memperbolehkan anak itu untuk keluar dari ruang ICU. Saat ini ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP.


Kamar itu cukup luas, lega dan mewah. Mama Difa sengaja memilih kamar ini, agar ia bisa nyaman menunggu Gifa ketika anaknya masih membutuhkan perawatan disini.


Tentu Gifali adalah anak yang sangat beruntung. Mendapatkan kasih sayang, materi dan nama besar dari keluarga Hadnan. Terutama yang paling ia syukuri ketika Mama Difa yang dipilihkan oleh Allah untuk mengasuh dan merawatnya, menjadi Mama sambung yang begitu tulus sehalus mutiara.


Om Malik sudah pamit setengah jam yang lalu kepada Gifa dan Mama Difa. Lelaki tu terus meminta kepada Mama Difa agar mengabarinya selalu tentang perkembangan Gifali.


Dan selama 17 tahun lamanya, akhirnya mereka kembali bertukar nomor telepon. Om Malik yang memaksa, ia takut ada kejadian menggemparkan setelah ini.


Mama Difa masih duduk terdiam di tepi kasur Gifali. Menundukkan wajah sambil terus mengupasi kulit jeruk agar terpisah dari dagingnya.


Gifali terus melihati sang Mama yang banyak diam dan tidak mau bicara. Ia merasa aneh.

__ADS_1


Mama Difa menoleh dan menyodorkan jeruk kepada mulut sang anak. Hatinya masih terasa sesak dengan kebohongan Gifali dan Papa Galih.


Bisa-bisanya mereka!


"Mah, kenapa?" Tanya Gifali ketika melihat ada genangan air mata yang tidak bisa tertahan untuk jatuh di pelupuk mata sang Mama.


Mama Difa hanya menggeleng. Ia menyeka air matanya dan kembali menyuapi Gifali.


Krek.


Ada suara handle pintu dibuka dari luar. Seketika suara gaduh pun terdengar.


"KAKAK...."


Suara Ganaya, Gelfani dan Gemma yang sedang berlari memeluk Gifali yang masih berbaring di ranjang.


Mama Difa pun bangkit untuk memberi ruang kepada mereka yang saling melepas rindu.


"...Kok botak sih Kak?" Gelfani mengusap-usap kepala Gifali, membuat pemuda ini seketika menaikan pangkal bahunya karena terasa geli.


"Iya botak mana keren sih..." Sambung Gemma.


"Heh! Siapa bilang botak nggak keren! Botak tuh sexy tauu!" Ganaya mendengkus. Ia tetap ingin membesarkan hati Gifali.


"Udah jangan diketawain, kalian sedih kan lihat Kakak kaya gini?"


Ketiga adiknya mengangguk. "Ayo sini peluk lagi---" Seru Gifali.


Mereka pun kembali memeluk sang Kakak dengan kasih serta sayang. Membuat hati Mama Difa menjadi sakit teriris. Ia tidak percaya badai akan datang menerpa keluarganya.


"Bagaimana jika adik-adiknya tau, kalau Gifa bukanlah Kakak kandung mereka. Apa yang harus aku jelaskan?"


"Apa kah harus aib yang selama ini aku jaga berbelas tahun, begitu saja terbuka?"


"Bagaimana jika mereka tau, tentang kesalahan ku dan Mas Galih di masa lalu? Ya Allah...tolonglah aku!"


Mama Difa begitu merana dalam rintihan hatinya. Ia pun memilih menangis diluar kamar perawatan Gifa. Rasa hancur tidak bisa terelakan lagi di jiwanya. Entah mengapa instingnya kuat, kalau Gifali bukanlah anak Papa Galih.


"Mah?"


Suara lelaki yang menikahinya selama 22 tahun begitu saja terdengar kembali. Nafas Papa Galih terlihat tersengal-sengal karena ia habis berlari-lari untuk sampai ke ruangan perawatan Gifali.


Mama Difa pun menoleh dan memutarkan badannya untuk berdiri sejajar dengan tubuh suaminya. Menatap nya keluh, tajam dan sakit.


Mah? Kamu nangis? Kenapa?" Papa Galih mendekat.


Lalu


Blag.


Tangan Papa Galih ditepis begitu saja oleh Mama Difa dan terayun kebawah.


"Jangan sentuh aku! Tega-teganya kamu bohongi aku, Galih!"


Jantung Papa Galih seketika berdebar, ketika tidak ada awalan lagi untuk memanggil namanya dari bibir Mama Difa. Ia terperangah terus menatap dua bola mata istrinya yang kembali meneteskan air mata.


*****


Entah deh kenapa, di part ini hati aku nyesek banget, nggak nyangka gimana hati Gifali jika tau hidupnya sedang author permainkan.


Maapin ya gifa, aku jahat 💔💔

__ADS_1


Like dan Komen ya guyss


__ADS_2