
"Baginda,"
Kaisar Raymond yang tampak serius itu mendongak. Setelah acara perpisahannya dengan Permaisuri Shopia. Kaisar Raymond melanjutkan pekerjaan istana yang sempat tertunda akibat kenyamanan bercinta dengan Selir Lusia.
Sedangkan Selir Lusia kembali melanjutkan pendidikannya sebagai seorang wanita istana. Kaisar Raymond pun memilih seorang yang handal sebagai guru istrinya.
"Ada apa? wajah mu tampak serius." Kaisar Raymond menaikkan sebelah alisnya. Tidak seperti biasanya, laki-laki itu memanggil dirinya di sela-sela banyaknya laporan istana.
"Apa Baginda yakin dengan perkataan Baginda?" tanya sang Kesatria dengan wajah di selimuti keraguan.
"Apa maksud mu? Jangan berbelit-belit." Sentak Kaisar Raymond. Karena sifatnya memang tidak menyukai perkataan yang bertele-tele. Baginya, perkataan tanpa langsung ke intinya hanya membuang-buang waktu saja.
"Apa Baginda yakin akan mengganti posisi Permaisuri?"
Meja kokoh itu pun langsung terbelah menjadi dua. Ia tidak merasa mengatakannya bahkan belum berfikir untuk menggeser posisi Permaisuri. "Jangan mengatakan sembarangan. Aku tidak pernah mengatakan akan menggantikan posisi Permaisuri."
__ADS_1
"Bukankah tadi Baginda sudah menyetujuinya." Kesatria itu sejenak merasa aneh. Kaisar Raymond marah. Padahal dia sendiri yang ingin membuat Selir Lusia hanya satu-satunya di istana ini.
"Kapan? Aku tidak pernah menyetujuinya." Kaisar Raymond semakin naik pitam. Ia sama sekali tidak merasa menyetujuinya. Dan Permaisuri Shopia tidak pernah membahasnya.
Kini kesatria di sampingnya pun mengerti, tadi Kaisar Raymond tidak fokus. Mungkin pikirannya teralihkan pada Selir Lusia saja.
"Permaisuri mengatakan, jika Selir Lusia harus menambah pendidikannya untuk menggantikan posisi Permaisuri." Ucapnya seraya meneguk ludahnya. Kali ini guratan kemarahan keluar dari wajahnya. Bagaikan singa yang siap menerkamnya.
"Apa tadi Permaisuri mengatakan itu?" Tanya Kaisar Raymond memastikan.
"Astagah!" Kaisar Raymond memijat keningnya. Sungguh ia tidak dengar, benar yang di katakan Kesatrianya. Ia kurang fokus dan malah mengiyakannya tanpa mendengarkan penjelasan lebih lanjutnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Berarti tadi aku menjawab iya."
Di dalam kebingungannya, hatinya bertanya-tanya. Seharusnya ia senang dengan keputusan Permaisuri Shopia, tetapi hatinya begitu tidak menginginkan posisi Permaisuri Shopia tergeser. Dan artinya, ia akan bercerai dengan Permaisuri Shopia.
__ADS_1
Kaisar Raymond keluar dari ruang kerjanya. Langkahnya berhenti di depan ruangan khusus untuk para anggota istana belajar pendidikan. Dengan cepat, laki-laki di belakangnya membukakan pintu. Dan benar saja, ia melihat banyaknya buku yang berada di atas meja. Bahkan wanita itu yang tampak serius belajar menghentikan aktivitasnya.
"Baginda." Selir Lusia pun bangkit dari tempat duduknya.
Kaisar Raymond melihat semua buku di hadapannya. Lalu beralih menatap wanita di depannya. "Bagaimana? Apa kamu merasa kesusahan?"
Wanita berwajah tegas di samping Kaisar Raymond dan Kesatria itu pun pergi setelah melihat Kaisar Raymond memberikan kode lewat lambaian tangannya.
"Susah, tapi aku akan berusaha. Tadi saja aku sudah lelah. Namun melihat Baginda seketika lelah ku hilang." Ucap Selir Lusia. Ia mendekat dengan mengecup bibir Kaisar Raymond. Setiap saat pertemuannya, keduanya akan menyapa lewat bibir sebagai tanda rasa rindu yang sudah terobati.
"Jika ada sesuatu yang kamu tidak mengerti. Kamu bisa menanyakannya pada ku."
"Tentu Baginda, aku akan berusaha menjadi pendamping yang baik untuk Baginda dan tidak mengecewakan permintaan Permaisuri. Aku siap menjadi seorang Permaisuri." Selir Lusia perlahan mengalungkan kedua tangannya ke leher Kaisar Raymond. Hingga bibir itu menempel.
Rasa di hati Kaisar Raymond tak menentu. Sejauh ini, ia bisa mengatakan tidak masalah tentang Permaisuri Shopia yang harus pergi dari istana. Dalam hatinya ia sangat meminta maaf atas perlakuannya.
__ADS_1