Hurt! Empress Shopia

Hurt! Empress Shopia
eps. 15 : Aku Tidak Akan Memintanya


__ADS_3

"Permaisuri."


Wanita berpakaian pelayan itu mendekat. "Apa Permaisuri baik-baik saja?" Tanya wanita itu sekedar basa-basi. Tapi ia sudah tahu, pasti sudah terjadi sesuatu.


"Dimana ayah?" tanya Permaisuri Shopia mengalihkan pertanyaannya.


"Tadi Duke Luke terburu-buru setelah kesatrianya membisikkan sesuatu." tutur pelayan Elma.


"Aku ingin ke taman belakang." Ucapnya kemudian di ikuti oleh pelayan Elma.


Permaisuri Shopia melangkah dengan air mata yang berlinang di pipinya. Ia juga menahan isak tangisnya dengan menggigit bibir bawahnya.


Sedangkan pelayan Elma. Dirinya juga tak bisa menahan tangis. Hatinya juga merasakan apa yang junjungannya rasakan.


Permaisuri Shopia duduk di bangku putih itu dengan tatapan kosong. Ia menunduk, membiarkan air matanya berjatuhan di kedua pahanya.


"Permaisuri."


"Aku harus apa, Elma? Apa aku sanggup menjalaninya?" Tanya Permaisuri Shopia sambil mendongakkan kepalanya. Menatap sang pelayan yang berdiri di sampingnya.


Dengan cepat, kedua tangan pelayan Elma menghapus air mata Permaisuri Shopia. "Permaisuri orang yang kuat, aku berjanji apapun yang terjadi. Aku akan tetap bersama Permaisuri."

__ADS_1


"Permaisuri." Teriak seorang wanita dari jauh.


Permaisuri Shopia dan pelayan Elma langsung menghapus air matanya dengan memalingkan wajahnya. Keduanya pun diam dengan santai, menghembuskan nafas sesaknya saat melihat wanita itu menghampirinya.


"Permaisuri."


Wanita itu berjongkok, dia memperlihatkan deretan rapi gigi putihnya. "Apa Permaisuri tahu? Aku sangat bahagia. Baginda membelikan ku sesuatu." Wanita itu meraih kalung di lehernya. Batu Safir warna hijau itu mengkilau. "Ini, aku sangat senang. Baginda sangat mencintai ku. Aku kira tadi apa? Ternyata Baginda membelikan ku ini." Imbuhnya seraya terkekeh.


Deg


Selama menikah, dia tidak pernah di belikan apapun. Ya, kebaikannya hanya sebatas menghormatinya sebagai istri. Tidak ada yang spesial. Dirinya, hanyalah pajangan. Dan kini pajangan itu sudah tidak berarti sampai harus membuangnya.


Permaisuri Shopia menyentuh dagu Selir Lusia. "Kamu sangat senang. Begitupun aku, aku sangat senang melihat mu bahagia. Aku janji, akan membuat mu menjadi seorang Permaisuri yang di hormati dan di cintai."


Sementara Permaisuri Shopia, melihat ke langit. Agar air matanya tidak terjatuh. Tangan kanannya pun mengelus surai hitam milik Selir Lusia.


Haruskah dia bahagia melihat kepolosan dan kebaikan Selir Lusia atau dia harus membencinya. Hatinya saja tidak tega melihat kepolosannya. Pantas saja, Kaisar Raymond begitu mencintainya.


Aku berjanji akan membuat mu pantas menjadi seorang Permaisuri. Setelah itu, tugas ku sudah selesai.


"Permaisuri, kenapa Permaisuri menangis?" Tangan kecilnya menghapus air mata di wajah Permaisuri Shopia. "Apa aku membuat kesalahan?"

__ADS_1


"Tidak, aku sangat senang. Suatu saat kamu menjadi Permaisuri yang hebat."


Selir Lusia berdiri, ia memutar tubuhnya. Lalu melangkah, kemudian berhenti. Ia ingin bertanya, tapi takut membuat Permaisuri Shopia marah. Jujur saja, ia sudah menganggap Selir Lusia seperti kakak kandungnya sendiri. Dia begitu sabar menemani Kaisar Raymond yang bahkan tidak mencintainya. "Apa Permaisuri tidak marah pada ku saat aku datang kesini dan merebut Baginda? Apa Permaisuri tidak marah pada Baginda?"


Jantungnya berdetak tak karuan. Ia ingin marah, tapi ia harus marah pada siapa. Pada Selir Lusia atau pada Kaisar Raymond. Keduanya tidak salah saling mencintai. Sebuah cinta di hati tak pernah di minta. Cinta itu datang dengan sendirinya. Marah pada Selir Lusia, dia bisa melihat tidak ada kelicikan di matanya. Hanya ada kepolosan. Ia bisa melihat tatapan teduhnya. Sedangkan Kaisar Raymond, dari dulu laki-laki itu sudah menghargainya sebagai seorang istri. Walaupun tidak mencintai. Hanya saja saat kedatangan masa lalunya. Dia tidak lagi seperti dulu, perubahannya sangat cepat.. Hingga dia tak bisa melihat Kaisar Raymond yang dulu.


"Aku tidak bisa marah pada mu atau pada Baginda. Karena cinta yang datang di hati kalian datang dengan sendirinya."


Aku marah pada diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa membuatnya jatuh cinta. Kenapa hanya dirimu di hatinya. Tidak bisakah dia mencintai ku sedikit saja.


"Bagaimana jika aku mencintainya?"


Selir Lusia menganga, lalu menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa? Tapi sejujurnya, Permaisuri Shopia juga berhak mendapatkan haknya. "Boleh aku jujur,"


Permaisuri Shopia mengangguk tersenyum. "Aku tidak ingin berbagi, tapi aku tahu. Permaisuri juga berhak mendapatkan cintanya. Aku datang, lalu pergi, kemudian aku datang kembali. Selama ini Permaisuri sangat baik pada ku dan juga pada Baginda. Dan untuk itu, aku tidak masalah berbagi."


Permaisuri Shopia tersenyum, perkataan Selir Lusia seperti bunga mawar tapi berduri. Meskipun wanita di hadapannya tulus, tidak akan pernah membuat Kaisar Raymond mencintainya.


Ya, cinta tak harus memiliki, tapi cinta saling menghargai.


"Aku tidak akan memintanya, tadi aku hanya bercanda." Ucap Permaisuri Shopia seraya menyenggol bahu kiri Selir Lusia yang membuat wajahnya tadinya tegang kini terlihat santai.

__ADS_1


"Tapi jujur saja Permaisuri, aku senang berbagi dengan Permaisuri."


___Heyyy kak, perubahan nama judul yaaa, soalnya nanti bakalan ada pemeran laki-laki yang keluar, tapi sabar menunggu___


__ADS_2