
"Baginda."
Seorang laki-laki mendarat sempurna di balkom, tempat seperti biasa. Keduanya bertemu di sebuah penginapan yang mereka tempati.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan selama aku tidak ada?"
Dengan wajah menunduk seraya melirik laki-laki di depannya. "Selir Lusia hamil."
Kaisar Xavier tersenyum tipis. Dengan Selir Lusia hamil, itu artinya, ia bisa mendekati Permaisuri Shopia dengan mudah.
"Tapi, Permaisuri Shopia juga hamil. Namun Permaisuri Shopia tidak memberitahukannya pada Kaisar Raymond."
Wajah Kesatria itu pias saat ujung pedang itu menyentuh kulit lehernya. Ia sudah mengira, akan terjadi seperti ini. Kaisar Xavier akan mengeluarkan seringai iblisnya.
"Itu artinya, aku tidak bisa mendekatinya. Bagaimana jika hubungan mereka membaik? Lantas apa yang harus aku lakukan?" Kaisar Xavier menjatuhkan pedangnya. Namun genggamannya semakin erat. Giginya saling bergesekan, menahan amarahnya.
"Apa, apa perlu saya membunuh?"
__ADS_1
Tanpa dia sadari pedang di tangan Kaisar Xavier menggores lehernya. "Apa kamu pikir aku akan mencelakai wanita ku? Tidak, aku tidak akan melakukan hal bodoh yang akan membahayakan nyawanya."
"Tapi pikirkan Baginda, dengan kehamilannya. Hubungan yang renggang akan menghilang Baginda."
Kaisar Xavier berpikir sejenak, ia tidak mau hubungan Permaisuri Shopia membaik. Tapi ia juga tidak mau Permaisuri celaka.
"Akh,, kenapa semakin rumit?" Teriak Kaisar Xavier.
"Kamu bilang, Permaisuri Shopia hamil dan tidak ingin memberitahukan pada Kaisar Raymond. Itu artinya, aku harus mengeluarkan dia dari istana sebelum Kaisar Raymond mengetahui kandungannya."
"Apa Baginda berencana menganggap anak Kaisar Raymond seperti anak Baginda?"
Kaisar Xavier pun menuju istana Kaisar Raymond. Ia akan melihat keadaan istrinya. Meskipun, hubungan mereka tidak jelas, tapi ia sangat yakin dan percaya. Permaisuri Shopia akan menjadi istrinya dan ibu anak-anaknya.
"Apa kamu bersedih?"
Permaisuri Shopia menatap nanar Kaisar Xavier yang muncul dari jendela.
__ADS_1
"Ada apa? Apa yang membuat mu bersedih?" Tanpa permisi Kaisar Xavier duduk berjongkok di samping Permaisuri Shopia. Ia menghapus butiran air yang membasahi pipinya. Permaisuri Shopia pun tak bisa menolak, setiap aura yang dilakukan oleh Kaisar Xavier seakan membuat hipnotis.
"Ti-tidak ada, pergilah. Untuk apa kamu datang kesini?" Tanya Permaisuri Shopia ketus. "Aku tidak ingin kamu di sini, pergilah. Aku tidak ingin ada yang salah paham."
"Semenjak kamu menerima cincin yang aku berikan pada mu. Artinya kamu sudah bersedia menjadi istri ku."
"Gila, apa kamu gila? Siapa yang bersedia," Permaisuri Shopia melepaskan cincin yang melingkar di jarinya. "Ini aku kembalikan." Namun tidak sesuai apa yang ia inginkan. Cincin itu tak bisa lepas dari jarinya.
"Cepat lepaskan, aku tidak mau menjadi istri mu. Aku seorang Permaisuri."
Kaisar Xavier tertawa kecil. "Kamu memang Permaisuri. Aku tidak akan mengubah status mu, aku lebih kaya dari Kaisar Raymond dan lebih mencintai mu."
plak
Permaisuri Shopia memukul kepala Kaisar Xavier. Seandainya bukan calon istrinya. Sudah pasti tangan yang menyentuhnya sudah mati.
"Dengar ya, kamu tidak bisa mengajak ku menjadi istri mu atau apapun. Karena aku tidak akan mau." Ketus Permaisuri Shopia.
__ADS_1
"Dengarkan aku, aku mencintai mu dan akan membahagiakan mu. Anak yang di kandung mu, akan menjadi anak ku. Aku tahu, Kaisar Raymond tidak akan memberi perhatian pada mu. Karena saat ini, Selir Lusia juga hamil. Maka dari itu, aku akan menjadi ayah dari anak mu. Aku yang akan mengakui selama itu dalam rahim mu." Tegas Kaisar Cavier dengan wajah serius.