Hurt! Empress Shopia

Hurt! Empress Shopia
eps. 77 : Kebenaran tentang Selir Lusia


__ADS_3

"Apa maksud mu, Permaisuri Shopia?" tanya Duke Luke menatap lekat putrinya. Sebuah keputusan akan ia setujui asalkan ada alasan yang kuat. Dia tidak akan semudah itu menyetujuinya, yang ia pandang bukan Permaisuri Shopia saja, tapi menantunya dan juga cucunya.


"Sebenarnya aku dan Baginda menerima sebuah surat dari Pangeran Hilton."


"Pangeran Hilton, apa dia sudah tahu kamu menjadi istri Baginda dan sudah memiliki anak?"


Permaisuri Shopia mengangguk, ia pun melanjutkan ceritanya tentang surat yang di kirim Pangeran Hilton. Duke Luke menyimak cerita itu dengan baik, ia harus mengambil kesimpulan dengan benar.


"Aku tidak bisa ikut campur masalah mu, Permaisuri Shopia. Tanggung jawab mu sekarang sudah ada pada Baginda. Aku hanya bisa melindungi mu, jika ada sesuatu yang akan membahayakan mu."


Duke Luke menggelengkan kepalanya, "Semuanya terserah Baginda."


"Aku jujur, sebenarnya aku tidak suka dengan keputusan istri ku, tapi aku bisa apa? satu sisi istri ku ingin meluruskan hubungannya atau memberitahukan perasaannya." Kaisar Xavier menghela nafas berat. Dia khawatir, Permaisuri Shopia akan merasa kasihan dan lebih mementingkan Kaisar Raymond.


"Aku berjanji Baginda, percaya pada ku."


Kaisar Xavier menoleh ke arah Permaisuri Shopia, "Baiklah, tapi berjanjilah setelah ini. Tuntaskan hubungan mu dengannya. Beritahukan pada Kaisar Raymond dan Pangeran Hilton.


"Ya sudah, aku akan mengirimkan surat pada Baginda dan Pangeran Hilton."


"Baginda dan Permaisuri, silahkan beristirahat," ujar Duke Luke mempersilahkan putrinya dan menantunya ke kamar yang sudah di persiapkan oleh para pelayan.


"Kakek, aku tidur dulu," ujar putri Alice.

__ADS_1


"Iya, sayang. Tidurlah," ujar Duke Luke sembari mencium kening putri Alice. Dia pun juga mencium kening Pangeran Harsenz.


Permaisuri Shopia, Kaisar Xavier dan kedua anaknya menuju lantai atas, meninggalkan Duke Luke di ruang tamu. Dia harus berbicara dengan Pangeran Hilton, rasanya ia kurang puas jika hanya sebuah surat perantara mereka. "Siapkan kereta, aku akan berkunjung ke istana."


Di istana.


Pangeran Hilton tampak gelisah, ia takut pasangan itu tidak menyetujui permintaannya, namun mengingat permintaan konyol itu, ia merasa wajar jika di tolak oleh Kaisar Xavier dan Permaisuri Shopia.


"Jantung ku rasanya hampir meledak memikirkan mereka, otak ku rasanya sudah pecah."


"Pangeran,"


Pangeran Hilton memutar tubuhnya, menatap sang kesatria. "Apa ada sesuatu yang datang, semacam surat?"


"Tidak ada Baginda, namun ini sangat penting daripada surat itu."


"Saya menemukan sesuatu yang pastinya akan membuat Baginda dan juga Pangeran terkejut. Saya membuntuti Selir Lusia keluar dari istana pada malam hari, tapi anehnya, Selir Lusia menuju kediaman Viscount Armand, yang lebih mengejutkan lagi. Selama beberapa bulan ini Selir Lusia sering berkunjung ke kediaman Viscount Armand. Saya sudah menelusurinya dengan benar, bahkan saya memasukkan salah satu seorang pelayan dan ternyata, Viscount Armand dan Selir Lusia memiliki hubungan khusus selama beberapa bulan ini Baginda. Salah satu dari pelayan yang menjaga Pangeran Aronz juga menceritakan, Selir Lusia tidak peduli dengan Pangeran Aronz, kadang memarahinya tanpa ada alasan yang jelas dan bahkan memukulnya."


Pangeran Hilton menganga, ia menggusar rambutnya dengan kasar. Ia tidak menyangka, Selir Lusia berbuat nekad main api di belakang Kaisar Raymond. "Apa yang harus aku katakan pada Baginda? dia akan semakin terpuruk, benar dia masih mencintai Permaisuri Shopia, tapi dalam hatinya ia masih mencintai Selir Lusia, hanya karena kecewa dia melakukan ini. Walaupun terkesan berubah, dia tidak pernah mengabaikan permintaan Selir Lusia. Apapun yang wanita itu minta, pasti di turuti."


"Lalu bagaimana Pangeran?"


"Aku akan menemui Pangeran Aronz lebih dulu," ujar Pangeran Hilton melangkah keluar.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu kamar Pangeran Aronz, ia menghentikan langkahnya. Suara tangisan Pangeran Aronz yang terdengar memilukan dan sangat menyiksa.


brak


Pangeran Hilton menendang pintu itu dengan kasar, urat-urat di lehernya terlihat menegang. Matanya seakan keluar. "Selir Lusia!" Terik Pangeran Hilton.


Selir Lusia langsung menjauhkan tangannya dari lengan Pangeran Aronz. "Pa-Pangeran, ada apa?" tanya Selir Lusia gugup. Dia melirik Pangeran Aronz yang sudah terdiam menundukkan kepalanya.


Pangeran Hilton menghampiri Selir Lusia, ia menatap Pangeran Aronz dan langsung menarik baju lengannya sampai ke sikut. Ada beberapa warna memar di kulit putihnya.


Selir Lusia semakin gugup, ia harus jawab apa pada Pangeran Hilton?


"Apa Selir Lusia bisa menjelaskan ini?"tanya Pangeran Hilton menekan.


"Em, tangannya mungkin di gigit serangga, Pangeran. Jangan khawatir aku akan mengobatinya, iya kan Pangeran," ujar Selir Lusia sembari melirik anak kecil di sampingnya.


Pangeran Aronz terdiam, ia ingin mengatakan semuanya, tapi ia takut Selir Lusia akan meracuni ayahnya. Semenjak ini ia bertahan hanya karena ancamannya yang akan meracuni Kaisar Raymond. ia tidak memiliki siapa-siapa lagi yang menjadi sandaran hidupnya.


"Benarkan Pangeran Aronz," ucap Selir Lusia menekan.


Pangeran Hilton semakin naik pitam, ia melirik sang Kesatria agar membawa Selir Lusia ke hadapannya.


Sang Kesatria pun menggenggam lengan Selir Lusia.

__ADS_1


"Apa maksud mu ini Pangeran?"


"Jelaskan saja di hadapan Baginda, dia sedang menunggu mu," ujar Pangeran Hilton. "Ayo Pangeran! Baginda sedang menunggu Pangeran," ujarnya seraya menggenggam tangan mungil Pangeran Aronz.


__ADS_2