
"Duke,"
Seorang Kesatria memberikan hormat. "Kami datang kesini ingin menjemput Nona Shopia sesuai dengan perintah Baginda," ujarnya dengan tenang dan tegas.
Sesuai dugaannya, Kaisar Raymond mendatangi kediamannya dengan membawa enam pengawal istana. "Putri ku tidak ada di sini." Duke Luke tersenyum masam. Ia mengerti lirikan demi lirikan pengawal itu.
"Jika tidak percaya, cari saja sendiri. Aku tidak mempermasalahkannya. Geledah saja kediaman ku."
"Maaf,"
Satu kalimat pengawal itu dengan tegas. Dia mengangguk pada pengawal lainnya. Ke lima pengawal itu berjalan berpencar, memasuki setiap ruangan di kediaman Duke.
Salah satu pengawal menghampiri sang Kesatria yang masih diam berdiri dan mematung di hadapan Duke Luke. "Tidak ada."
"Bagaimana?" tanya sang Kesatria pada ke empat pengawal yang menghampirinya juga.
"Tidak ada." Jawabnya serempak.
Duke Luke terkekeh ringan. "Sudah aku bilang, dia tidak ada di sini. Aku berpisah dengannya saat keluar istana. Aku menuju Ibu Kota dan dia menghilang. Aku yakin dia butuh waktu menenangkan dirinya. Berbicaralah pada Baginda apa yang kalian lihat dan kalian dengar." Ucap Duke Luke menatap tajam seraya mengeraskan rahangnya.
__ADS_1
"Baik, kami permisi."
Duke Luke memejamkan matanya, ia menghembuskan nafasnya dengan pelan. Beruntunglah Shopianya pergi sebelum mereka datang. "Ketua Pelayan." Teriak Duke Luke menggema.
"Saya Tuan." Ucap seorang laki-laki separuh baya. "Suruh tutup semua mulut para pelayan yang melihat putri ku datang. Jika mereka masih sayang dengan nyawanya."
"Baik Tuan." Laki-laki itu berlalu, mengumpulkan para pelayan di kediaman Duke.
Sedangkan di sisi lain.
Kesatria Luis tengah melaporkan apa yang terjadi. Dia menceritakan semua kejadiannya sedetail mungkin. Tidak ada satu apapun yang kurang dalam perkataannya.
"Benar Baginda, saya juga merasa terkejut. Tetapi laki-laki itu yang saya tidak kenal. Dia menolong Permaisuri dan membawanya."
"Baginda."
Kesatria Luis dan Kaisar Raymond menoleh. Sudut bibirnya tertarik ke atas membuat senyuman. Dia yakin, Permaisuri Shopia akan kembali karena cintanya begitu dalam pada dirinya.
"Maaf Baginda, kami tidak menemukan Nona Shopia. Kami sudah mencarinya keseluruhan kediaman Duke. Namun tidak menemukannya."
__ADS_1
Brak
Kaisar Raymond melempar meja di hadapannya dengan asal. Meja itu membentur dinding dan langsung reok. Semua berkas-berkas di meja itu berserakah dan sebagiannya tertumpu meja yang tak lagi sempurna itu.
"Apa kamu sudah mencarinya ke seluruh kediaman Duke?"
"Kami sudah mencarinya. Namun nona Shopia tidak ada. Sepertinya nona Shopia memang pergi Baginda. Duke Luke mengatakan jika keduanya berpisah setelah keluar istana.
Argh
"Apa Permaisuri di bawa oleh laki-laki misterius itu Baginda? Saya yakin Baginda."
Kaisar Raymond semakin tak bisa mengendalikan amarahnya. Ia tidak percaya, Permaisuri Shopia memilih pergi dari pada kembali. Ia tidak percaya, Permaisuri Shopia meninggalkannya. "Tidak mungkin, jelas-jelas dia mencintai ku. Semuanya tidak mungkin ... " Teriak Kaisar Raymond memenuhi ruangan itu. Suara keras dan lantangnya membuat pengawal itu menggigil ketakutan. "Kerahkan semua kesatria." Teriaknya dengan keras.
Kaisar Raymond mengacak-acak rambutnya. Bagaimanapun caranya, dia harus menemukan Permaisuri Shopia dan membawanya kembali ke istana.
Seorang wanita menerobos memasuki ruangan kerja Kaisar Raymond saat mendengarkan teriakannya. Hari ini, ia berniat membawakan teh hangat untuk Kaisar Raymond dengan harapan hubungannya tidak lagi merenggang dan berbicara dari hati ke hati, namun perkiraannya salah. Ia melihat Kaisar Raymond begitu frustasi. "Baginda, biarkan nona Shopia pergi. Apa salahnya dia ... "
"Diam !" Teriak Kaisar Raymond. Ia tidak mau lagi mendengarkan Selir Lusia yang menyuruhnya harus merelakannya. "Aku tidak mau lagi mendengarkan penolakan mu."
__ADS_1
"Baginda, aku hanya ingin hidup bahagia bersama Baginda dan anak kita. Sekarang Baginda pipih aku atau nona Shopia." Ucap Selir Lusia dengan mata memerah. Air matanya terus mengalir dengan hati yang remuk.