Hurt! Empress Shopia

Hurt! Empress Shopia
eps. 41 : Selamatkan Anak Ku, Baginda


__ADS_3

Mata Kaisar Raymond membulat sempurna, gaunnya di penuhi darah yang keluar dari mulutnya. "Permaisuri, Permaisuri." Teriak Kaisar Raymond menepuk pelan pipi kanan Permaisuri Shopia.


"Se-selamatkan anak ku, Baginda."


Sambaran petir rasanya membelah hatinya. Anak, Permaisurinya menggumamkan kata anak. Dia menatap perut Permaisuri Shopia. "Cepat panggilkan Dokter istana." Teriak Kaisar Raymond. Ketakutan melanda hatinya, seakan sepenuh jiwanya runtuh. Ia tidak pernah melihat Permaisuri Shopia mengenaskan seperti ini. Siapa yang tega menyakiti, Permaisurinya? Ia berjanji akan membalas orang yang telah menyakiti istri dan anaknya. Ya, anak. Mendengarkan kata anak saja hatinya gembira.


Ia langsung mengangkat tubuh Permaisuri Shopia seraya berlari dan berteriak meminta para pelayan memanggilkan Dokter istana. Ia mengabaikan perkataan Permaisuri Shopia yang menggumamkan nama anak. Baginya keselamatan Permaisuri Shopia sangatlah penting. Dengan hati-hati ia membaringkan tubuh


Pelayan Elma mengikuti langkah Kaisar Raymond di susul dengan Selir Lusia. Kedua wanita itu tampak panik. Selang beberapa saat kedua Dokter istana datang.


Kaisar Raymond menghindar, matanya mengembun. "Permaisuri,"


Bahkan air mata yang sejak tadi di tahan kini jatuh ke pipinya.


"Baginda,"

__ADS_1


Selir Lusia mengelus pundak Kaisar Raymond. Untuk menenangkan hatinya. Namun elusan itu tak bisa membuat hatinya tenang. Ia semakin terisak melihat bibir Permaisuri Shopia pucat.


"Permaisuri keracunan Baginda," Dokter istana menunduk. Ia tak mampu meneruskan pembicaraannya. "Maaf, anak Permaisuri tidak bisa kami selamatkan." Ucapnya pelan.


Kaisar Raymond langsung terduduk lemas di lantai. Matanya menatap sesuatu baskom kuning yang di pegang oleh satu pelayan. Jadi selama ini Permaisurinya hamil, tapi kenapa tidak ada yang memberi tahu dirinya.


"Baginda." Selir Lusia berjongkok, ia memeluk Kaisar Raymond yang tak berdaya dan terisak. Jujur, hatinya juga sakit. Ia seorang ibu, bagaimana jika semuanya terjadi padanya. Mungkin ia memilih mati daripada harus kehilangan anaknya.


"Kenapa aku tidak tahu? Berapa bulan Permaisuri hamil."


Kaisar Raymond berteriak rapuh. Dia menangis di pelukan Selir Lusia. Ia tak peduli, jika saat ini kehilangan kewibawaannya. Hatinya hancur remuk, anak yang ia harapkan pergi tanpa ia mengetahuinya.


"Selidiki, selidiki siapa yang ingin membunuh anak ku. Aku ingin dia membayar apa yang dia lakukan. Beraninya dia menyentuh istri dan anak ku." Teriak Kaisar Raymond. Selir Lusia semakin mempererat pelukannya.


Kedua dokter istana dan para pelayan menatap iba. Tapi tidak dengan pelayan Elma, ia membenci tangisan Kaisar Raymond. Sebelum kejadian ini, Kaisar Raymond berkata kasar. Dan sekarang sudah menjadi kenyataan.

__ADS_1


Kaisar Raymond berdiri, ia menghampiri pelayan Elma yang menatap lurus ke depan dengan air mata yang membanjirinya dan bibir yang gemetar. "Pelayan Elma, kamu tahu kan. Kenapa kamu tidak memberitahu diriku, hah?!" Teriak Kaisar Raymond.


"Buat apa? Jangan salahkan Permaisuri. Dia melakukan semua ini menuruti perkataan Baginda."


Ucapan pelayan Elma bagaikan batu yang menimpa jantung dan hatinya. Ia mengingat semuanya, perlakuannya. Sebelum kejadian ini dia juga berkata kasar.


"Saya rasa, doa Baginda sudah tercapai."


"Tutup mulut mu, kamu hanya pelayan." Bentak Selir Lusia.


Pelayan Elma tak takut sedikit pun. Walaupun statusnya hanyalah pelayan. "Apa Selir Lusia? Semua berjalan apa yang Baginda harapkan? Semuanya lancar dan sekarang, saya rasa Permaisuri sudah lunas memberikan kebahagiaan bagi Kekaisaran ini." Ucapnya semakin pelan. Tubuhnya juga bergetar menangis.


Kaisar Raymond seperti orang bodoh. Ia berlari ke ranjang Permaisuri Shopia. "Maafkan aku, maafkan aku." Isaknya seraya mengguncang tubuh Permaisuri Shopia.


"Jangan begini Baginda, biarkan Permaisuri tenang." Selir Lusia berusaha memisahkan tubuh Kaisar Raymond.

__ADS_1


"Kalian bersihkan tubuh Permaisuri, aku akan membawa Baginda." Ucap Selir Lusia seraya memapah tubuh Kaisar Raymond yang lemas.


__ADS_2