Hurt! Empress Shopia

Hurt! Empress Shopia
eps. 67 : Kegilaan Kaisar Raymond


__ADS_3

Selir Lusia tersenyum, akhirnya ia bebas dan kembali ke kamarnya. Ia memandang sekeliling kamarnya, aroma Kaisar Xavier memenuhi ruangannya. Ia tidak sabar ingin berjumpa dengan Kaisar Xavier.


"Dimana Baginda? Apa dia akan datang mengunjungi ku?" Tanya Selir Lusia antusias. "O iya, cepat bantu aku bertemu dengan Baginda." Sambungnya lagi, ia melenggang pergi menuju kamar mandi. Sedangkan pelayan setianya hanya menunduk. Ia tidak akan mengatakannya, jika yang membebaskan Selir Lusia bukan keinginan Kaisar Xavier, tapi permintaan Duke Alerix.


"Ikut aku, bantu Selir Lusia bersiap-siap."


Kedua pelayan itu pun mengikuti pelayan setia Selir Lusia. Tidak ada suara, Selir Lusia hanya menikmati gosokan dan aroma bunga mawar di bathubnya. Seusai membersihkan diri, Selir Lusia di rias. Dia menggunakan gaun berwarna hijau dengan rambut tergerai.


"Sayang, kita akan bertemu dengan Baginda. Kamu pasti merindukan ayah, kan." Celotehnya sembari mengelus perutnya.


"Selir, ada Duke Alerix yang ingin bertemu dengan Selir Lusia." Tutur sang pelayan yang menunduk.


"Biarkan dia masuk." Selir Lusia berdiri, ia menjauhi meja rias itu karena telah usai mempercantik tubuhnya. "Ayah." Sambutnya ketika melihat pria yang tak lain adalah Duke Alerix dengan senyum merekah di wajahnya.


"Putri ku." Duke Alerix memeluk Selir Lusia. Kemudian mencium keningnya. "Bagaimana kabar mu? Maaf ayah terlambat mengetahuinya sampai kamu harus terkurung di sana. Ayah tadi sudah berbicara dengan Baginda, beruntungnya Baginda melepaskan diri mu."


Sejenak Selir Lusia terdiam, mencerna perkataan Duke Alerix. "Ayah yang berbicara dengan Baginda," ujar Selir Lusia meyakinkan pendengarannya.

__ADS_1


"Iya, Nak. Ayah yang meminta Baginda melepaskan mu. Dia tega pada dirimu, dalam keadaan hamil pun Baginda tega menghukum mu. Kamu harus bersabar, Nak. Baginda belum melupakan Permaisuri Shopia. Em, ada satu hal yang ingin ayah tanyakan. Apa benar kamu pura-pura jatuh untuk menjebak Permaisuri?" tanya Duke Alerix. Sepenuhnya ia percaya pada putrinya, jika perkataan Kaisar Raymond tidak lah benar. Putrinya tidak akan berbuat nekad.


Selir Lusia tersenyum hambar, dadanya seperti di tusuk oleh belati. Kaisar Raymond hanya mendengarkan permohonan ayahnya. Bukan dirinya, sejauh itukah ketidak pedulian Kaisar Raymond padanya.


"Aku pikir Baginda akan peduli jika aku hamil, Ayah. Benar, aku menjebak Permaisuri. Aku melakukannya karena keinginan Permaisuri, tapi dia tidak tahu rencana ku ayah."


Duke Alerix tertegun, bibirnya mendadak kaku. Putrinya melakukan hal yang tidak senonoh. "Kenapa kamu bisa melakukan ini, Lusia?" Duke Alerix mengusap wajahnya secara kasar. Putrinya begitu bodoh, bahkan sampai melakukan sesuatu yang membuatnya di benci Kaisar Raymond. "Hah," Desah Duke Alerix, kenapa kamu bisa melakukannya? Kamu tahu, Baginda mencintai Permaisuri. Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada pesona Permaisuri Shopia. Selain cantik, dia lembut dan berwibawa. Semua orang tahu itu, mungkin Baginda dulu tidak menyadari, tapi sekarang, dia menyadarinya."


Selir Lusia menunduk dengan bahu bergetar, ia menangis menyesali perbuatannya. Seandainya ia berubah, seandainya Permaisuri Shopia kembali. Apakah Kaisar Raymond akan mencintainya? Ia takut, ia takut menghadapi kenyataannya. "Aku takut Ayah, aku takut suatu saat nanti Baginda tidak mencintai ku lagi."


"Bagi seorang Kaisar tidak ada alasan untuk memiliki banyak istri Selir Lusia. Jangan serakah, Permaisuri berjasa, termasuk pada ku. Dia pernah menolong ku, nyawa ku hampir merenggang jika bukan karena Permaisuri. Nasi sudah jadi bubur, berjuanglah. Ayah yakin, Baginda akan mencintai mu. Apalagi sekarang ada penerus di dalam perut mu." Duke Alerix memeluk putrinya seraya mengelus punggungnya. "Jaga dirimu baik-baik."


Detik telah berganti menit. Seharian ini, Selir Lusia berdiam diri di kamarnya. Ia berniat, malam ini akan menemui Kaisar Raymond. Meminta maaf padanya. Semoga dengan permintaan maaf ini. Hubungan keduanya tak lagi berjauhan.


"Semuanya sudah siap Selir." Ucap pelayan setia yang berdiri di samping Selir Lusia yang telah selesai meriasnya.


Selir Lusia menarik nafasnya dalam-dalam, menghilangkan kegugupannya itu. "Ayo!" Ajak Selir Lusia melangkah ke ruangan kerja Kaisar Raymond.

__ADS_1


"Selir." Sang Kesatria yang berada di depan pintu ruang kerja Kaisar Raymond menunduk hormat.


"Apa Baginda ada?" Tanya Selir Lusia.


Sang Kesatria gelisah, Kaisar Raymond berada di dalam yang tampak kacau. Sudah dua puluh botol junjungannya menghabiskan, mulutnya selalu menyebut nama Permaisuri Shopia.


Selir Lusia merasa ragu, ia ingin masuk, tapi melihat kegelisahan Kesatria itu. Ia berniat mengurungkan niat baiknya.


"Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja."


Selir Lusia membuka pintu kokoh itu, perlahan kakinya masuk ke dalam. Matanya menajam, melihat beberapa botol Wine dan Kaisar Raymond yang tampak kacau. Laki-laki itu meneguk cairan berwarna merah itu langsung dari botolnya.


"Baginda." Selir Lusia berlari, ia menahan tangan Kaisar Raymond yang hendak meminum Wine. Mata Kaisar Raymond melirik sebuah tangan yang menahannya. Giginya gemetar saat tahu siapa yang menahannya.


"Lepaskan !" Teriak Kaisar Raymond mengguncang lengannya, namun genggaman itu semakin erat. "Lepaskan !" Bentaknya lagi seraya berdiri, hingga botol Wine itu terlempar beberapa meter ke lantai. "Untuk apa kamu datang kesini? Aku tidak ingin di ganggu oleh siapa pun. Lancang sekali Kesatria bodoh itu mengijinkan siapa pun masuk."


"Aku mohon berhenti Baginda, demi aku demi anak kita. Kalau Baginda ingin mencari Permaisuri, baik aku mendukung Baginda, tapi aku mohon jangan seperti ini."

__ADS_1


Kaisar Raymond tertawa menggelagar, air matanya langsung turun tanpa di minta. "Aku sudah mencarinya, tapi aku tidak menemukannya. Aku salah, aku salah, kenapa aku baru sadar, kalau aku mencintainya, aku membutuhkannya." Kaisar Raymond membuang botol-botol yang telah habis itu. Ia duduk dengan kasar di kursinya, meremas rambutnya. "Aku bodoh, aku bodoh."


__ADS_2