
"Bagus,, tidak minta ijin dan malah bersenang-senang di luar istana." Ucapnya dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Maaf Baginda,"
"Permaisuri Shopia, dimana tanggung jawab mu sebagai seorang Permaisuri." Bentak Kaisar Raymond. Dia tidak peduli dengan tatapan para penjaga dan pelayan. Amarahnya sudah meledak dan tidak bisa di kendalikan lagi.
"Apa seorang Permaisuri salah jika mengunjungi ayahnya?" Tanya Pangeran Hilton yang tidak terima dengan bentakan Kaisar Raymond.
"Salah, sangat salah. Dia seorang Permaisuri, bukan seorang nona dari kediaman Duke Luke. Seharusnya dia tahu batasannya dan bijaksana."
Permaisuri Shopia tersenyum tipis, perkataan Kaisar Raymond seolah membuktikan jika dirinya tidak pantas di sebut seorang Permaisuri.
"Kamu, Pangeran Hilton. Jangan ikut campur urusan ku."
"Aku bisa saja memasukkan mu kedalam penjara." Ancam Kaisar Raymond.
"Aku tidak takut," ujar Pangeran Hilton.
"Sudah, cukup. Ini salah ku Baginda. Tadi aku terburu-buru ke kediaman Duke." Sanggah Permaisuri Shopia. Bukan saatnya Pangeran Hilton melawan. Dia memang Pangeran, tapi kekusaannya sesungguhnya ada di tangan Kaisar Raymond. Begitupun dirinya, tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun statusnya telah menyandang status seorang Permaisuri.
"Masih membelanya Permaisuri Shopia." Tegas Kaisar Raymond. Ia langsung menarik lengan Permaisuri Shopia dengan sedikit menyeretnya menuju kamarnya.
"Baginda, lepaskan tangan Permaisuri." Teriak Pangeran Hilton.
Kaisar Raymond menghentikan langkahnya. "Jangan ikut campur, pengawal bawa dia ke tahanan. Tidak ada yang boleh membebaskan dia." Teriak Kaisar Raymond.
__ADS_1
Para pengawal sekaligus kesatria Kaisar Raymond langsung meringkus kedua tangan Pangeran Hilton.
"Lepaskan!" Teriak Pangeran Hilton memberontak.
"Jika kamu melawan, aku akan menghukum Permaisuri Shopia."
Seketika Pangeran Hilton menghentikan pemberontakannya. Padahal dia sudah bersiap menendang kesatria dan salah satu pengawal yang memegang kedua tangannya.
"Lepaskan Pangeran, ini bukan salahnya."
Kaisar Raymond semakin terbakar, ia tidak memperdulikan permintaan laknat Permaisuri Shopia. Baginya, kehadiran Pangeran Hilton salah yang sudah datang ke dalam kehidupannya dan juga ibunya.
Permaisuri Shopia langsung di hempaskan secara kasar oleh Kaisar Raymond. Hingga tubuhnya ambruk di atas kasurnya.
"Beraninya, kamu berbuat seloroh dengan Pangeran Hilton." Pekiknya tajam.
"Dia mencintai mu, apa Permaisuri tidak bisa melihatnya? Apa kamu buta, hah?"
"Walaupun Pangeran mencintai ku, tapi ... " Permaisuri Shopia bungkam, sedikit demi sedikit ia merasa janggal dengan laki-laki di depannya. Bukankah selama ini dia membenci Pangeran Hilton. Apa rencananya sedari dulu memisahkan dirinya dengan Pangeran Hilton?
"Apa Baginda berencana memisahkan diriku dengan Pangeran Hilton?" Tanya Permaisuri Shopia. Ia cukup terkejut dengan kemarahan Kaisar Raymond. Jika Pangeran Hilton mencintainya. Ia hanya menganggap Pangeran Hilton sebatas sahabat saja, tidak lebih.
Kaisar Raymond tertawa, suaranya memenuhi kamar Permaisuri Shopia. "Benar, aku ingin memisahkan mu dengan Pangeran Hilton. Dia sudah membuat ibu ku dan aku menderita. Dia harus merasakan apa yang aku rasakan."
"Dia tidak tahu apa-apa Baginda, dia juga korban."
__ADS_1
"Ck, Permaisuri mencintainya. Baiklah, akan aku perlihatkan bagaimana cinta yang sebenarnya." Kaisar Raymond langsung mendorong kasar tubuh Permaisuri Shopia. Lalu mengikat kedua tangannya ke atas kepalanya dengan satu cekalan dari Kaisar Raymond. "Lepas, aku bukan wa ..."
Kaisar Raymond mencium secara kasar dan rakus di bibir Permaisuri Shopia. Ia merobek gaun berwarna kuning itu secara kasar. Hingga kedua belahan dadanya terlihat.
"Tubuh mu sangat menggiurkan Permaisuri."
"Lepaskan aku," teriak Permaisuri Shopia dengan memberontak. Tubuhnya terhimpit oleh tubuh Kaisar Raymond dan tidak bisa di lepaskan.
Permaisuri Shopia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, membuat Kaisar Raymond tidak bisa menciumnya.
sret
Bau aneh berwarna ungu itu pun langsung memenuhi ruangan Permaisuri Shopia, membuat keduanya langsung pingsan.
Dari balik asap berwarna ungu itu muncullah kedua laki-laki. Sang kesatria membawa tubuh Kaisar Raymond. Kemudian membaringkannya ke lantai. Sedangkan laki-laki dengan manik tajamnya merangkuh tubuh Permaisuri Shopia. "Sialan, beraninya dia memperlakukan Permaisuri ku secara kasar. Aku akan membunuhnya."
"Baginda," seru sang Kesatria menahan aura tiraninya. "Jangan seperti ini, jika Baginda membunuhnya. Baginda akan di cap sebagai seorang pembunuh dan Permaisuri Shopia akan membenci Baginda. Bukankah rencana awalnya Baginda ingin mendekati Permaisuri Shopia secara halus."
"Akh, sial! Seandainya kamu tidak mengingatkan diri ku. Sudah ku pastikan akan memotong tubuhnya."
"Untuk masalah itu, Baginda tidak perlu mengotori tubuh Baginda." Ucapnya.
"Ini juga kelalaian mu, pastikan dia sadar besok hari. Pindahkan dia ke sofa, aku tidak ingin melihat wajah jeleknya." Ucap Kaisar Xavier merasa jengkel.
Sang Kesatria memindahkan tubuh Kaisar Raymond ke sofa. Lalu menghadap keluar jendela. Sedangkan Kaisar Xavier menutup semua kelambu ranjang Permaisuri Shopia. Ia memindahkan tubuhnya ke posisi yang nyaman dan menutupi tubuhnya sampai ke dadanya. "Maafkan aku, aku datang terlambat. Tidak ada lain kali." Ucapnya seraya mencium kening Permaisuri Shopia. Kemudian memeluk tubuhnya.
__ADS_1
Kaisar Xavier merogoh sakunya, ia mengambil sebotol cairan kuning. Kemudian mendekatkan ke arah hidung Permaisuri Shopia. Semenit kemudian terdengar lenguhan orang sadar. Bulu lentik itu pun mulai bergerak dan mata indahnya langsung menangkap sosok seseorang.