Hurt! Empress Shopia

Hurt! Empress Shopia
eps. 40 : Tragedi


__ADS_3

Permaisuri Shopia memegang dadanya. Dia menghapus butir-butir air yang siap membasahi pipinya. Tangannya mengelus perutnya yang masih rata. "Baiklah, ini permintaan mu, Baginda."


Permaisuri Shopia melangkah ke balkom. Ia tak jadi untuk keluar dari kamarnya. Nanti malam adalah hari di mana dirinya akan menerima kenyataannya.


.


.


.


Sedangkan di salah satu kamar pelayan. Seorang wanita tengah menatap smirik botol cair yang di peganganya. Nanti malam akan ada kejadian yang paling menakjubkan, di mana ia akan melihat Permaisuri Shopia meregang nyawa.


"Permaisuri Shopia, maaf aku harus melakukan ini demi tuan ku. Salah sendiri, kenapa kamu keluarga dari Kaisar Metteo," ujarnya seraya meremas botol yang berisi cairan berwarna biru itu. Ia pun menaruh botol itu di saku pakaiannya dan siap-siap berperan sebagai seorang pelayan. Susah-susah dia memasuki istana Kekaisaran Raymond.


Matahari telah terbenam, awan kemerahan mulai terlihat. Burung-burung berhamburan di atas langit untuk siap-siap pulang. Di aula istana pun sudah di tatap rapi, berbagai macam hidangan telah tersajikan, mulai dari makanan, buah dan berbagai macam jus buah serta Wine yang berkualitas.


Kaisar Raymond sangat menantikan malam menggembirakan ini. Senyuman itu tak pernah lepas dari kedua sudut bibirnya.


"Sayang, kamu sangat cantik," ujarnya merangkul kedua pundak Selir Lusia yang menatap pantulan wajahnya dan juga pantulan wajah Kaisar Raymond."


"Milik siapa lagi, jika bukan milik Baginda. Lusia siapa lagi jika bukan Lusia dari Baginda." Selir Lusia terkekeh pelan. Ia berdiri, lalu membalikkan tubuhnya. "Aku mencintai Baginda, terima kasih atas semuanya."

__ADS_1


Kaisar Raymond mengecup sekilas bibir merah itu. "Aku juga mencintai mu, aku akan menunggu mu di aula dan sekarang aku harus menjemput Permaisuri."


Kaisar Raymond mencium kening Selir Lusia dan berlalu pergi. Langkahnya pun berhenti di depan Permaisuri Shopia. Ia memilih menunggu di luar tanpa memasuki kamar Permaisurinya.


Pintu kamar Permaisuri Shopia terbuka. Terlihat seorang wanita memakai pakaian berwarna merah dengan kerah leher yang menutupi bagian belakang lehernya. Hidungnya mancung, bulu matanya yang lebat dan lentik menambah aura kecantikannya. Serta wajah berwibawa nya membuat siapa saja tak berhenti mengedipkan matanya termasuk Kaisar Raymond.


"Baginda," ujar pelayan Elma yang langsung menyadarkan Kaisar Raymond.


"Ehem, ayo." Mata Kaisar Raymond menunjukkan pada lengannya agar Permaisuri Shopia menggandeng lengannya. Tanpa berbasi-basi Permaisuri Shopia menggandeng lengan Kaisar Raymond. Keduanya pun berjalan beriringan menuju aula istana.


Suara di aula menandakan kedatangannya membuat para bangsawan menghentikan aktifitasnya yang berbincang-bincang. Para bangsawan memberikan hormat saat keduanya berjalan di atas karpet merah menuju singgasanahnya masing-masing. Bebrrap menit kemudian, suara lantang itu mengatakan kedatangan Selir Lusia yang juga tampil tak kalah memukau dari Permaisuri Shopia.


Acara demi acara telah berlanjut. Mulai dari pengucapan selamat ulang tahun dan menerima kado dari para bangsawan. Hingga sampai pada titik puncaknya, yaitu berdansa dengan masing-masing pasangan.


Kaisar Raymond dan Permaisuri Shopia lebih dulu berdansa. Selama berdansa, Permaisuri Shopia tak melihat wajah Kaisar Raymond. Ia sebagai seorang Permaisuri hanya bisa menerima keadaanya yang mengharuskan berdansa dengan Kaisar Raymond.


Sedangkan Kaisar Raymond malah memperhatikan wajah Permaisuri Shopia tanpa berkedip, wanita yang menemaninya beberapa bulan ini sangat tampil memukau bahkan menjadi sinar di antara wanita di dalam pesta.


Ia baru menyadari, Permaisuri Shopia sangatlah cantik. Bahkan jantungnya tak menentu. Permaisuri Shopia memutar tubuhnya, dengan sigap Kaisar Raymond memeluk pinggangnya. Wajahnya mendekat, hingga hidung itu berjarak beberapa meter lagi akan bersentuhan.


Permaisuri Shopia berusaha meredam amarahnya. Ia seperti seorang istri yang hanya di ambil pentingnya saja.

__ADS_1


"Aku lelah, Baginda." Ucap Permaisuri Shopia menghentikan dansanya saat hidung Kaisar Raymond akan menyentuhnya.


Kaisar Raymond melirik Selir Lusia yang berwajah senang. Namun tidak dengan hatinya yang terbakar cemburu.


"Baginda," ujar Selir Lusia. Kaisar Raymond menyambut kedatangan Selir Lusia lalu berdansa. Wanita bangsawan pun diam-diam mencibir di balik kipasnya. Dan ada yang mengaguminya keharmonisan rumah tangga Kaisar Raymond. Selama Selir Lusia memasuki istana, tidak ada rumor yang mengatakan keduanya bertengkar atau saling mengibarkan bendera peperangan untuk mengambil kasih sayang dari Kaisar Raymond.


Permaisuri Shopia mengepalkan kedua tangannya. Lalu dari arah samping seorang pelayan membawa sebuah Wine dan Jus jeruk. "Silahkan di minum Permaisuri,"


Tanpa ada rasa curiga Permaisuri Shopia mengambil jus jeruk di atas nampan berwarna kuning itu. Kemudian langsung meneguknya, sang pelayan itu tersenyum dan langsung menghilang dari hadapan Permaisuri Shopia.


prank


Semua mata orang di aula itu menatap ke arah gelas yang di jatuhkan oleh Permaisuri Shopia. Termasuk Kaisar Raymond dan Selir Lusia yang menghentikan dansanya.


Selir Lusia menatap heran, ia kesal pada Permaisuri Shopia yang mengganggu momennya saat dirinya hendak mencium bibir Kaisar Raymond.


Sakit, sekujur tubuhnya terasa sakit. Bahkan ia sangat sulit bernafas. Dalam sekejap darah segar keluar dari mulut Permaisuri Shopia membuat semua para bangsawan terkejut.


"Permaisuri !" Teriak Kaisar Raymond yang langsung berlari menyanggah tubuh Permaisuri Shopia yang hampir terjatuh.


"Sakit," Air matanya keluar dari sudut matanya. "Sakit, tolong, tolong Anak ku, Baginda." Matanya langsung tertutup membuat Kaisar Raymond meneriaki namanya.

__ADS_1


__ADS_2