
"Elma, aku lelah. Aku ingin keluar," ujar Permaisuri Shopia. Pelayan Elma mengerti, jika Permaisurinya keluar istana. Ia pun membantu Permaisuri Shopia bersiap-siap. Seperti biasa menggunakan gaun biasa dan jubah hitam yang menutupi tubuhnya dari ujung kaki sampai kepalanya.
"Mari Permaisuri, apa perlu kita meminta ijin pada Baginda?"
"Tidak perlu." Jawab Permaisuri datar. Ia yakin, Kaisar Raymond akan menghabiskan waktunya dengan Selir Lusia.
Sesampainya di Ibu Kota. Permaisuri Shopia turun dari kereta kuda. Ia memilih berjalan kaki, menikmati keramaian kota dan udara malam.
"Permaisuri, aku sudah membawa baju hangat .."
"Aku tidak ingin ada sesuatu barang yang menghangatkan tubuh ku." Potong Permaisuri Shopia. Karena dirinya membutuhkan hawa dingin untuk menghilangkan kepanasan hatinya.
Pelayan Elma mengaitkan kembali baju hangat itu ke lengan kanannya. Ia mengekori sang majikan dan sesekali matanya melirik ke arah toko. Tepat di depan restauran, Permaisuri Shopia menghentikan langkahnya. Kakinya melangkah menuju Restaurant itu. Namun siapa sangka, seseorang menabraknya dan tubuhnya berputar lalu terhuyung ke belakang. Dengan sigap lelaki bernetra biru itu meraih pinggang Permaisuri Shopia.
Desiran angin malam itu membuat surai hitam milik Permaisuri Shopia melambai. Namun mata mereka masih saling beradu. Ada sebuah getaran di dadanya ketika melihat manik indah dari wajah di wanita di dekapannya. Tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan sekedar untuk bersentuhan saja dengan wanita lain ia merasa jijik. Namun tidak dengan wanita di hadapannya, ia begitu ingin mengelus pipinya.
__ADS_1
"Nyonya." Seru pelayan Elma yang merasa aneh dengan tatapan laki-laki di hadapannya. Tak bisa di pungkiri, wajah laki-laki itu sangat tampan. Tidak pernah ia melihat laki-laki itu di istana.
"Em, bisa kamu lepaskan saya." Tidak ada sahutan, Permaisuri Shopia mencoba menyadarkan lamunannya kembali. "Tuan bisakah melepaskan saya."
"Ah, iya maaf." Ucap laki-laki yang memakai baju khas kesatria biasa.
Permaisuri Shopia merapikan gaunnya yang tak berantakan. Ia mencoba menghilangkan kecanggungannya.
"Em, saya minta maaf tuan. Saya tidak menyadarinya." Mata Permaisuri Shopia menangkap telapak kanan tangannya berdarah.
Elma meraih saku bajunya. Kemudian menyerahkannya. Sapu tangan berwarna hijau itu pun kini berada di tangan Permaisuri Shopia. Tanpa ada rasa sungkan, Permaisuri Shopia melipat panjang sapu tangan itu lalu meraih tangan laki-laki yang tidak ia kenal. Dengan cekatan ia mengikat tangan terluka itu dengan sapu tangannya.
"Sudah, lain kali berhati-hatilah, Tuan." Ucapnya seraya tersenyum. Ia mengira laki-laki di depannya adalah prajurit istana yang sedang mengecek keadaan Ibu Kota.
"Ayo, Elma." Permaisuri Shopia melanjutkan langkahnya. Ia menaiki anak tangga menuju pintu kaca Restaurant itu. Sejenak dia menoleh ke belakang dan tersenyum.
__ADS_1
"Baginda." Sapa laki-laki di depannya seraya menyingkap penutup kepalanya. Laki-laki itu pun hendak meraih tangan junjungannya. Karena ia tahu junjungannya tidak bisa di sentuh oleh siapapun. "Maafkan saya Baginda, saya lalai. Saya siap di hukum Baginda."
"Aku tidak perlu menghukum mu, karena kamu melakukan hal yang benar." Seringai iblisnya mulai keluar. Dari dulu, wanita memang menggilainya, tapi banyak sekali wanita atau bangsawan yang takut padanya.
Laki-laki yang bertugas menjadi bawahannya mengerutkan dahinya semakin dalam.
Apa maksud Baginda? Batinnya
Dia tidak berani bertanya, karena masih sayang padanya nyawanya itu.
"Aku ingin kamu menyelidiki wanita yang tadi. Aku ingin menerima laporannya malam ini."
"Baik Tuan."
Laki-laki berwajah tampan. Namun bak iblis itu tersenyum. Tidak sia-sia dia datang dengan temannya, Pangeran Hilto. Jika harus mendapatkan seseorang yang mampu membuat jantungnya berdetak. Melihat sinar matanya, tersimpan sebuah kesedihan, cinta dan kelembutan. Membuatnya sangat tertarik ingin memilikinya.
__ADS_1