
Permaisuri Shopia menatap kecewa laki-laki di depannya. "Aku memang tidak lebih baik dari pada Selir Lusia. Aku paham, Baginda. Aku harap, secepatnya kalian memiliki anak."
Permaisuri Shopia mengepalkan tangannya."Selir Lusia jangan memperdulikan hubungan ku dengan Baginda. Apa yang Selir Lusia tidak ketahui jangan sampai mengetahuinya. Hubungan ini tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan mu."
"Jaga ucapan mu Permaisuri. Dia melakukan ini untuk hubungan kita." Sarkas Kaisar Raymond. Ia tidak terima Permaisuri Shopia berkata dingin.
Dia sudah tahu akhirnya akan seperti ini. Ternyata cinta memang membutakan seseorang. "Dan apa yang aku lakukan padanya Baginda. Pengorbanan, apa aku pernah memarahinya atau memusuhinya setelah dia datang ke istana ini. Aku bahkan diam, saat bangsawan melirik dan membicarakan ku. Semua orang tahu, aku tidak pernah di cintai oleh Baginda. Ya, itulah yang sering aku dengar. Aku sudah merasakan apa yang ibu Permaisuri rasakan dulu."
Permaisuri Shopia langsung pergi dari kamarnya. Sesak, itulah yang ia rasakan. Ingin sekali dia menangis menumpahkan semuanya. Tapi ia harus menahan, ayahnya selalu menasehatinya untuk kuat dan tegar.
Permaisuri Shopia terus berjalan. Hingga langkahnya sampai di sebuah rumah kaca yang letaknya jauh. Rumah kaca di istana ada empat dengan berjauhan dan letaknya mengelilingi istana. Duduk di kursi putih, menghirup dalam-dalam udara itu. Air matanya selalu meminta untuk keluar. Namun ia harus menahannya. Ia tidak mau air matanya keluar secara percuma-cuma.
Hingga bintang dan bulan telah menyapanya. Permaisuri Shopia begitu enggan beranjak dari kursinya. Dengan pandangan kosong, ia tak berniat sama sekali untuk kembali ke istana. Lelah, ya inilah hidupnya sekarang. Dia lelah dengan Kaisar Raymond dan Selir Lusia. Dia lelah untuk bertemu ataupun bertatap muka. Mungkin sekarang ia harus menghindar, dengan begitu, hidupnya akan aman.
"Elma, aku tidak butuh pakaian hangat ini." Ucapnya tanpa menoleh. "Ambilah, hati ku butuh kedinginan."
"Tidak baik udara malam untuk wanita."
__ADS_1
Permaisuri Shopia merasa janggal. Suara pelayan Elma berubah berat, serak dan seperti suara laki-laki. Ia pun langsung memutar kepalanya. "Kamu,"
Laki-laki itu langsung menarik tangan Permaisuri Shopia. Menjatuhkan ke dalam pelukannya. Ia tahu, Permaisurinya tidak baik-baik saja. Sedangkan Permaisuri Shopia berusaha mendorong tubuhnya. Ia takut, ada orang lain yang akan melihatnya dan akan menimbulkan kesalahpahaman.
"Menangislah, aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Aku tahu kamu merasakan kesakitan. Menangislah, keluarkan semua beban mu."
Laki-laki itu mengusap punggung Permaisuri Shopia. Lalu menangis begitu kencang dalam pelukannya. Ia menumpahkan semua rasa sakit lewat dari air matanya.
Setelah cukup lama menangis. Permaisuri Shopia mendongak. Ia tidak tahu siapa laki-laki ini, tapi ia merasakan kenyamanan dalam dekapannya.
"Aku tahu aku tampan." Laki-laki itu terkekeh. Membuat Permaisuri Shopia cemberut. Ia akui, laki-laki di depannya memang lebih tampan.
"Tidak, ayah ku berkata, aku tidak boleh keluar dari istana ini. Dia menasehati ku untuk tetap kuat dan bertahan."
deg
Seketika sekelibat bayangan Kaisar Metteo di depannya. Ia ingat, laki-laki itu memohon agar tidak menyentuh putrinya jika dia punya salah. Ia baru tahu, Permaisuri Shopia adalah putrinya. Demi keselamatannya pada saudaranya yang belum di ketahui dimana keberadaannya. Ia menjadikan Permaisuri Shopia anak dari Duke Luke.
__ADS_1
"Lain kali jangan menangis, tapi kalau tidak bisa menahannya menangislah dalam pelukan ku."
Permaisuri Shopia mendorong tubuh Kaisar Xavier. Bukannya terdorong tapi malah dirinya yang terdorong ke belakang. Kekuatan ototnya melebih Kaisar Raymond.
"Panggil aku Xavi, kedua orang tua ku memanggilku nama itu. Jadi aku ingin kamu memanggilku seperti orang tua ku. Karena kamu berarti untuk ku."
Kedua pipi Permaisuri Shopia langsung memerah. Degupan di dadanya berdetak lebih cepat. Jujur, baru kali ini dirinya di goda. Seumur hidupnya, ia tidak pernah di goda oleh siapapun, bahkan Kaisar Raymond.
"Permaisuri."
Permaisuri Shopia menoleh, ia mendengarkan suara pelayannya. "Cepat, pergilah. Jika kamu ketahuan. Kamu bisa di hukum."
Kaisar Xavier tersenyum, ia menarik pinggang Permaisuri Shopia, menatap manik indahnya itu. "Apa kamu mengkhawatirkan diriku?"
"Kamu,"
"Permaisuri."
__ADS_1
Melihat ketakutan di wajah wanitanya. Ia langsung mencium bibir Permaisuri Shopia dan langsung menghilang. Sedangkan yang di cium malah membeku bak patung es.