
Selir Lusia meraih tangan yang mengepal itu. Namun mulai kendur, Kaisar Raymond berusaha bersikap biasa saja. Tetapi hatinya meringis mengingat Permaisurinya. Ingin sekali, ia mengejar Permaisurinya dan menanyakannya.
"Terima kasih Baginda."
Kaisar Raymond tersenyum, ia mengelus istrinya dengan sejuta kelembutan. Pikirannya di penuhi wanita di depannya, tetapi hatinya di penuhi oleh Permaisuri. Hal apa yang membuat Permaisurinya begitu enggan padanya?
"Baginda terima kasih banyak karena kebaikan Baginda dan juga Permaisuri." Sekali lagi bibir itu berucap dengan bibir bergetar. Ia begitu sangat berterima kasih pada sosok kedua penguasa itu.
"Selir Lusia, temanilah ayah mu. Luangkan waktu kalian." Ucap Kaisar Raymond. Sementara dirinya akan menemui Permaisurinya.
"Baik, Baginda. Kami permisi."
Kedua orang yang memiliki hubungan darah itu pun keluar dengan bergandengan tangan. Kaisar Raymond menyusul langkah kedua setelah sampai di ambang pintu. Sejenak dia menoleh ke arah keduanya. Namun kembali lagi melanjutkan perjalanannya.
Langkahnya terburu-buru, di wajahnya tersimpan kekhawatiran. Ia akan mendesak Permaisurinya agar jujur padanya. Tangannya mendorong pintu bercat putih itu. Dia memasuki kamar itu seraya melihat pelayan Elma yang sedang membantu menaikkan selimutnya sampai ke dada istrinya. Wanita itu terbaring lemah, baru tadi ia melihat wanita itu tersenyum dan sekarang harus melihat dirinya terbaring.
__ADS_1
"Apa tadi Permaisuri memakan sesuatu?"
Nada tegas itu membuat bulu kuduk pelayan Elma seketika terbangun. "Tidak Baginda, Permaisuri hanya sarapan roti."
Kaisar Raymond duduk di tepi ranjang Permaisuri Shopia. Hatinya sakit melihat wanita itu terbaring lemah. "Pelayan Elma, jika Permaisuri tidak enak badan. Kamu harus mengatakannya pada ku atau kamu harus memanggil dokter istana." Nada suaranya sangat lirih. Seperti seorang yang tak sanggup lagi berbicara.
"Permaisuri selalu mengatakan Baginda. Jika terjadi sesuatu padanya entah apa pun. Permaisuri tidak memperbolehkan saya untuk memberitahu Baginda. Permaisuri tidak ingin mengganggu waktu Baginda."
"Perkataan konyol apa itu? Aku suaminya, kenapa harus mengatakan hal seperti itu? Jika pun aku bersama dengan Selir Lusia, kamu sebagai pelayannya harus wajib mengatakannya."
Bagaimana jika aku mengatakan Permaisuri banyak pikiran setelah mendengarkan percakapan Baginda geram pelayan Elma. Namun ia tahan agar tidak membuka suaranya.
Kaisar Raymond mengelus pucuk kepala Permaisuri Shopia. Air matanya berkaca-kaca. "Permaisuri."
Permaisuri Shopia yang tidak tahan lagi dengan sandiwaranya. Akhirnya ia membuka matanya. Ia beringsut duduk, pelayan Elma yang berdiri dengan sigap menyandarkan bantalnya sebagai tumpuan punggung junjungannya. Namun Kaisar Raymond memberi kode, agar dirinya yang melakukannya.
__ADS_1
Permaisuri Shopia menyandarkan punggungnya ke bantal yang telah Kaisar Raymond siapkan. "Untuk apa Baginda datang kesini?" Wajahnya begitu dingin tak tersentuh, seolah Kaisar Raymond di anggap biasa saja. Laki-laki di hadapanyalah yang membuat dirinya harus berpura-pura sakit. Menghindari kebahagiaan tadi.
"Aku mengkhawatirkan mu Permaisuri." Ucapnya dengan lembut.
"Baginda tidak perlu mengkhawatirkan diriku."
Perkataanya bagaikan petir yang menyambar tubuh Kaisar Raymond. Laki-laki itu menegang. "Permaisuri, apa maksud mu? Aku suami mu."
"Jangan memberikan ku harapan yang tak pasti Baginda." Matanya melihat ke arah lain. Ia ingin marah dan berteriak.
Kaisar Raymond yang tak mengerti pun berdiri. Ia tidak tahu, apa yang di maksud oleh istrinya? Harapan palsu dan semua perubahan sikapnya. "Permaisuri jangan seperti ini, ada apa sebenarnya? Apa masalahnya?"
"Baginda ingin tahu," ujar Permaisuri Shopia dengan dingin. Ia diam sejenak mengumpulkan nyawanya. "Aku ingin Baginda menjauhi ku, anggap saja aku orang asing."
Kaisar Raymond menganga, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia tidak tahu, kenapa Permaisurinya sangat berubah padanya. Kaisar Raymond pun bergegas pergi, ia tidak ingin sakit hati mendengarkan lebih jauh perkataan Permaisurinya.
__ADS_1