Hurt! Empress Shopia

Hurt! Empress Shopia
eps. 58 : Pergi


__ADS_3

tap


tap


tap


Terdengar langkah kaki dari luar yang berlari tergesa-gesa. Laki-laki itu berlari menaiki tangga dan menerobos memasuki kamar Permaisuri Shopia.


Tanpa mengatur nafasnya lebih dulu. Laki-laki itu langsung mengungkapkan ke gundahan hatinya.


"Permaisuri Shopia kita harus pergi. Aku akan mengantarkan kalian sampai di perbatasan." Ucap Kaisar Xavier tanpa menjeda. Ia membalikkan tubuhnya, sejurus kemudian tangan Permaisuri Shopia menahan tangannya.


"Aku ikut dengan mu, kita akan melangsungkan pernikahan."


Seketika mata itu berbinar terang, jantungnya berdetak hebat, hatinya seakan di penuhi ribuan bunga yang baru bermekaran. "Terima kasih karena telah membuka hati mu, Shopia."


Tanpa melihat tempat yang masih ada kedua orang tua Permaisuri Shopia dan Duke Luke. Kaisar Xavier langsung memeluk tubuh yang duduk di tepi ranjang itu dengan sedikit membungkuk. "Benarkah, terima kasih." Kaisar Xavier memejamkan matanya. Kehangatan ini lah yang ia rasakan dalam tubuhnya, kenyamanan dan kebahagian.


Ehem

__ADS_1


Derheman Kaisar Metteo membuat Kaisar Xavier sadar. Ia menggaruk lehernya, mengubur dalam-dalam rasa malu di wajahnya.


"Maaf, ayah mengganggu. Tapi saat ini bukan waktunya kalian bersenang-senang. Yang terpenting, Shopia harus secepatnya pergi dari sini." Ucap Kaisar Metteo.


"Ayo." Kaisar Xavier menggenggam tangan Permaisuri Shopia. Keduanya berpamitan, berpelukan di iringi air mata.


"Ibu dan Ayah akan segera menyusul kalian."


Permaisuri Shopia menaiki kuda hitam milik Kaisar Xavier. Terpaksa dia harus menggunakan kuda, karena saat ini keadaannya tidak memungkinkan. Lebih cepat lebih baik pikirnya.


Kaisar Metteo memeluk erat pinggang Permaisuri Violeta saat kuda Kaisar Xavier melaju kencang, menebus angin. Baru tadi dia bertemu putrinya, baru tadi dia memeluknya. Sekarang harus berpisah lagi. Semoga tidak ada perpisahan lagi setelah ini.


"Baginda, Permaisuri." Sapa Duke Luke tersenyum dengan mata berair. "Mari masuk," ujarnya mempersilahkan adik dan adik iparnya.


"Kakak, maaf sudah merepotkan mu." Ucap Permaisuri Violeta.


"Itulah kewajiban kakak, menjaga adiknya sebaik mungkin. Ya, sudah. Kejarlah mereka. Sudah saatnya kalian bersama."


"Ikutlah dengan kami kak." Sanggah Kaisar Metteo. Dia akan memberikan jabatan yang setimpal karena sudah melindungi putri Kekaisaran Metteo dengan baik. Bahkan jasanya pun akan di sambut baik oleh rakyatnya. Jika rakyatnya tahu, Duke Luke berjasa besar.

__ADS_1


"Aku tidak bisa meninggalkan Kekaisaran ini. Aku memiliki tanggung jawab. Sudah, jangan khawatirkan aku. Aku akan sering mengunjungi kalian." Tolak Duke Luke dengan halus. Dia tidak bisa membiarkan pekerjaannya di tinggalkan. Karena Kekaisaran ini juga berjasa telah menampungnya. Dia ingat jasa ayah Kaisar Raymond yang menolongnya saat dirinya ada di jalan dalam keadaan terluka. Untungnya, dia berhasil lolos dari kejaran adik dari Kaisar Metteo.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa kakak. Hari ini kami akan kembali. Jika ada waktu luang, kami akan berkunjung ke sini."


"Kakak menyayangi mu, Violeta." ucap Duke Luke memeluk Permaisuri Violeta. Hatinya hancur kedua kalinya, tapi tidak sehancur saat putri yang ia pangku meninggalkannya. Ingin sekali dia ikut dengan putrinya, tapi mau berkata apa lagi. Jasa ayah Kaisar Raymond membekas di hatinya.


"Datanglah ke pesta pernikahan putri kita."


"Kakak akan usahakan," ujar Duke Luke tersenyum simpul.


Keduanya pun kembali berpelukan dan menangis. "Aku pergi kak," Permaisuri Violeta melepaskan pelukannya. Kemudian di ganti oleh Kaisar Metteo.


"Jaga adik ku," ujar Duke Luke.


Keduanya pun menghilang dengan menaiki kereta kuda sederhana dari Kekaisaran Metteo. Saat kereta kuda itu menghilang. Duke Luke kembali memasuki kediamannya. Langkah beratnya sampai di kamar putrinya, ia menelusuri setiap sudut kamar itu. Rasanya baru kemarin seorang anak kecil berlari menghampirinya, menyambut kepulangannya. "Shopia." Duke Luke menangis di tepi ranjang putrinya. Ia tidak bisa berpura-pura tegas saat hatinya telah rapuh. "Ayah merindukan mu, Nak."


Ketukan pintu dari luar membuat Duke Luke menghentikan tangisannya. "Masuklah."


Seorang pelayan pun memasuki ruangan itu dengan wajah menunduk. "Maaf Tuan mengganggu, di luar ada pengawal istana." Ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2