
"Ba-baginda."
Selir Lusia menelan ludahnya yang terasa berat di tenggorokannya. Ia merasa tenggorokannya sangat kering dan sempit. Setelah melihat suaminya naik pitam. "Mungkin Permaisuri lagi ada urusan, tapi tidak sengaja bertemu dengan Pangeran Hilton. Ya, se-seperti itu Baginda," ujarnya seraya menatap tajam pelayannya. Bisa-bisanya pelayannya berkata jujur dan membuat semuanya menjadi kacau.
"Apa? Apa kamu ingin membelanya? Dia sudah keterlaluan, tidak ijin pada ku dan malah keluar dengan Pangeran Hilton."
"Dia akan tahu akibatnya karena sudah bermain-main dengan ku." Ucapnya seraya mengepalkan kedua tangannya. Matanya tajam lurus kedepan.
"Baginda jangan seperti ini, Permaisuri mungkin ada urusan mendadak. Sehingga tidak meminta ijin pada Baginda. Mungkin saat itu hanya Pangeran Hilton yang ada," ujar Selir Lusia. Ia bersusah payah menenangkan kemarahan suaminya.
"Dia sudah tahu aku membenci Pangeran Hilton, tapi mengapa masih bersamanya? Oh, apa dia memiliki hubungan khusus?"
__ADS_1
Selir Lusia menekan dadanya, ingin sekali ia memaki laki-laki di depannya, jika bukan mengingat dia adalah suaminya. Sepicik itukah pikirannya, menuduh istrinya sendiri dengan saudara. Ia paham, Kaisar Raymond membenci Pangeran Hilton, tapi tidak seharusnya menuduhnya. Apa lagi yang ia dengar Pangeran Hilton menghilang entah kemana semenjak pernikahan suaminya dengan Permaisuri Shopia. Sama halnya dengan dirinya yang mencintai tapi melihat orang yang di cintainya bersama orang lain. Sukit, tapi ia bertahan hingga memutuskan ingin menjadi Selirnya. Asalkan bersama dengan suaminya. Ia akan menahan siksaan dari Permaisuri Shopia.
Tapi ternyata dugaannya salah, Permaisuri Shopia menerima dirinya. Namun sekarang, ia akan membuat Permaisuri Shopia merasakan kasih sayang suaminya. Ia tahu, betapa sakitnya seorang suami yang tidak mencintai istrinya. Kaisar Raymond telah menceritakan semuanya, ada rasa senang juga ada rasa sedih. Seandainya itu adalah orang lain, Permaisuri Shopia sudah pasti memilih pergi dan malah menyakitinya. Tapi wanita itu seolah diam tidak melihat dan mendengarkan. Betapa baik hatinya, beruntunglah Kaisar Raymond memiliki istri seperti Permaisuri Shopia. Dia tidak bisa membayangkan seandainya nanti kehilangan Permaisuri Shopia.
"Baginda, Permaisuri berteman dengan Pangeran Hilton. Baginda juga tidak bisa melarangnya." Ucap Selir Lusia. Apa yang di lakukan Permaisuri Shopia bukanlah kesalahan.
Kaisar Raymond memutar bola matanya. Kemudian menatap tajam. "Apa hak mu berbicara seperti itu? Selir Lusia, aku memang mencintai mu, tapi aku tidak mau memanjakan mu. Kamu harus tahu bagaimana layaknya seorang Permaisuri yang pantas mendampingi seorang Kaisar."
Rasanya sangat sakit, Kaisar Raymond memarahinya. Ia melihat kecemburuan yang membara di mata Kaisar Raymond. "Baginda, jangan mengekang Permaisuri. Maksudnya, Permaisuri juga butuh ... "
"Diam!!" Bentak Kaisar Raymond. Hatinya sangat cemburu, tapi Selir Lusia malah mendukung Permaisuri."
__ADS_1
Kaisar Raymond menyilangkan kedua tangannya. "Iya, Selir Lusia pasti ..." Kaisar Raymond menghentikan ucapannya melihat mata istrinya yang sudah berkaca-kaca.
"Maaf," ujar Kaisar Raymond langsung mendekap tubuh istrinya. Hatinya merasakan sakit melihat air mata Selir Lusia. Ia sudah berjanji akan membahagiakannya. "Tolong, mengertilah jangan memancing emosi ku."
"Aku juga meminta maaf pada Baginda." Selir Lusia menenggelamkan kepalanya di dada bidang Kaisar Raymond. Namun ia berjanji dalam hatinya akan membuat Kaisar Raymond bersama Permaisuri Shopia.
"Maaf, aku tidak bisa sarapan dengan mu. Aku masih ada urusan," ujar Kaisar Raymond seraya melepaskan pelukannya. Ia pun menghapus air mata Selir Lusia. "Habiskan waktu mu bersantai."
Kaisar Raymond melenggang pergi, ia akan menyuruh sang pengawal mengawasi Permaisuri Shopia dan Pangeran Hilton.
Sedangkan Selir Lusia, ia bingung harus apa? Pelan-pelan dia juga akan menasehati Permaisuri Shopia agar hubungan keduanya tidak merenggang lagi.
__ADS_1