Hurt! Empress Shopia

Hurt! Empress Shopia
eps. 42 : Racun


__ADS_3

"Baginda," Kesatria Luis menunduk hormat. "Saya sudah menyelidikinya Baginda. Kami sudah menghukum para pelayan, tapi ada salah satu pelayan yang merasa melihat wajah pelayan baru, Baginda."


"Bawa dia masuk," Perintahnya terkesan dingin. "Katakan pada ku."


Kemudian pelayan dengan wajah ketakutan itu pun menceritakan saat dia bertemu yang merasa asing dengan wajahnya. Ia pun menceritakan saat dirinya ingin menawarkan minum pada Permaisuri. Namun pelayan asing itu malah mencegahnya dan meminta dirinya untuk melayani Permaisuri.


"Argh !!!"


prank


Vas bunga di atas nakas itu langsung di tepis. Hingga berceceran di lantai. "Sialan, siapa dia yang ingin membunuh istri ku? Aku tidak akan mengampuninya."


"Baginda tenanglah." Seru Selir Lusia. Dia tidak pernah melihat sisi dari Kaisar Raymond yang lemah lembut.


"Aku akan menemui Permaisuri."


Selir Lusia mengekori Kaisar Raymond yang berlari. Sesampainya di kamar Permaisuri Shopia. Dia melihat Permaisuri Shopia masih terbaring.


Kaisar Raymond duduk di samping ranjang Permaisuri Shopia yang telah di siapkan oleh para pelayan yang berjaga.


Kaisar Raymond mencium tangan kanan Permaisuri Shopia. Ia terus menangis dan memintanya untuk sadar. Ucapan maaf selalu menggoroti hatinya.


"Permaisuri, Permaisuri. Maafkan aku, maafkan atas kelalaian ku. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak kita."


"Aku mohon, bangunlah. Jangan seperti ini," lirihnya semakin terisak.

__ADS_1


"Baginda, sebaiknya Baginda istirahat."


"Tidak!" Kaisar Raymond membentak saat Selir Lusia memegangi pundaknya. "Aku bilang tidak, aku ingin menjaga. Sekarang kamu keluar Selir Lusia. Dan kalian," Kaisar Raymond melihat para pelayan. "Keluar." Bentaknya.


Para pelayan berhambur keluar dari kamar Permaisuri Shopia. Sedangkan Selir Lusia, ia enggan meninggalkan Kaisar Raymond yang sedang di landa kesedihan. "Baginda."


"Keluar! Selir Lusia," ujar Kaisar Raymond dengan nada rendah tapi terkesan dingin.


"Aku ingin menemani Baginda di sini." Selir Lusia tetap tak mau pergi. Ia ingin menjadi orang pertama yang menemani Kaisar Raymond di saat dukanya.


"Permaisuri," seru seorang laki-laki. Dia melihat putrinya yang tak berdaya, hatinya terasa remuk. Matanya menajam pada laki-laki di samping putrinya. "Keinginan Baginda sudah tercapai, putri ku sudah usai melaksanakan tugasnya."


"Apa maksud mu Duke Luke?"


"Selesai, dia masih Permaisuri di Kekaisaran ini. Dan kamu Duke, jangan ikut campur urusan ku."


"Urusan putri ku, juga urusan saya Baginda. Apa lagi menyangkut kehidupannya."


Seketika rahang Kaisar Raymond mengeras, dia menarik kerah leher Duke Luke. "Kamu memang ayah mertua ku, tapi aku tidak ingin ada orang lain yang ikut campur dalam rumah tangga ku."


"Baginda, jangan seperti ini."


"Saat Baginda membawanya, apa Baginda tidak merasakan atau melihat betapa sakitnya?" Duke Luke tersenyum tipis. Air mata meluncur deras. "Semenjak kecil aku berusaha membuatnya bahagia dan setelah dewasa aku memberikannya pada orang lain bukan untuk di sakiti, tapi untuk di bahagiakan."


Kaisar Raymond hendak memukul pipi Duke Luke, namun tangannya langsung mengepal kemudian mendorong tubuh Duke Luke.

__ADS_1


"Baginda,"


"Keluar, Selir Lusia." Bentak Kaisar Raymond kembali ke tempat duduknya.


"Baiklah, jika ada apa-apa, Baginda bisa menemui ku." Selir Lusia mengecup kepala Kaisar Raymond. Ia berjalan dengan langkah berat, sampai di ambang pintu. Matanya kembali melihat Kaisar Raymond. Ia cemburu, sangat cemburu. Tapi ia sadar, Permaisuri Shopia sangat membutuhkan Kaisar Raymond. Seandainya, jika dirinya yang terbaring seperti itu. Apakah Kaisar Raymond seperti itu?


"Apa Baginda mencintai Permaisuri atau sebatas kasihan?"


Selir Lusia melanjutkan langkahnya, ia memikirkan kecemasan Kaisar Raymond. Entahlah, hatinya merasakan ketakutan, ia sangat takut kehilangan Kaisar Raymond. Tetapi ia yakin, Kaisar Raymond tidak akan melupakannya apalagi dia akan memiliki seorang anak.


Sedangkan di sisi lain.


Kaisar Xavier yang mendengarkan kabar dari kesatria bayangannya. Langsung membabi buta, bahkan tangan kanannya langsung mencekik sang kesatria kepercayaannya. "Apa yang kamu lakukan, hah? Kenapa bisa ada orang yang mencelakainya?"


"Ba-baginda,"


Dahinya berkeringat, tenggorokannya seakan terputus. "Ma-"


Baru saja ia berbicara, Kaisar Xavier mempererat cekikan ke lehernya. Kaisar memejamkan matanya. Kemudian melepaskan tangannya. Ia harus mengendalikan amarahnya.


"Maaf Baginda saya lalai menjaga Permaisuri."


"Seret orang itu sampai ke akar-akarnya,"


"Ba-baik, Baginda." Ucap Kesatria bayangan langsung bergegas pergi.

__ADS_1


__ADS_2