Hurt! Empress Shopia

Hurt! Empress Shopia
eps. 44 : Aku Minta Maaf


__ADS_3

Kaisar Raymond memegang pagar pengaman di balkom kamar Permaisuri Shopia. Seharian ini dia menangis meratapi Permaisurinya yang terbaring lemah. Dokter istana mengatakan, jika racunnya masih ada. Dan ia juga mendengarkan, sampai saat ini Kesatria Luis belum bisa menemukan dalang di balik keracunan Permaisuri Shopia.


"Baginda," ujar Selir Lusia yang sedang melihat suaminya mencari udara segar. Dia mendongak, menatap bulan purnama yang bersinar terang. "Permaisuri pasti bisa melewati semuanya, Baginda."


Dia cemburu, dia ingin berteriak. Namun ia sadar, Permaisuri Shopia juga istri sah dari Kaisar Raymond. Seharian ini Kaisar Raymond tidak memperdulikan kehadirannya.


"Istirahatlah, aku ingin sendiri."


Selir Lusia tersenyum masam, sejak tadi Kaisar Raymond hanya ingin sendiri dan sendiri. Tapi ia ingin ada untuknya di saat seperti ini.


"Tidak."


Teriakan seseorang membuat keduanya terkejut dan langsung menengok Permaisuri Shopia.


Benar saja, mereka melihat Permaisuri Shopia duduk dengan keringat di dahinya. Wajahnya yang pucat di iringi air mata. Bibirnya bergetar, matanya lurus ke depan. Tangan kanannya meremas perutnya.


"Permaisuri,"


Matanya menoleh, "Apa anak ku baik-baik saja?"

__ADS_1


Nyut


Rasa sakit kembali menghantam hatinya, bertambah pula rasa sakitnya. Bibirnya terasa kelu untuk di gerakkan.


Permaisuri Shopia yang mengerti keadaannya pun. Dia tertawa, ya, tertawa meratapi hidupnya. Belum cukup cintanya yang telah hilang, sekarang anaknya. "Baginda puas,"


Hatinya terlalu nyeri untuk cinta. Cintanya pada Kaisar Raymond membuatnya menerima semua perlakuannya. "Ya, Baginda pasti puas."


"Permaisuri," Kaisar Raymond memegang bahu Permaisuri Shopia.


"Jangan, menyentuh ku." Teriak Permaisuri Shopia. Dia begitu benci pada laki-laki di depannya. "Keinginan mu terwujud Baginda, ya keinginan mu. Seharusnya aku pergi saja dari istana ini. Semakin cepat semakin baik. Aku tidak akan mengalaminya." Permaisuri Shopia menutup matanya di sela isaknya.


"Permaisuri,"


Kaisar Raymond menggeleng, "Aku tidak akan menceraikan mu. Kita bisa memilikinya lagi dan juga anak Selir Lusia juga anak mu."


Miris sekali hidupnya, laki-laki di depannya mengatakan anak Selir Lusia juga anaknya. Ya, tapi itu hanya status bukan darah dagingnya sendiri. "Belum puas, Baginda menyuruh ku mengakui anak dari Selir Lusia. Dia memang anak ku dari status tapi bukan darah ku."


Selir Lusia menunduk, ia juga merasakan kesedihannya. "Permaisuri, kamu bisa menganggap anak ini juga anak mu. Aku paham bagaimana hati seorang ibu."

__ADS_1


"Aku tidak akan mengakui anak itu. Anak yang bukan anak ku sendiri."


"Permaisuri aku minta maaf."


Sudah cukup baginya bersabar dan menerima semua perlakuan Kaisar Raymond. "Kata maaf mu tidak bisa mengubah semuanya Baginda."


Permaisuri Shopia menunduk, dia menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya. "Pergi, aku ingin sendiri."


"Aku akan menemani mu,"


"Aku tidak perlu siapapun aku ingin sendiri."


Selir Lusia merasa kasihan pada Kaisar Raymond yang memohon. "Permaisuri, Bagindalah yang menjaga mu dua hari ini. Tolong perlakukan dia dengan baik."


Permaisuri Shopia menatap dingin ke arah Selir Lusia. "Apa Baginda berbuat baik bisa mengubahnya? Jadi maksud mu aku harus menerima takdir ku. Kamu tidak tahu, pertama di duakan, yang kedua di ceraikan dan yang ketiga seorang ayah yang tidak menginginkan anaknya. Katakan pada ku, apa yang harus aku lakukan? Jika kamu berada di sisi ku."


Selir Lusia menunduk, ia tak menjawab sedikit pun. Benar, dia memang datang setelah pergi. Ia memang egois, tapi ia juga menginginkan Kaisar Raymond. Mencoba melupakan, tapi kenyataannya tidak bisa. "Maaf Permaisuri, aku datang bukan merebut Baginda. Aku salah, aku salah."


"Merebut, kamu memang perebut, dulu orang itu berarti, tapi sekarang tidak. Tidak lagi,"

__ADS_1


"Permaisuri,"


"Aku ingin sendiri." Ucap Permaisuri Shopia dengan tegas dan langsung memalingkan wajahnya.


__ADS_2