
Langkah kuda itu semakin kencang, menembus angin yang semakin kencang akibat lajuan langkah kuda itu. Matanya tajam menatap lurus ke depan. Buliran air bening di sudut matanya itu terbawa angin, sampai ia tidak merasakan air mata yang membasahi kedua pipinya.
Kenapa harus Kaisar Raymond? Kenapa bukan dirinya yang ada pada saat itu? Begitu lemahkah dirinya sampai pujaan hatinya memilih orang lain.
Sreeet
Langkah kuda itu berhenti mendadak saat tali kekangnya di tarik ke belakang. Membuat kedua kaki kuda itu melonjor ke depan.
Penjelasan Kaisar Raymond begitu menusuk hati dan pikirannya. Dia saja seperti ini, lalu bagaimana dengan perasaan Kaisar Raymond? Orang yang sudah menyakiti dan sangat menyesal, apa laki-laki itu bisa menerima atau malah sebaliknya? Namun ia harus menjelaskan, menyakiti asalkan menghilangkan perasaan Kaisar Raymond.
Permaisuri Shopia sudah bahagia. Kini saatnya, kakak ku harus melupakan masa lalu.
Dengan hembusan nafasnya yang terasa berat. Ia kembali melajukan kuda itu.
Waktu telah berganti, dengan wajah kusut. Pangeran Hilton turun dari kudanya. Ia di sambut oleh salah satu kesatrianya. "Pangeran."
"Bagaimana keadaan Baginda?"
"Seperti biasa Pangeran." Jawabnya. Kenyataannya memang begitu, Kaisar Raymond tiap malam akan membuka sebuah lukisan di dinding salah satu ruang khusus untuk menyendiri.
Pangeran Hilton menggigit bibir bawahnya. Selama kehilangan Permaisuri Shopia. Kakaknya tiap malam menyendiri, menghabiskan waktunya di ruangan itu. Memandang lukisan dirinya dan Permaisuri Shopia. Ia semakin ragu untuk mengatakannya. Lalu bagaimana jika kakaknya tidak berubah selalu membayangi dengan masa lalunya.
__ADS_1
"Aku akan menemuinya." Pangeran Hilton melangkah, batinnya bercabang, entah memberitahukan kebenaran itu atau malah sebaliknya.
"Apa Pangeran sudah menemukan nona Shopia?"
Sejenak Pangeran Hilton menatap sang kesatria di sampingnya, lalu mengangguk samar.
Sesampainya di ruangan khusus itu. Pangeran Hilton membuka pintu bercat putih itu. Ia membuang nafasnya. Ruangan itu gelap hanya ada cahaya lilin di atas nakas. Hembusan angin melewati jendela terbuka itu membuat tirainya berombang-ambing, pantulan cahaya bulan pun memasuki jendela itu. Ia menguatkan hatinya melihat seseorang yang rapuh menghadap ke langit. Matanya melirik ke arah dinding, lukisan yang terbuka itu.
Kakinya melangkah berat, menghampiri laki-laki yang sedang bersendekap dan menyandarkan tubuhnya ke sisi jendela.
"Oh, tuhan ... dia sangat merindukannya. Aku memohon kuatkan hatinya."
"Baginda."
Deg
Untuk pertama kalinya, Kaisar Raymond menanyakan keadaanya. Apakah dia khawatir sebagai seorang kakak?"
"Aku baik Baginda," ujar Pangeran Hilton yang sangat senang karena Kaisar Raymond memperhatikan dirinya.
"Apa kamu sudah menemukannya?"
__ADS_1
Raut wajahnya menjadi cemas. Apa yang ia harus katakan? Ia harus memulainya dari mana? Oh Tuhan ..
"Aku sudah menemukannya, tapi dalam kehidupan berbeda."
"Maksud mu?"Kaisar Raymond tidak mengerti maksud adiknya itu.
"Setelah aku keluar dari istana, aku memiliki seorang teman. Dia baik, tapi wajahnya sangat dingin tak tersentuh oleh siapapun. Kemarin aku keluar menemui teman ku lagi." Pangeran Hilton menghentikan ucapannya. Ia tidak kuat meneruskan perkataannya.
"Apa Pangeran? Aku tidak mengerti."
"Dia bersama teman ku, Baginda."
Kaisar Raymond tersenyum, wajah yang dulunya mati. Kini seolah langsung hidup. "Dimana teman mu? Ayo kita jemput Permaisuri. Aku sangat berterima kasih pada teman mu." Ucap Kaisar Raymond yang semakin senang. Hatinya bagaikan ada ribuan kupu-kupu.
"Baginda tidak bisa menjemputnya, karena dia sudah mendapatkan kehidupan yang berbeda."
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Kaisar Raymond menelan ludahnya secara kasar, perasaannya tidak enak. Tubuhnya seolah terbakar. "Apa maksud mu?".