
"Baginda, Permaisuri sudah menikah dan sudah memiliki dua orang anak." Ucap Pangeran Hilton.
Hah
Kaisar Raymond mematung, hatinya terhempas ke dalam jurang yang paling dalam. Darahnya terasa panas dan mendidih. "A-apaa maksud mu?"
"Dia menikah dengan teman ku, Kaisar Xavier. Ada satu hal lagi yang perlu Baginda ketahui. Permaisuri Shopia bukanlah putri dari Duke Luke, melainkan putri dari Kaisar Metteo."
Mulut Kaisar Raymond terbuka, nafasnya tercekat di tenggorokannya. Air bening itu turun semakin deras. Menikah, jadi selama ini Permaisuri Shopia sudah menikah dan melupakan dirinya. Apa sedangkal itu cintanya untuknya?
"Dia pasti mencintai ku, mungkin dia menikah hanya untuk balas dendam saja. Aku bisa memahaminya, menikah saja bisa bercerai kenapa .... "
"Baginda, relakan kepergiannya. Biarkan Permaisuri Shopia. Maaf sebelumnya, dia sudah cukup menderita di istana. Ingatkah Baginda saat Selir Lusia datang ke dalam istana ini. Dia menahannya, dia tersakiti Baginda, tapi dia tidak pernah mencelakai atau berniat busuk pada Selir Lusia. Dia ingin Baginda bahagia, jadi aku mohon sebagai temannya yang sudah mengerti hidupnya selama di istana. Biarkan dia bahagia, sudah waktunya Baginda juga bahagia bersama Selir Lusia."
Kaisar Raymond diam membisu, tidak ada yang bisa ia ungkapkan. Bukan karena tak punya kata-kata, melainkan bibirnya terasa berat untuk di gerakkan. Dia belum rela dan ingin sekali memperbaikinya, menebus semua kesalahannya.
"Aku ingin memperbaikinya, aku ingin menebus kesalahan ku, Pangeran Hilton. Kenapa kamu tidak mau mengerti?"
"Aku bisa mengerti sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang adik. Aku mohon, tolonglah Baginda. Biarkan Permaisuri bahagia."
__ADS_1
"Keluar!" teriak Kaisar Raymond. Ia ingin melampiaskan semua rasa sakitnya.
"Baginda ... "
"Keluar!"
Pangeran Hilton memberikan hormat. Ia tahu, Kaisar Raymond butuh waktu untuk menerima semua kenyataan pahit itu. Seandainya Permaisuri Shopia belum menikah, ia pastikan kakaknya dan sahabatnya bersatu, tapi melihat senyumannya pada Kaisar Xavier dan mata indahnya mengatakan kalau semuanya sudah berubah.
"Kenapa? kenapa kamu meninggalkan ku, Shopia. Aku tahu aku salah, aku salah, tapi ...."
Arhg
Kaisar Raymond menjambak rambutnya. Ia membuang seprai di atas ranjang itu. Kemudian membuang vas bunga dan lilin di atas nakas itu hingga api menyala di atas seprai putih itu. Tak hanya itu, kegilaannya melemparkan lilin ke arah tirai putih itu.
Asap mulai keluar dari bawah pintu kamar itu. Seorang pelayan yang melewati ruangan itu seketika panik. Dia berteriak memanggil para pelayan. Hingga salah satu pelayan memberitahukan pada Pangeran Hilton. Tentu saja Pangeran Hilton bergegas menuju ruangan itu. Berkali-kali dia memanggil nama Kaisar Raymond. Namun yang di dalam tidak menyahut. Asap itu semakin banyak keluar dari bawah pintu.
Pangeran Hilton pun tak mau ambil resiko, ia menabrak pintu itu dengan kasar. "Baginda." Teriak Pangeran Hilton yang melihat Kaisar Raymond duduk di lantai menatap lurus ke arah api yang semakin membesar itu.
"Baginda." Pangeran Hilton memapah tubuh Kaisar Raymond keluar dari ruangan itu di bantu dengan Kesatria Luis. Ia membaringkan tubuh Kaisar Raymond di atas ranjangnya.
__ADS_1
"Panggil Dokter istana, cepat!" Perintah Pangeran Hilton.
Sementara di sisi lain.
Permaisuri Shopia tengah memanjakan Kaisar Xavier. Keduanya saling menempel, suara erangan dan erotis itu menggema di ruangan itu. Di bawah cahaya temaram dan angin memasuki jendela itu membuat keduanya panas dingin. Menerima desiran angin di sela-sela peluh yang membasahi tubuhnya dan panasnya suara yang berirama di bawah sana.
Sesekali Kaisar Xavier mencumbu bibir Permaisuri Shopia di sela-sela nada yang ia buat.
Uh
Permaisuri Shopia meremas kepala Kaisar Xavier, saat lidahnya bergoyang di salah satu bongkahannya yang menjadi Favoritenya selama ini. Menyesapnya seperti bayinya.
Emm
Kaisar Xavier menghentikan aktivitasnya, sejenak dia menjauhi mulutnya dari mainnanya. Namun, lajuan di bawah itu semakin cepat. Permaisuri Shopia memegang salah satu bongkahan yang di cecap oleh Kaisar Xavier. Ia merasakan air liur Kaisar Xavier membasahinya.
"Sayang."
Kaisar Xavier memindahkan mulutnya ke salah satu bongkahan yang belum dia cicipi itu. Permaisuri Shopia semakin mengerang dan mengerang. Kaisar Xavier membuatnya melayang dan menghempaskan tubuhnya saat keduanya mengalami kepuncak nikmatnya surga dunia.
__ADS_1
Uh
Kaisar Xavier menghempaskan kepalanya di antara dua bongkahan itu. Ia langsung melepaskan juniornya karena ia tidak mau kecolongan jika Permaisuri Shopia hamil. Bukan karena dirinya tak mau memiliki anak lagi, saat melihat Permaisuri Shopia kesakitan, bertarung nyawa mengeluarkan anak-anaknya. Saat itu hatinya begitu sakit. Ia tidak tega melihat buliran mata yang menjadi saksi kesakitan Permaisuri Shopia kala itu.