Hurt! Empress Shopia

Hurt! Empress Shopia
eps. 18 : Tuduhan Kaisar Raymond


__ADS_3

Kaisar Raymond membuka pintu kamar Permaisuri Shopia secara kasar. Matanya melihat sekeliling kamar bernuansa hijau itu. Permaisuri Shopia sangat menyukai warna hijau. Hingga perabotan, gorden dan catnya pun berwarna hijau.


Ekor mata Kaisar Raymond menangkap sosok yang ia cari. Ia melangkah, menemui Permaisuri Shopia yang sedang dengan bercanda dengan pelayan Elma. Sesungguhnya, ia merasa heran dengan keakrapan keduanya. Namun ia harus menepis keheranan itu. Bukan saatnya untuk heran, tapi ada sesuatu yang lebih penting.


"Permaisuri."


Kedua wanita itu mengehentikan gelak tawanya. Kemudian menoleh, Permaisuri Shopia dan Pelayan Elma saling melirik. Keduanya merasakan firasat yang tidak enak. Tatapan membunuh itu, tatapan yang sering Kaisar Raymond haus darah untuk setiap musuhnya.


"Keluar." Sentak Kaisar Raymond melirik pelayan Elma.


Sang pelayan melirik junjungannya, meminta ijin untuk kepergiannya. Dan langsung di anggukinya.

__ADS_1


"Ada apa Baginda?" Tanya Permaisuri Shopia dengan lembut. Di tariknya kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman manis.


Tapi kenyataannya, senyuman manis yang ia buat tidak meluluhkan kemarahannya.


"Apa maksud mu mendekati Selir Lusia?" Tanya Kaisar Raymond. Dia tidak percaya dengan sikap lembutnya dan selamanya tidak akan pernah mempercayainya.


"Apa maksud Baginda?" Tanya balik Permaisuri Shopia. Dia tidak mengerti apa maksud Kaisar Raymond.


Mata Permaisuri Shopia menajam. Tuduhan itu menusuk sangat dalam di hatinya. Ia tidak pernah memikirkan menyakiti Selir Lusia. Sekalipun wanita itu datang kembali pada Kaisar Raymond. Ingin sekali, ia menamparnya. Bukannya takut, tapi ia masih menghargai laki-laki di depannya sebagai suaminya. "Sedikit pun, seujung kuku pun. Aku tidak pernah berniat mencelakai Selir Lusia. Kebaikan ku, itu murni dari hati ku, Baginda. Jika kamu tidak menyukai ku, kamu tidak perlu menuduh ku seperti ini." Bibirnya bergetar, menahan umpetan di hatinya.


"Justru itu, aku tahu kamu tidak menyukai diriku yang memperlakukan Selir Lusia dengan baik. Permaisuri pasti memiliki tujuan. Jangan mencoba-coba menyentuh milik ku Permaisuri. Aku tegaskan, Selir Lusia adalah milik ku. Jika kamu menyentuhnya sedikit pun. Aku tidak akan tinggal diam."

__ADS_1


Hatinya langsung hancur seperti debu yang bertaburan entah kemana. Jiwanya seakan hilang dari raganya. Laki-laki yang selama ini ia cintai. Begitu tega menuduhnya demi cintanya. Sesakit bagaimanapun hatinya, pikirannya tidak pernah terbesit melakukan kejahatan pada Selir Lusia.


"Jauhi dia, aku tidak ingin kamu mencelakainya. Aku bukan laki-laki yang kamu bodohi."


"Sebenci itukah, Baginda pada diriku. Apa Baginda tidak bisa melihat ketulusan dan kebaikan ku."


"Jika aku jahat, aku sudah dari dulu menjahatinya." Permaisuri Shopia mencoba menjelaskan secara lembut. Baginya, kemarahan harus di balas dengan kelembutan.


Kaisar Raymond tersenyum sinis. "Aku tidak mempercayainya. Permaisuri tidak perlu membodohi ku atau membuat ku buta. Karena aku tahu, wanita yang cemburu bisa menjerumuskan ke dalam kejahatan. Bisa saja, Permaisuri melakukannya dengan bekerjasama dengan Duke Luke."


Tangan Permaisuri Shopia mengepal. Dirinya di tuduh, ia tidak masalah, tapi tidak untuk ayahnya. Duke Luke, begitu lembut. Seorang ayang yang selalu memperhatikan kelembutan untuk anaknya. Benar, ayahnya tidak menyukai Selir Lusia. Namun, ayahnya tidak pernah menyuruhnya berniat jahat. Bahkan sekalipun dia berniat jahat. Dia yakin, ayahnya memiliki sejuta kebaikan dan kelembutan yang tidak ada batasnya.

__ADS_1


Akan tetapi, laki-laki di depannya begitu tega menuduh ayahnya akan berbuat kejahatan. Orang yang pernah menolong takhtanya. Jika bukan karena ayahnya, laki-laki yang berstatus suami dan seorang Kaisar tidak akan pernah menduduki takhtanya.


__ADS_2