Hurt! Empress Shopia

Hurt! Empress Shopia
eps. 32 : Ketakutan Kaisar Raymond


__ADS_3

"Hah, kemana dia?" Permaisuri Shopia celinguk kanan kiri. Dia mencari laki-laki yang menurutnya gila. Dia lupa, kemarahannya tadi menolak di temani oleh pelayannya.


"Permaisuri ada apa?" Tanya pelayan Elma. Dari tadi ia mencari Permaisuri Shopia. Matanya tertuju pada pakaian hangat yang di kenakan oleh junjungannya. "Darimana Permaisuri mendapatkan pakaian hangat ini?"


Permaisuri Shopia baru menyadarinya. Aroma yang menenangkan itu masuk ke dalam hidungnya. "Tidak perlu di pikirkan, ayo kita kembali ke istana." Ucapnya tersenyum. Sejenak dia melihat sekelilingnya. Sedangkan yang di cari berada di atas pohon.


"Baginda, apa Baginda tidak berniat untuk kembali ke istana?"


"Ah. benar. Aku harus kembali ke istana. Kamu jaga dia, jangan sampai musuh Kaisar Metteo menemukannya. Nyawa mu taruhannya." Ucap Kaisar Xavier. Ia pun meloncat dengan gesit. Hingga sampai ke atas kudanya yang ia ikat ke salah satu pohon hutan belakang istana. "Aku pasti merindukannya."


Kaisar Xavier melajukan kudanya dengan cepat. Hatinya sangat berat untuk meninggal Permaisuri Shopia apalagi melihat keadaanya yang sangat membutuhkannya.


Sedangkan Permaisuri Shopia di ajak makan malam oleh pelayan Elma. Namun dia enggan menginjakkan kakinya ke ruang makan.


"Permaisuri."


Permaisuri Shopia menoleh, ia membuka pakaian hangatnya. Sekilas matanya melihat di jari manis tangan kirinya. Cincin yang melekat itu, pemberian laki-laki misterius yang akhir-akhir ini mengusik pikiran dan hatinya.

__ADS_1


"Permaisuri, cantik sekali cincin itu." Ucap pelayan Elma yang baru melihat cincin indah dengan ukiran bunga mawar.


Permaisuri Shopia tersenyum, ia mengiyakan perkataan sang pelayan.


"Cocok di tangan Permaisuri."


Dari arah pintu muncul dua pelayan. "Permaisuri, Permaisuri di tunggu oleh Baginda di ruang makan."


"Bilang saja aku lelah."


Kedua pelayan itu saling menatap. Kaisar Raymond sudah berpesan. Jika Permaisuri Shopia harus hadir mau atau tidak. Jika tidak hadir, acara makan malam tidak akan berlangsung.


"Bilang saja, Selir Lusia yang sudah menemaninya."


Kedua pelayan itu masih diam, ia bingung. Mana yang harus ia pilih.


"Kenapa diam? cepat pergi." Teriak Permaisuri Shopia. Kedua pelayan itu langsung pergi dengan tergesa-gesa. Baru kali ini mereka mendengarkan teriakan Permaisuri Shopia. Selama memasuki istana, Permaisuri Shopia tidak pernah berteriak pada siapapun. Dan dia, sangat di kenal dengan sejuta kelembutannya.

__ADS_1


"Dimana Permaisuri?" tanya Kaisar Raymond yang menunggu di kursi tengahnya sebagai kepala keluarga.


"Permaisuri tidak bisa hadir Baginda. Permaisuri hanya mengatakan, sudah ada Selir Lusia yang menemani Baginda."


"Hah,"


Kaisar Raymond menahan amarahnya. Baru kali ini Permaisuri Shopia tidak hadir dan baru kali ini dia menunggu kehadiran Permaisuri Shopia. Semenjak menikah dengan Selir Lusia. Dia tidak pernah memperhatikan Permaisuri Shopia hadir atau tidak di ruang makan.


"Ya, sudah kita makan saja." Ucap Kaisar Raymond melirik Selir Lusia yang menunduk.


Kaisar Raymond memasukkan nasinya ke dalam mulutnya. Baru dua sendok saja, ia sudah tidak bernafsu untuk meneruskan makan malamnya.


"Baginda, kenapa tidak di habiskan?" tanya Selir Lusia melihat nasi dan sup sayur di piring Kaisar Raymond.


"Aku tidak bernafsu, kamu habiskan makan malam mu. Aku ingin beristirahat, tubuh ku sangat lelah." Ucap Kaisar Raymond.


Selir Lusia menghabiskan makan malamnya. Ia yakin, Kaisar Raymond berada di kamarnya. Namun sesampainya di kamarnya, ia tidak melihat Kaisar Raymond di ranjangnya. Mungkin Kaisar Raymond tengah beristirahat di kamar utama.

__ADS_1


Sedangkan Kaisar Raymond, matanya menatap langit-langit. Kemarahan Permaisurinya membuat hatinya takut, tidak ada lagi Permaisuri Shopia yang memperhatikannya. Biasanya sebelum tidur, kedua tangannya akan memijat kepalanya dan mengelusnya. Hatinya sangat merindukan hari-hari itu, hari dimana Permaisuri Shopia sangat lembut.


__ADS_2