
Keesokan harinya.
Permaisuri Shopia membuka perlahan mata indahnya. Ia mengucek kedua matanya menggunakan tangan kanannya, menguceknya menggunakan jempol dan jari telunjuknya secara lembut. Setelah di rasa penglihatannya jelas. Dia beringsut duduk. Tangan kanannya masih berdenyut nyeri.
"Permaisuri." Ucap pelayan Elma yang muncul di ambang pintu. Gadis itu tersenyum seraya menuju ke arahnya. "Apa tidur Permaisuri nyenyak?"
"Lumayan,"
"Permaisuri, air hangatnya sudah siap." Tutur pelayan Elma. Sudah menjadi rutinitasnya, sebelum junjungannya bangun. Dia harus menyiapkan air hangat untuk menyegarkan tubuh Permaisuri Shopia.
"Ah, iya. Terima kasih Elma."
Permaisuri Shopia turun dari ranjangnya. Dia memasuki kamar mandi di ekori pelayan Elma. Sang pelayan itu pun dengan cekatan melepaskan piyama junjungannya.
"Emm, Elma. Aku ingin keluar." Ucap Permaisuri Shopia seraya mencelupkan kaki kanannya ke air hangat itu dengan taburan bunga mawar merah.
"Hati-hati Permaisuri." Pelayan Elma memijat punggung Permaisuri Shopia dengan lembut. Dia pun selalu waspada agar luka di tangan kanannya tidak terkena air.
__ADS_1
"Baiklah, sudah lama Permaisuri tidak keluar."
Tiga puluh menit telah berlalu.
Permaisuri Shopia keluar dari kamarnya dengan menggunakan gaun berwarna hijau dan topi putih yang melekat di atas kepalanya. Hari ini dia akan pergi piknik ke bukit yang sering dia kunjungi. Bukit itu terletak di perbatasan. Sehingga membutuhkan waktu sehari dan akan menginap di sebuah Villa Roselin, Villa megah yang tak jauh dari bukit. Terletak di wilayah Sian.
"Permaisuri, kamu mau kemana?." Seru Duke Luke yang sudah menunggu kedatangan Permaisuri Shopia. Niatnya untuk menemui putrinya karena ada urusan mendesak di istana. Kaisar Raymond menyuruhnya untuk menemuinya.
"Aku ingin keluar, Ayah. Sudah lama aku tidak keluar. Seperti biasa Ayah."
Duke Luke pun mengerti, putrinya pasti menuju ke tempat seperti biasanya.
Segurat raut sedih terlihat di wajah Permaisuri Shopia. Dia merindukan istana itu, bukan istana, tapi orang yang menduduki takhta itu. Entah bagaimana kabarnya? Rindu memang sangat barat. Kaisar Raymond tidak mungkin merindukan seperti dirinya.
"Apa kamu ingin ke istana?"
"Tidak Ayah, untuk hari ini saja aku ingin melepaskan sesuatu yang di hati ku. Setidaknya aku bisa menghilangkan walaupun sedikit, meskipun aku tidak yakin, Ayah." Lirihnya dengan luka yang mendalam.
__ADS_1
"Ayah berjanji akan membuat mu bahagia." Duke Luke sudah tidak sabar ingin membuat putrinya lepas dari Kaisar Raymond.
"Bersama Ayah, sudah membuat ku bahagia. Aku hanya memiliki ayah." Permaisuri Shopia tersenyum seraya memeluk Duke Luke.
"Ayah akan membuat mu melepaskan pernikahan itu."
Permaisuri Shopia pun membisu. Ia kembali mengingat surat perjanjian itu. "Tidak perlu repot-repot, Ayah. Sebenarnya ada sesuatu yang haru Ayah ketahui. Sebelum aku menikah dengan Baginda. Ternyata Baginda sudah membuat surat perjanjian. Dimana aku dan dirinua berpisah setelah kekasihnya kembali. Tanpa sengaja aku mendengarkan percakapannya dengan bawahannya. Aku pura-pura tidak tahu, tapi aku sudah mendatanganinya tanpa sepengetahuan dirinya. Jadi ayah tidak perlu susah payah. Kaisar Raymond yang akan melepaskan diriku."
"Jadi ini balasannya setelah aku membantunya. Baginda, akan aku ingat penghinaan ini." Duke Luke yang hendak meluncurkan letusan kemarahannya ke Kaisar Raymond. Namun di cegah oleh Permaisuri Shopia. "Ayah tidak akan mengambil langkah yang salah," ujar Permaisuri Shopia menahan pergelangan tangan Duke Luke. "Jangan membuat keributan, ini bukan apa-apa. Ayah percaya pada ku kan." Mohon Permaisuri Shopia. "Jika Ayah tidak bisa, tapi hormati permintaan ku sebagai perintah dari seorang Permaisuri."
Duke Luke menggertakkan giginya. "Kamu anggap apa hati ayah mu, Permaisuri Shopia. Ayah tidak akan menerima penghinaan ini. Ayah tidak akan tinggal diam saja. Lebih baik ayah mati dari pada harus membuat mu terluka. Putri ku, aku merawat mu, menyayangi mu sejak kecil. Saat Baginda Kaisar terdahulu memberi perintah ingin membuat mu menjadikan seorang Permaisuri. Hati ayah sakit, tidak ada seorang ayah merawat putrinya sejak kecil. Lalu memberikannya pada laki-laki lain. Saat ayah melihat mu menikah, saat itu juga hanya satu harapan seorang ayah. Kamu bahagia dan laki-laki itu membahagiakan mu, menggantikan posisi Ayah." Kecewanya tidak bisa ia tahan lagi pada putrinya.
"Kamu masih ingin mempertahankan pernikahan ini. Sungguh, kamu mengecewakan hati ayah, Permaisuri. Sampai kapan pun, Ayah tidak akan tinggal diam."
Duke Luke pun berjalan dengan tergesa-gesa. Dia menaiki kudanya, lalu menarik tali kuda itu agar melaju dengan cepat. Ia akan berbicara dengan Kaisar Raymond. Meskipun nyawanya adalah taruhannya.
Sedangkan Permaisuri Shopia, keretanya langsung melaju ke istana. Dia mengurungkan niatnya untuk meluangkan waktu istirahatnya. Ia harus mencegah sesuatu terjadi pada ayahnya. Bukan dirinya bermaksud tidak menghargai ayahnya. Tapi dia tidak ingin ayahnya gegabah mengambil keputusan. Ia sangat takut kehilangan ayahnya, Duke Luke.
__ADS_1
"Ayah, aku harap tidak terjadi sesuatu pada mu."