
Kaisar Raymond menahan air matanya, hatinya begitu sesak mendengarkan perkataan Permaisuri. Entah apa salahnya? Ia tidak tahu. Langkahnya pun berhenti. "Kamu boleh marah pada ku, tapi ingat, bersikaplah biasa saja di depan Selir Lusia. Aku tidak ingin dia menyalahkan dirinya."
Permaisuri Shopia tersenyum kecut, Kaisar Raymond begitu mengkhawatirkan Selirnya daripada dirinya. "Benar, aku hanyalah menikah karena perjodohan dan tidak boleh berharap lebih."
Tak terasa dua hari telah berlalu. Kaisar Raymond selalu meluangkan waktunya dengan Selir tercintanya, Lusia. Bahkan keduanya sempat menjadi perbincangan para pelayan. Seolah Permaisuri Shopia tidak lagi di sayang oleh Kaisar Raymond.
Permaisuri Shopia selalu tersenyum mendengarkan atau melihat Kaisar Raymond bersama Selir Lusia. Semenjak kejadian itu, Kaisar Raymond dan Permaisuri Shopia tidak lagi sering menyapa. Keduanya hanya menatap jika itu bertemu.
Dan Kaisar Raymond bersikap seperti biasa saja. Bahkan dia tidak sungkan bermesraan dengan Selir Lusia di depan Permaisuri Shopia.
Seperti saat ini, Kaisar Raymond langsung pergi dari hadapan Permaisuri Shopia. Tidak menyapa atau pun sekedar berbincang.
"Permaisuri."
Pelayan Elma merasa kasihan padanya. Seharusnya Kaisar Raymond tidak perlu mengumbarkan kemesraannya dan mengabaikannya. Kaisar Raymond tidak mau mengerti dengan keadaannya. Ia akan bilang pada Duke Luke. Ia berharap, Duke Luke bisa membantunya.
__ADS_1
Dari jauh, seorang pelayan menghampiri mereka. "Permaisuri."
"Ada apa?" tanya Permaisuri Shopia berusaha menahan tangisnya.
"Di luar ada Duke Luke."
Permaisuri Shopia berlari kecil, ia sangat merindukan ayahnya. Hanya orang itu yang menjadi sandarannya. Ia ingin melepas semuanya di hadapan sang ayah.
"Ayah."
"Permaisuri." Tangan yang tak lagi muda itu mengelus punggung putrinya dengan penuh kasih sayang. "Apa ada sesuatu yang mengganggu Permaisuri?"
"Tidak, Ayah. Aku hanya merindukan Ayah."
Duke Luke tidak yakin, ia mencari jawaban melalui pelayan Elma yang mengangguk. Saat itu lah dia tau, Permaisuri Shopia atau putrinya tengah ada masalah.
__ADS_1
"Jangan berbohong."
Permaisuri Shopia melepaskan pelukannya. Dia tidak ingin membuat pria paruh baya itu khawatir jika dirinya menjelaskan semuanya. Ayahnya pasti akan mendatangi Kaisar dan membuat keributan. "Aku tidak apa-apa, Ayah. Aku hanya merindukan Ayah saja." Jelas Permaisuri Shopia tersenyum meyakinkan.
"Aku ayah mu, aku tahu mana yang berbohong dan mana yang tidak. Bisakah Permaisuri menceritakan semuanya. Percayalah, saat Permaisuri berbohong. Hati ayah sakit, tidak bisakah seorang anak membagi untuk ayahnya."
Permaisuri Shopia semakin menangis, ia kembali memeluk ayahnya. Melanjutkan tangisannya. "Aku, aku ingin pulang ayah. Aku merindukan ibu dan ayah." Dia tidak bisa mengeluarkan semuanya, mengingat saja hatinya sudah hancur apa lagi mengatakannya. Ingin sekali ia menceritakan semuanya.
"Baiklah, ayo kita ijin pada Baginda."
Permaisuri Shopia menghapus air matanya, kedua kakinya melangkah beriringan dengan Duke Luke seraya bergandeng tangan.
Sesampainya di depan ruang kerja Kaisar Raymond. Kesatria itu tampak bingung, ia takut Permaisuri Shopia melihat kemesraan junjungannya dan benar saja. Kesatria itu mengantar hingga sebuah adegan ciuman dari Kaisar Raymond dan Selirnya.
Permaisuri Shopia menahan tangisnya, sedangkan Duke Luke mengepalkan tangannya. "Baginda."
__ADS_1
Duke Luke menatap putrinya yang menggeleng pelan. Entah terbuat dari apa hatinya? Hingga putrinya bisa tahan semua penghinaan ini.