
Permaisuri Shopia merasa jengah dengan sikap Kaisar Xavier. Sekali lagi, ia di buat pusing dengan kelakuannya, di sini masih kurang, di sana kurang. Padahal jika di lihat, lehernya sudah ada beberapa tanda. Mengingat adegan malam itu, membuatnya sangat malu. Kaisar Xavier tak berhentinya melihat ke cermin, apakah sudah bagus atau tidak.
Tadi malam ia kurang tidur, membuatnya ngantuk di perjalanan. Jam tiga pagi ia baru tidur, meladeni Kaisar Xavier yang tidak pernah puas. Tubuhnya seakan remuk, apa lagi bibirnya yang terasa bengkak.
Jam enam pagi ia sudah memutuskan akan menuju Kekaisaran Raymond bersama kedua anaknya.
"Sayang, ini masih kurang. Nanti hilang, jadi tidak bisa di lihat oleh Kaisar Raymond." Ucapnya menunjuk ke arah lehernya. Padahal lehernya masih segar ada tanda keunguan itu.
"Baginda, tanda itu tidak akan hilang sampai dua hari pun." Kesal Permaisuri Shopia, ia sangat sering mengalaminya. Tak heran jika ia sering menggerai rambutnya.
"Kamu tidak mau menuruti ku." Kaisar Xavier mulai merajuk.
"Aku tidak suka Baginda seperti anak kecil. Baginda hanya memikirkan diri Baginda sendiri." Ucap Permaisuri Shopia yang meledakkan kekesalannya. Tanpa ia sadari, perkataannya melukai Kaisar Xavier. Benarkah dia seperti anak kecil, benarkah dia hanya memikirkannya sendiri. Apa ia salah kalau ingin bermanja dengan istrinya.
Kaisar Xavier diam, ia memilih melihat ke luar jendela. Sedangkan Permaisuri Shopia juga melihat ke luar jendela, namun ia merasa janggal. Kaisar Xavier diam, tidak lagi berbicara.
"Baginda." Permaisuri Shopia menggenggam tangan Kaisar Xavier yang membuat sang empu menoleh.
"Ada apa?"
Permaisuri Shopia baru menyadari, perkataannya melukai Kaisar Xavier. Lihatlah wajahnya yang merasa sedih.
"Maaf."
"Kamu tidak salah, aku yang salah hanya mementingkan diri ku." Kaisar Xavier langsung memalingkan wajahnya.
Permaisuri Shopia langsung berjongkok di depan Kaisar Xavier. "Baginda."
Kaisar Xavier terkejut melihat Permaisuri Shopia yang berjongkok di depannya seraya menggenggam kedua tangannya.
"Maaf, aku tadi hanya emosi saja."
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan Permaisuri? Berdirilah, aku tidak pernah mengajarkan mu merendah pada siapapun."
"Aku merendah pada suami ku, apa aku salah? Aku merendah karena aku tulus mencintai Baginda. Apapun itu akan aku lakukan."
"Kamu tidak salah, berdirilah. Aku yang salah."
Permaisuri Shopia menggeleng pelan, ia bangkit dan sedikit membungkuk, mencium Kaisar Xavier. Ia tidak masalah dengan harga dirinya yang merendah, asalkan untuk Kaisar Xavier. "Maaf aku akan melakukannya untuk Baginda."
Permaisuri Shopia membuka dasi yang melingkar di leher Kaisar Xavier. Permaisuri Shopia langsung menyesapi leher itu, meninggalkan kiss marknya. Setelah di rasa cukup, Permaisuri Shopia menghentikannya, ia melihat ada tanda kembali. Bahkan lebih menghitam, lalu mengelusnya. Leher putih itu tak lagi putih, banyak sekali jejak yang ia tinggalkan.
Sedangkan Kaisar Xavier, menahan hasratnya yang menggebu-gebu. "Permaisuri." Serak Kaisar Xavier. Ia pun menarik tengkuk Permaisuri Shopia, melu*matnya, menyesapinya.
"Permaisuri." Lirihnya. Ia melanjutkan membuka tali di belakang Permaisuri Shopia, hingga membuat gaun itu perlahan merosot.
Kaisar Xavier pun langsung mencumbu leher Permaisuri Shopia. Puas dengan aksinya, memberikan jejak indahnya. Lidahnya turun ke arah dua bongkahan itu. Kedua tangannya pun membuka resliting celannya.
Kaisar Xavier menyingkap gaun milik Permaisuri Shopia. Mendudukinya ke atas pahanya.
Tak terasa keduanya pun sampai di halaman Duke Luke dengan wajah kelelahan. Kaisar Xavier tak merasa puas, ia terus menghujani milik Permiasuri Shopia dalam posisi duduk sebanyak dua ronde. Karena gaya itulah yang membuat Kaisar Xavier semakin ketagihan.
"Ibu, Ayah ada apa dengan wajah kalian?" tanya Pangeran Harsenz seraya menaikkan salah satu alisnya. Wajahnya terlihat lelah, apa lagi melihat ibunya, rambutnya dan gaunnya seperti acak acakan.
"Tidak ada sayang, ibu hanya lelah. Oh iya, temani adik mu bertemu dengan kakek," ucap Permaisuri Shopia mengalihkan pembicaraannya.
Pangeran Harsenz mengangguk, "Ayo!"
"Kakek!" Teriak Putri Alice yang langsung berlari.
Pintu kediaman Duke terbuka lebar, seorang pria yang tak lagi muda berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya, menyambut sang cucu yang sangat ia rindukan. Selama lima tahun ini, hanya satu kali pertemuan mereka, itu pun saat kedua cucunya berumur tiga tahun. Bukannya karena malas atau tidak sayang untuk menemui mereka, tapi karena ia takut mengundang kecurigaan Kaisar Raymond. Demi rasa rindunya, ia hanya mengirimkan surat melalui Kaisar Metteo.
"Cucu Kakek." Putri Alice memeluk leher Duke Luke dengan erat.
__ADS_1
"Pangeran Harsenz, sini nak." Pangeran Harsenz pun ikut memeluk Duke Luke.
Duke Luke melepaskan pelukan kedua cucunya. "Ayo masuk! kita bicara di dalam.""
Permaisuri Shopia mengangguk, ia melirik Kaisar Xavier yang tersenyum.
Huh, di saat lelah seperti ini. Dia masih bisa tersenyum.
Mereka pun menuju ruang tamu, Duke Luke tak melepaskan kedua tangan mungil itu yang menggenggam jari telunjuknya. Betapa senangnya ia melihat kedatangan cucu dan putri mereka serta Kaisar Xavier yang mengunjunginya.
Pangeran Harsenz dan Putri Alice sangat antusias berceloteh dengan Duke Luke yang juga menanggapinya dengan serius dan di iringi tertawa. Kedua cucunya tumbuh sehat dan menggemaskan, apa lagi mendengarkan keduanya berceloteh riang.
Kaisar Xavier melihat pemandangan di depannya, merasa beruntung. Hidupnya yang gelap perlahan ada cahaya warna warni. Ia melirik istrinya yang tersenyum menatap Duke Luke dan kedua anaknya.
Permaisuri Shopia menoleh, merasakan seseorang yang menggenggam tangan kirinya. "Terima kasih, karena sudah memberikan warna warni dalam kehidupan ku."
Permaisuri Shopia memejamkan matanya, sebagai isyarat mengiyakan. Ia pun menggenggam tangan Kaisar Xavier. "Terima kasih, karena sudah menjadi suami yang baik."
Ekhem
Keduanya pun tersadar, lalu menoleh ke arah Duke Luke yang tersenyum.
"Terima kasih karena sudah menjaga putri ku, Baginda."
"Tanpa Duke minta pun, aku akan menjaganya untuk hidup ku."
Duke Luke menatap terharu, tanpa sengaja dia meneteskan air matanya.
"Ayah ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, emm, aku mau meminta bantuan ayah, untuk ... untuk mengirimkan surat pada Kaisar Raymond," ujar Permaisuri Shopia.
Duk Luke terkejut, ia bingung dengan perkataan Permaisuri Shopia. Ia beralih menatap Kaisar Xavier yang hanya diam dan mengangguk, ada rasa kecewa di wajahnya.
__ADS_1