
Selir Lusia mondar mandir di depan ranjangnya, ia memikirkan bagaimana cara terakhirnya untuk mengikat Kaisar Raymond dengan Permaisuri Shopia. Ada rasa berharap dan tidak berharap. Entahlah, hatinya sangat bingung. Sesekali dia menengok ke arah ranjangnya, melihat Kaisar Raymond sudah siuman apa belum.
Samar-samar, dia mendengarkan lenguhan Kaisar Raymond. Selir Lusia langsung menghampiri ranjangnya. "Baginda, sudah siuman," ujarnya tersenyum.
Dahi Kaisar Raymond mengernyit, bukankah tadi dia bersama Permaisuri Shopia. Lalu kenapa sekarang berada di kamar Selirnya. "Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Kaisar Raymond kebingungan. Ia mencoba mengingat di sela-sela kepusingannya. Saat itu ia hendak menyentuh Permaisuri Shopia di atas kemarahannya. Namun tiba-tiba dia merasa pusing.
Selir Lusia membuang nafasnya. "Tadi, Permaisuri datang kesini. Dan mengatakan, Baginda merasa tidak enak badan. Lalu meminta untuk di antarkan kesini." Tutur Selir Lusia tanpa mengurangi sedikitpun perkataan Permaisuri Shopia.
"Apa? aku tidak pernah mengatakannya." Teriak Kaisar Raymond.
"Dan juga Dokter istana mengatakan, jika Baginda terkena obat tidur."
"Beraninya, dia." Kaisar Raymond menyingkap selimutnya secara kasar. Lalu melangkah dengan tegas menuju kamar Permaisuri Shopia. Sesampainya di sana, dia melihat Permaisuri Shopia yang tengah bersantai menikmati sore hari di balkom.
"Permaisuri." Teriak Kaisar Raymond.
__ADS_1
Permaisuri Shopia yang memejamkan matanya, merasa terganggu akibat teriakan Kaisar Raymond. Hatinya kembali menjadi kacau, padahal dirinya baru saja merasa tenang dan menikmati pancaran sinar sore dan semilir angin.
"Kamu sudah menghina ku."
"Apa hukumannya di gantung diri? Di asingkan atau masih ada hukuman yang lainnya." Ucap Permaisuri Shopia seraya memutar tubuhnya. Menatap pria yang sedang di hantui oleh kemarahan.
"Tentu saja, Permaisuri menghina ku. Pada saat aku menyentuh mu. Dengan beraninya, kamu menghindari ku menggunakan obat tidur."
kenapa aku ingin merutuki kebodohan laki-laki itu? Entah apa yang harus dia katakan?
"Lalu kenapa?" Tanya Permaisuri Shopia dengan santai. Melihat kedatangan Selir Lusia. Tiba-tiba dia memiliki ide.
"Lihat, hati Selir Lusia sangat tulus. Dia tetap menyuruh ku berbuat adil."
Permaisuri Shopia memejamkan matanya, ia siap mendengarkan ocehan kedua orang di depannya. Keadilan baginya tidak berarti, jika dia tahu semuanya akan seperti ini. Dia tidak akan mau menikah dengan Kaisar Raymond. Tetapi dia sekarang sudah terlanjur, ia tidak boleh hanya memikirkan perasaannya. Masih ada ribuan nyawa yang juga menjadi tanggung jawabnya. Ia berharap, Selir Lusia secepatnya menguasai pendidikan bangsawan.
__ADS_1
"Permaisuri aku mohon, cobalah memulai hidup yang baru. Kita bertiga akan hidup bahagia."
Entah ingin tertawa atau bersedih, ia tidak tahu. Hidup bahagia di atas kertas. Seandainya dulu Kaisar Raymond tidak berniat menceraikannya dan memberikan sebuah perjanjian. Dengan senang hati, dia akan menerima.
"Betapa baiknya Selir Lusia pada kita."
Dada Permaisuri Shopia semakin memanas, baik. Lalu apa dirinya jahat.
"Permaisuri harus bijaksana."
"Aku harus apa Baginda, baik aku akan menjelaskan semuanya. Pertama tentang masalah rela. Baginda mengatakan Selir Lusia sudah merelakan waktu Baginda untuk diriku. Sekarang aku ingin bertanya, apa dari dulu aku tidak rela membagi waktu Baginda dan Selir Lusia. Apa dulu aku tidak rela saat Baginda mengatakan jika Baginda akan menikahi Selir Lusia. Sekarang aku bertanya siapa yang ada di posisi merelakan."
"Kedua, adil. Baginda, aku ingin rasanya menangis saat mendengarkan kata adil itu. Aku tidak pernah meminta Baginda berbuat adil. Bahkan aku tidak mencegah Baginda bersama Selir Lusia. Adil, Selir Lusia ingin membuat Baginda adil. Menurut ku, tidak akan ada kata adil di antara kita. Bahkan aku rela dan juga adil tanpa meminta hak ku. Aku membiarkan kalian bersenang-senang tanpa ada yang menghalangi."
"Ketiga, hidup Bahagia. Tidak akan ada yang namanya hidup bahagia." Ucap Permaisuri Shopia. Kukunya hingga menancap di kulit putihnya. Tulisan itu menari-nari di otaknya. "Disinilah aku korbannya bukan kalian. Dan aku merelakan semuanya, ya semuanya. Kedudukan di istana dan kedudukan di hati Baginda."
__ADS_1
"Aku harap Selir Lusia secepatnya memahami pendidikan bangsawan dan mempelajari tanggung jawab sebagai seorang Permaisuri."
"Permaisuri Shopia jaga batasan mu." Teriak Kaisar Raymond.