
Sinar matahari telah memasuki jendela. Seorang laki-laki dengan setianya berdiri di depan kaca itu. Semalaman dia berdiri, mulai menatap langit sampai sebuah sinar menyinari tubuhnya. Hatinya di rundung pilu, malam itu ia menemui Duke Luke. Ia kembali memaksa ayah dari mantan istrinya agar memberitahukan kepergian mantan istrinya. Laki-laki itu tetap keukeh tidak tahu keberadaan mantan istrinya. Ia sudah mencarinya ke setiap sudut rumah kediaman Duke, tapi tidak ada jejak sama sekali. "Shopia, sebenarnya kamu di mana? Maafkan aku,"
"Baginda,"
Kesatria Luis memberikan kode pada ketiga pelayan agar meletakkan sarapan untuk Kaisar Raymond di atas meja. "Waktunya sarapan Baginda,"
"Aku kenyang Kesatria Luis. Menurut mu dia ada di mana?" Tanya Kaisar Raymond.
Kesatria Luis pun bingung, sejujurnya ia tidak tahu di mana Permaisuri Shopia. "Mungkin, Nona Shopia ingin menyendiri dulu Baginda."
"Menyendiri, aku terlalu menyakitinya." Gumam Kaisar Raymond. "O iya, kamu panggil Dokter istana untuk memeriksa kandungan Selir Lusia. Aku tidak mau terjadi sesuatu."
"Baginda, apa Baginda mencintai Selir Lusia?"
"Aku juga mencintainya dan juga mencintai Permaisuri Shopia, tapi sepertinya perbuatan ku pada Permaisuri Shopia sangat keterlaluan. Dulu, aku berniat menceraikannya, tapi sekarang aku ingin membuatnya bersama ku, menua bersama ku. Aku ingin adil pada kedua istri ku, namun sepertinya dia sangat kecewa."
Kesatria Luis menghembuskan nafas lelahnya. Kehidupan Kaisar Raymond sangat rumit sampai ia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi.
"Baiklah, aku akan menemui Selir Lusia." Kaisar Raymond berjalan menuju kamar Selir Lusia, namun sampai di luar pintu saat tangannya hendak membuka handle pintu itu. Samar-samar dia mendengarkan sesuatu. Kaisar Raymond menghentikan tangannya, karena penasaran, ia membuka sedikit pintu itu. Melihat Selir Lusia yang berbicara dengan pelayan setianya.
"Bagaimana jika Baginda mengetahuinya? Aku tidak mau Baginda mengetahuinya. Aku takut, nona Shopia memberitahukan kebenarannya." Gumam Selir Lusia dengan nada cemas.
"Tidak mungkin Selir, Baginda tidak akan tahu. Saya mendengar kabar jika nona Shopia menghilang."
"Aku takut, aku takut Baginda mengetahui. Jika aku hanya berpura-pura menjatuhkan diri."
__ADS_1
brak
Kaisar Raymond menendang pintu putih itu, hingga terbelah menjadi dua.
Selir Lusia dan sang pelayan terkejut, mata keduanya membulat.
"Apa yang kamu katakan tadi? kamu berpura-pura menjatuhkan diri artinya kamu menjebak Permaisuri?"
Selir Lusia menunduk ketakutan. Kaisar Raymond pasti memarahinya bahkan menyalahkannya. "Ta-tapi Permaisuri juga menyetujuinya, Ba-baginda."
"Apa? kamu bersekongkol dengan Permaisuri."
"Benar, Baginda. Tidak sepenuhnya Selir Lusia salah." Timpal sang pelayan yang membela Selir Lusia.
"Baginda, baginda." Selir Lusia turun dari ranjangnya. Menggenggam lengan Kaisar Raymond. "Maafkan aku Baginda."
Kaisar Raymond menghempaskan tangan Selir Lusia dengan kasar. "Aku sangat kecewa pada mu, Selir Lusia. Setelah melahirkan, aku akan mengurung mu di istana belakang. Anggap saja, itu hukuman untuk mu."
.
.
.
Di sisi lainPermaisuri Shopia membuka matanya. Hidungnya menghirup sesuatu yang asing, namun terasa nyaman. Ia melirik ke sampingnya, mendapati seseorang yang tengah berbaring dan memeluk tubuhnya.
__ADS_1
Permaisuri Shopia mengangkat tangan di atas perutnya. Kemudian membalikkan tubuhnya secara pelan, menghadap Kaisar Xavier yang tertidur pulas.
Ia tersenyum, melihat bentuk wajahnya. Laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak. Meskipun masih ada sedikit rasa cinta dari Kaisar Raymond. Ia harus membuangnya menggantikan sosok Kaisar Xavier.
Permaisuri Shopia mengelus pucuk kepalanya, tadi malam ia mengelusnya, entah mengapa seperti candu bagi tangannya. Rambutnya yang lebat dan hitam berkilau.
Emm
"Shuut ... "
Permaisuri Shopia mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Hatinya nyaman dan hangat.
Sedangkan Kaisar Xavier yang merasa sentuhan lembut itu tersenyum. Sebenarnya ia sudah bangun, hanya saja ia masih betah memeluk Permaisuri Shopia, tetapi melihat mata Permaisuri Shopia bergerak. Buru-buru, ia kembali memejamkan matanya.
Kaisar Xavier membenamkan kepalanya di dada Permaisuri Shopia, sedangkan yang di peluk pun menegang. Sesat kemudian, ia merasakan kembali sentuhan hangat tangannya di atas kepalanya.
"Tidurlah."
Tangannya tak pernah lelah mengusap lembut kepalanya. Lalu ke punggungnya. Ia berharap pernikahan ini yang terakhir, mencintai dan menyaynginya.
#O iya, akan ada cerita baru yaa kak. Cerita di mana seorang Grand Duke mengejar kembali cinta istrinya..
Covernya sudah ada, entar nyusul ketikannya saja. Jangan lupa tombol like + Favoritenya
__ADS_1