
Sapaan Angin malam berhembus, menelusuk di ceruk leher wanita yang sedang bersendekap di atas balkom. Berkali-kali ia mengelus kedua lengannya. Namun air matanya yang indah dan lembut itu terus membanjiri kedua pipi putihnya. Bola mata berwarna biru setenang air laut itu pun tak lagi ada ketenangan justru keguncangan yang mendalam.
"Apa yang harus aku lakukan?" Laki-laki yang tak lagi muda itu pun bingung bukan kepalang. Matanya melihat ke atas balkom seraya bersendekap. "Apa yang harus aku lakukan?" Lagi-lagi pertanyaan itu yang terus muncul di kepalanya.
"Apa aku harus memberitahukan Baginda?"
Tidak ada pilihan lain, ia harus memberitahukan semuanya. Bahwa putrinya ada di masa yang sulit. Baru beberapa bulan dan tidak genap satu tahun menikah. Rumah tangganya sudah di terpa kehancuran.
Duke Luke langsung bergegas menuju ruang kerjanya. Tangannya dengan cekatan mengambil pena di sisi samping kanannya. Hampir 30 menit tangan itu berkutat di atas kertas putih itu. Duke Luke melipat kertas itu lalu memasukkan ke amplop di tangannya.
"Pastikan surat ini tepat berada di tangan Baginda." Seru Duke Luke yang kemudian di angguki oleh Kesatrianya.
"Aku harap, Baginda menjemput mu, Permaisuri. Cepat atau lambat, kamu akan tahu semuanya. Aku tidak bisa menyimpannya lagi." Duke Luke menerawang jauh. Dia kembali teringat kejadian 20 tahun lalu. Dimana anak kecil itu masih ada dalam gendongan ibunya. Dengan berat hati ibunya sekaligus keponakaannya memberikan putri kecil itu ke tangannya. Peperangan persaudaraan mengakibatkan putri dan kedua orang tuanya harus berpisah dan sampai saat ini putri itu masih belum tahu siapa jati dirinya. Karena masih banyak musuh sang ayah yang berkeliaran dan belum di ketahui. Demi melindungi nyawanya, dia harus merawat putri dari Kaisar Metteo. Kebetulan saat itu putrinya baru meninggal, Dia dan istri tercintanya sepakat menukar putrinya yang tak bernyawa demi putri yang masih bernyawa. Namun menentang bahaya. Akhirnya dengan mudahnya mengelabui jika putri dari Kaisar Metteo telah meninggal. Dan semenjak itu, identitas putrinya tertutup rapat. Untung saja, Kaisar Raymond dan Kaisar Metteo tidak saling mengenal.
__ADS_1
"Aku pastikan kamu bahagia putri kecilku." Duke Luke mengusap wajahnya. Ia beranjak pergi menemui Permaisuri Shopia yang sudah ia anggap anak sendiri dan sangat mencintainya.
"Permaisuri."
Duke Luke merasakan kesedihan yang begitu luar biasa di mata buah hatinya. Ia tidak tega, mungkin dengan cara seperti ini. Putrinya yang sekarang menjadi Permaisuri bisa bahagia. Setidaknya putrinya itu menemukan kebahagian lain lewat dari kedua orang tuanya.
"Ayah."
Permaisuri Shopia melepaskan pelukannya. "Maksud ayah apa?" Raut wajahnya terlihat jelas kebingungan. Bukankah di depannya adalah ayahnya. Lalu ayah dari mana yang di maksud laki-laki yang saat ini berstatus adalah ayahnya?
Duke Luke hampir keceplosan. Dia tidak boleh gegabah membeberkan identitas Permaisuri Shopia sebelum ada perintah yang menegaskan siapa dirinya. Bisa-bisa, Permaisuri Shopia berada dalam bahaya. "Maksud ayah, ya ayah sendiri," ujar Duke Luke seraya mengelus pucuk kepala Permaisuri Shopia.
"O,"
__ADS_1
Permaisuri Shopia tak berfikir panjang lagi. Duke Luke memang adalah ayahnya.
"Sebaiknya Permaisuri istirahat. Di kediaman Duke, Putrinya ayah tidak boleh sedih. Yakinlah, suatu saat kamu akan bahagia."
"Benar, aku harus kuat dan sabar. Aku tidak boleh lemah."
Iya sayang, kamu tidak boleh lemah. Ayah dan Ibu mu sangat kuat, bukan dalam artian kuat tubuhnya, tapi mereka kuat hatinya. Bertahun-tahun mereka tidak melihat mu. Bertahun-tahun mereka merindukan mu. Demi dirimu, Permaisuri. Jangan sia-saikan pengorbanan kedua orang tua mu sayang.
Air mata itu keluar seiringnya dengan perkataan hatinya. Tangan kekarnya kemudian mendekap kembali tubuh Permaisuri Shopia.
Sementara di tempat lain.
Seorang laki-laki tengah memandu kasih dengan istri kesayangannya. Dia pun melupakan istri pertamanya yang sudah menyandang status seorang Permaisuri sedang menangisi kehidupan rumah tangganya.
__ADS_1