
"Baginda." Selir Lusia langsung berhambur memeluk tubuh kokoh itu. Ia tidak peduli dengan kemarahan Kaisar Raymond. Sekalipun tubuhnya di dorong kasar. "Baginda, kita akan mencarinya, maaf-maaf." Selir Lusia menghujani kecupan di kepala Kaisar Raymond yang menangis.
"Aku berjanji."
"Dia pergi, aku rapuh, aku rapuh."
Selir Lusia menyesal, seandainya ia tidak egois, mungkin Kaisar Raymond tidak akan hancur. Kehidupan keluarganya akan bahagia meskipun ada orang ke tiga. Ia mendekap tubuh Kaisar Raymond, bersyukur tidak ada penolakan darinya.
"Baginda, bebaskan Pangeran Hilton. Mungkin dengan cara itu, Pangeran Hilton akan membantu kita mencarinya."
Kaisar Raymond menghentikan tangisannya, "Benar, dia bisa membantu ku. Walaupun sebenarnya aku enggan melakukannya." Kaisar Raymond bangkit, ia berjalan keluar menuju tahanan.
__ADS_1
"Baginda." Seru Pangeran Hilton berjalan menuju pintu jeruji besi itu. Dia menatap Kaisar Raymond yang tampak kacau. Bulu-bulu di dagunya tampak lebat. Matanya memerah, seperti seorang menangis.
"Aku membebaskan mu,"
"Kakak." Entah angin apa, ucapan itu keluar dari mulut Pangeran Hilton.
"Jangan panggil aku, Kakak. Aku bukan Kakak mu, heh. Jangan kamu sangka aku datang ke sini karena menerima mu sebagai adik ku. Tidak, tidak, aku melakukannya agar kamu membantu ku mencari Permaisuri."
Deg
"Aku bercerai dengannya, maka dari itu aku meminta bantuan mu untuk mencarinya dan membawanya pulang ke istana." Ucap Kaisar Raymond dengan nada rendah.
__ADS_1
Pangeran Hilton meremas jeruji besi itu, ia ingin sekali mencekik Kaisar Raymond. "Aku memberikannya pada mu untuk kamu bahagiakan, bukan untuk di sakiti. Dimana hati nurani mu Baginda, jika tidak mencintainya, hormati dia sebagai istri mu, tapi kamu ,," Bibirnya terasa berat melanjutkan ucapannya. Ia terima Kaisar Raymond tidak mengakuinya, tapi tidak membuat pujaan hatinya menangis.
"Aku tidak ada waktu meladeni, bantu aku mencari Permaisuri, maka aku akan mengakui mu sebagai adik ku." Tegas Kaisar Raymond berlalu pergi.
Ibu, ayah sampai kapan Kaisar Raymond akan mengakui ku. Aku minta maaf jika kedatangan ibu ku dan aku membuat kakak bersedih. Permaisuri, kapan kakak akan mengakui ku batin Pangeran Hilton. Meskipun Kaisar Raymond tidak mengakuinya, tapi tidak dengan Permaisuri, ibu Kaisar Raymond. Wanita itu tetap mengakuinya sebagai putranya.
Hari telah berganti, bulan pun terus berganti. Tak terasa sudah lima tahun pencarian Pangeran Hilton dan Kaisar Raymond yang tidak membuahkan hasil. Pangeran Hilton selalu melaporkan pada Kaisar Raymond. Tanpa keduanya sadari, pencarian Permaisuri membuat keduanya semakin akrap. Tidak ada lagi rasa benci di hati Kaisar Raymond. Meskipun ia belum mengakui sepenuhnya Pangeran Hilton sebagai adiknya, tapi hatinya ada rasa sedikit iba dan sayang.
Sedangkan Selir Lusia, ia bersabar. Hanya ada senyuman di balik kesedihannya. Semenjak mengandung sampai melahirkan. Kaisar Raymond hanya sebatas menemuinya bukan menemaninya. Apalagi melihat Kaisar Raymond lebih menyayangi putranya dari pada dirinya. Meskipun kedua mata putranya buta. Kaisar Raymond menerima dan tetap menyayanginya. Sedangkan dirinya sebagai seorang ibu, tidak ada lagi sentuhan hangat, hanya ada ucapan lembut di bibirnya. Kadang ia merasa tidak ada gunanya hamil dan melahirkan. Ia lelah dengan sikap Kaisar Raymond yang mengabaikannya, meskipun ada kelembutan di bibirnya saja.
Setiap harinya ia sibuk mendekati Kaisar Raymond. Berharap laki-laki itu akan menyentuhnya kembali, namun tidak. Kesabarannya tidak berbuah manis. Kaisar Raymond lebih mengutamakan putranya daripada dirinya. Sehingga ia memanfaatkan putranya mendekati Kaisar Raymond. Kadang ia iri pada putranya yang mendapatkan kelimpahan kasih sayang. Seperti saat ini, matanya menatap tak suka pada putranya itu.
__ADS_1
"Baginda lebih menyayanginya dari pada aku, aku yang melahirkan, aku yang mengandung, tapi aku ... "
"Bersabarlah Selir, Baginda pasti akan mencintai Selir." Nasehat sang pelayan. Kadang ia juga merasa kasihan pada Pangeran kecil itu. Selir Lusia sering mengabaikannya.