
Permaisuri Shopia memutar tubuhnya. Menatap bangunan megah itu. Tugasnya sudah selesai walaupun di penuhi hati terluka.
"Putri ku," Duke Luke meraih bahunya. Menguatkan putrinya yang akan berganti status menjadi putri dari Kekaisaran Metteo. "Ada orang penting di hidup mu yang ingin bertemu dengan mu." Ucapnya di angguki oleh Permaisuri Shopia dengan senyuman manisnya.
Di saat luka seperti ini, dia masih tersenyum. Violeta, dia mirip dengan mu.
Kereta istana itu pun keluar menuju ke kediaman Duke. Sepasang mata di dekat jendela, menghadap ke luar jendela. Pikirannya menerawang jauh, ia memegang dadanya yang terasa perih. Rasanya baru kemarin dia bersama Permaisuri Shopia.
"Apa aku salah mengambil keputusan ini?" Kaisar Raymond memejamkan matanya. Berusaha berfikir dengan kepala dingin. Benar, hatinya mengatakan salah. "Aku tidak bisa membiarkannya pergi.
Kaisar Raymond keluar dengan langkah lebar. Dia berteriak, menyuruh kesatria Luis menyiapkan kuda. Agar lebih cepat mencegah kereta kuda itu untuk sampai ke kediaman Duke.
"Tunggu Baginda," teriak Selir Lusia yang berhasil menurunkan kaki Kaisar Raymond.
"Ada apa Selir Lusia, aku tidak memiliki banyak waktu." Decak Kaisar Raymond. Karena dirinya harus mencegah kereta kuda istana yang mengantar Permaisuri Shopia.
"Jangan lakukan ini, biarkan Permaisuri Shopia pergi, maksud ku Nona Shopia. Biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri. Sama dengan kita Baginda."
__ADS_1
Kaisar Raymond menggeleng, separuh nafasnya ada pada Permaisuri Shopia. Jadi dirinya tidak akan membiarkan Permaisuri Shopia pergi.
"Jangan egois Baginda." Tegas Selir Lusia.
"Seharusnya kamu senang atau jangan-jangan kamu hanya berpura-pura menjatuhkan diri." Tuduh Kaisar Raymond membuat Selir Lusia tak berkutik sama sekali. Raut wajahnya sangat cemas, ia tidak akan mengakuinya, meskipun dirinya juga salah.
"Ti-tidak Baginda, Permaisuri memang mendoro ..."
"Cukup Selir Lusia, aku tidak menyangka kamu melakukan hal keji seperti ini. Aku buta, aku buta akan cinta ku pada mu. Sampai aku tidak membedakan mana yang salah dan benar. Aku kecewa pada mu, kecemasan mu, ketakutan mu yang terbentuk di wajah mu. Membuktikan jika kamu juga bersalah." Kaisar Raymond menggusar kepalanya secara kasar. Dia begitu bodoh mengikuti permainan Selir Lusia.
"Apa maksud mu?"
"Permaisuri juga menyetujui permainan ini, tapi ..."
"Kamu kira aku bodoh, hah." Teriaknya. Dia tidak peduli meskipun ada pelayan atau orang lain yang mendengarkan pertengkarannya. Ia sungguh kecewa, wanita yang ia bela mati-matian. Saat para bangsawan beradu mulut dengannya karena tidak setuju dengan pernikahannya.
"Arghh .... "
__ADS_1
"Baginda,"
Selir Lusia menangis, air matanya akan membuat Kaisar Raymond luluh, tapi hari ini, tidak ada tanda-tanda Kaisar Raymond luluh. "Baginda,"
"Permaisuri Shopia ingin bercerai dengan ku, tapi dia tidak akan bodoh mengorbankan nama baiknya."
Kaisar Raymond menaiki kudanya. Namun tangan Selir Lusia berhasil menghentikannya kembali. "Aku mohon Baginda, aku mohon jangan lakukan ini. Biarkan Baginda dan Nona Shopia menjalani kehidupan masing-masing."
"Kamu egois Selir Lusia, kamu egois. Kamu tidak memandang pengorbanannya. Wanita yang selalu lembut dengan ku. Tersenyum pada ku, dia menerima mu dan dia tidak pernah menuntut ku untuk berbuat adil, tapi apa? Kamu melakukan perbuatan keji untuk menjatuhkannya. Dimana Lusia yang aku kenal dulu."
"Ini semua demi Baginda demi anak kita. Aku takut Baginda, aku takut mencintainya."
"Argah !!! Aku sangat kecewa,"
"Baginda, biar saya saja yang menyusul Permaisuri. Baginda selesaikan dulu permasalah Baginda dengan Selir Lusia." Ucap Kesatria Luis.
Kaisar Raymond mengangguk, salah satu dari mereka harus mencegahnya. "Baik, ini perintah ku. Bawa Permaisuri ke istana. Dan aku akan menyelesaikan urusan ku dengan Selir Lusia." Tandas Kaisar Raymond seraya menarik pergelangan lengan Selir Lusia dengan kasar.
__ADS_1